Cerita saat
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) belumlah usai. Tidak seperti ceritaku
bersama Lidia. *baca gadis pembawa tornado*. Yang tadinya aku pikir bakal
membosankan tapi ternyata sangat menyenangkan. Diawali dengan awal
keberangkatan menuju tempat LDKS.
Setelah ribut
menentukan tempat duduk didalam bis, kami akhirnya bisa duduk tenang meski
harus menikmati udara panas layaknya digurun sahara. Bisnya sudah tak layak
pakai, harusnya ini bis dimusiumkan aja sebelum menimbulkan korban jiwa.
Saat perjalanan
ada salah satu dari kami yang muntah. Parahnya lagi gak ada yang nyediain dia
plastik untuk menampung muntahnya itu. Jadi dia muntah lewat jendela. Yang
parahnya lagi, itu muntah kena pengendara motor. Bisa dibayangkan giman
arasanya tuh pengendara motor dapat rejeki yang tak terduga seperti itu. Dia
gak bakal bilang “terima kasih tuhan” yang ada dia malah bilang “Oi laknat.
An*ing. J*ancok”. Apa aku bilang, menimbulkan korban jiwa kan? Harusnya itu bis
dimusiumkan aja dari pada menimbulkan lagi korban kecipratan muntah.
Setelah 2 jam
lamanya kami berada didalam bis roksokan itu, akhirnya kami sampai di tempat
LDKS dengan diiringi guyuran hujan dan suara petir yang menggelegar. *huiiih*.
Aku kira ketika hujan gini bakal jadi keringanan. Keringanan untuk sampai
kepenginapan dengan tetap kering. Tapi ternyata tidak. Turun dari bis kita
langsung dibariskan layaknya para militer yang akan mengikuti apel. Lalu trainernya
teriak “ayo ikuti saya”.
Kita masuk
kehutan yang uda becek gak ada ojek lagi. Banyak korban berjatuhan. Satu
persatu perserta mulai jatuh terpleset karena licinnya medan yang kami harus
tempuh. Ditengah perjalanan seorang trainer berteriak “kalian jangan banyak
bicara, lihat kanan kiri kalian itu kuburan”.
Emangnya kalau
itu kuburan aku harus bilang wow gitu?. Lagian mana ada serem-seremnya liat
kuburan di siang bolong. Dasar bodoh tuh trainer. yang parahnya lagi temanku
farid, yang badannya kayak hulk tinggi dan gede takut pas liat kuburan. Ya elah
ini anak badan doang yang gede, sama kuburan yang gak ngejar aja takut. Cemen.
Aku yang badannya lebih kecil dari dia aja pas liat kuburan hanya berdoa dan
berkata “oh itu kuburan toh”.
Setelah setengah
jam kami berjalan akhirnya smapi juga dipenginapan. Kita saat itu merasa
dikerjain, kenapa tidak? Ternyata penginapan dari tempat kita baris diawl
perjalanan tadi Cuma butuh lima menit doang. Tapi ini gara-gara lewat hutan,
jadi sampai 30 menit. Baru aja datang udah kayak gini. Makannya aku males ikut
acara kayak gini kalo gak gara-gara si lidia.
Sampai
dipenginapan kita disuruh baris lagi untuk menentukan kelompok. Dibawah guyuran
hujan petir kami harus berteriak “1 2 3 4 5 6”. Mana dingin lagi. Jujur aja aku
orang bandung yang gak tahan cuaca dingin. Bayangkan saat itu dinginnya seperti
apa. Seperti hatiku yang kekurangan cinta. *ahaii*. Pembagian kelompok usai.
Aku satu kelompok dengan farid beserta beberapa adek kelas. Aku rasa kelompokku
ini bakal asik karena apa? Ada 2 cewek cakepnya hohoho.
Berdiri ditengah
guyuran hujan telah selesai. Kami pun dipersilahkan untuk mandi. Kamar mandinya
jadul banget. Gak ada lampu, trus bak mandinya nyambung antara kamar mandi satu
dengan kamar mandi lain mana banyak kataknya lagi. Karena jumlah kamar mandi
terbatas, kami para laki-laki mandinya harus berbarengan. Jadi satu kamar mandi
bisa berisi 3-4 orang. Kayak maho aja mandi bareng ya. Untung saat mandi bareng
kami tidak memikirakan hal-hal yang aneh. Tidak memikirkan perang pedang dengan
pedang yang tidak akan ada usainya.
Mandi selesai
saatnya istirahat makan. Hujan plus dingin itu enaknya makan bakso. Setuju???.
Kebetulan waktu itu ada tukang bakso di depan penginapan kita. Kita saling
berebut untuk mendapatkan bakso layaknya orang lagi pembagian Bantuan Langsung
Tunai (BLT). Untung aja pas berebut bakso kita gak saling pukul-pukulan. Masa
demi semangkok bakso kita harus anarki. Gak boleh dong.
Anarki tidak
tapi magic iya. Kenapa kok magic? Soalnya waktu itu ada adek kelas bernama aji.
Gendut, bulet, item dan mata merah menyala. Dia beli bakso banyak banget.
Mungkin dia kelaparan karena belum makan 1 abad. Saking serakahnya saat mangkok
bakso udah ditangan dia berlari untuk cari tempat makan yang enak. Tapi sayang
dia terpeleset. Dia jatuh tapi baksonya selamat. Iya baksonya utuh. Tidak jatuh
sama sekali. Jadi ceritanya itu mangkok udah melayang di udara waktu dia jatuh.
Nah pas dia jatuh itu kebtulan juga tangannya terbuka kayak mau menerima
sumbangan. Sumbangan baksolah yang sampai ditangannya. Bakso yang
melayang-layang di udara tadi tepat mendarat di tangannya dengan indah. Its
magic.
Saat LDKS ini
omongan kita benar-benar dijaga. Sedikit ngomong kasar dapet hukuman. Setiap
salah perbuatan dapat hukuman. Pokokmya hukuman, hukuman dan hukuman jika kita
salah. Waktu itu ada 3 anak laki-laki yang berbicara kotor. Mereka dihukum
berorkestra bicara kotor dengan lantang. Anak 1 berkata “janc*k” *bahasa kotor
orang jawa*, anak 2 “gat*li” dan anak 3 “A*u*. Mereka saling saut bersautan
berorkestra kata kotor. “janc*k, gat*li, a*u” mereke mengucapkannya sampai 100x
dan tetemani guyuran hujan. Mereka dihukum, siswa yang lain menyimak sambil
terharu dengan kemerduan suara orkestra mereka. Hahaha
Waktu tidur juga
tak luput dari hukuman para pembina. Apalagi ulahnya sekarang? Tetap orkestra
saut menyaut tapi kata yang diucapkan bukan kata jorok melainkan suara-suara
hewan. 1 kamar laki-laki berisi 20-30 anak. Dan kita tidur layaknya ikan
pindang, berjejer. Entah apa bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba terdengar bunyi
katak, anjing, kucing, jangkrik, sapi, kambing dll. Setelah mereka bersautan
menirukan suara tersebut sampi kita tertawa satu sama lain dengan lantangnya,
tiba-tiba para pembina datang untuk mengakhiri konser orkestra kami.
“hayo siap tadi
yang niru suara binatang”
Kami semua
pura-pura tidur. Tidak menghiraukan teriakan itu pembina. Tapi dasar pembinanya
aja yang haus menghukum para siswa, dia memilih acak salah satu anak untuk
mengaku dan dia dibawa keluar kamar dan berpush-up ria. Kasian tuh anak. Untung
bukan aku haha. Tidak berhenti sampai disitu saja, gara orkestra kami sekarang
diadakan penggeledahan. Katanya sih penggeledahan rokok dan minum keras. Aku
kira kamarku bakal bebas dari benda haram tersebut *huuuih* tapi ternyata
tidak. Ada saja anak yang membawa itu benda haram. Mereka disuruh keluar kamar
dan tidur dibawah langit dengan menikmati langit malam yang indah disertai
bintang-bintang bersinar terang. Parahnya lagi tidak hanya disuruh tidur diluar
kamar, tapi yang bawa rokok disuruh makan rokok tersebut. Mereka harus
mengunyahnya sampai habis. Kasian puk-puk.
Hari telah
berganti, sekarang matahari sudah menampakkan sinarnya. Dan kegiatan kita saat
itu adalah senam pagi. Asik juga senam pagi menyehatkan apalagi udaranya segar
tapi bagiku lebih asik karena biasa melihat lidia senam didepanku. Hahaha.
Setelah senam pagi kami harus pergi kegunung. Katanya sih kita bakal kepuncak
gunung dan akan berdoa disana. Emang apa faedahnya berdoa diatas gunung coba? Lebbih
dekat sama tuhan? Kagak kan? Berdoa bisa dimana saja asalkan niatnya tulus. Ini
sih acara penyiksaat yang lain bagi kami.
Awalnya tak
terjadi apa-apa. Kita berjalan dengan santainya. Tiba-tiba ditengah perjalanan
ketika medan perjalanannya becek penuh dengan lumpur, kita disuruh merangkak
layaknya para tentara yang berperang. Yang paling gak enak saat itu adalah
terciumnya aroma tidak menyedapkan didepanku. Aroma kentut. Kentutunya si
jisunk. Kebutulan dia merangkak didepanku. Setiap dia menggoyangkan badan
sebelah kirinya, bunyi kentut terdengar dan aromanya tak kalah sedap. Bisa membunuh
nyamuk layaknya obat pembunuh serangga. Dia tidak merasa berdosa ketika kentut.
Dia tidak memikirkan orang dibelakangnya akan mati atau tidak terkena aroma
kentutnya dia. dia tetap enjoy merangkak dengan mengeluarkan kentut. Aku yang
dibelakangnya serasa ingin mati. Kayaknya lebih baik minum baygon dari pada
mencium aromanya kentutnya jisunk. Lebih berbahaya daya bunuhnya.
Akhirnya kami
sampai di puncak gunung setelah melewati medan lumpur dan kentutnya jisunk yang
biadab aromanya. Setiba diatas, aku tak melihat jisunk. Tiba seorang kakak
kelas dan berkata dengan lantang “siapa disini yang kenal sama indra bayu”. Aku
dan farid mengangkat tangan dan maju mendekat pada kakak kelas itu. Didalam pikiranku
terfikir tentang hilangnya jisunk “Apakah dia diculik genderwo karena kentutnya
dikira menyan?” ternyata bukan. Apakah genderwo mengantarkan dia karena
tertarik dengan bau kentutnya yang kayak menyan sehingga membawa dia kembali
kepenginapan untuk menghirup aroma kentutnya secara privat? Ternyata bukan
juga. Yang sebenarnya terjadi adalah
“ada apa kak
dengan indra bayu” tanyaku dan farid
“ssttttt jangan
kencang-kencang ngomongnya”
“loh kenapa?”
“stttt ini
rahasia, kalian tau gak yang mana tasnya indra bayu”
“tau kak”
“kalau gitu
nanti tolong ambilkan celana dalamnya ya”
“hah? Celana dalam”
kami berdua bengong kayak orang goblok
“buat apa kak”
“dia buang air
besar dicelana”
Aku dan farid
tertawa dengan kencangnya. Bagaimana tidak, gak nyangka aja ternyata itu anak
badan gede bisa buang air celana juga kayak anak balita. Memalukan. Suara tertawa
kami sampai terdengar oleh siswa lain dan mereka menjadi memperhatikan kami. Kami
tetap tertawa dengan kencangnya. Aku rasa dia kualat karena telah meracuni
banyak orang ketika merangkak sehingga itu kotoran keluar dicelananya. Azab si
tukang kentut sembarangan.
Setelah semua
kegiatan di puncak gunung selesai. Kami akhirnya turun gunung untuk
beristirahat dan makan. Desas desus yang terdengar, acara selanjutnya adalah
acara jerit malam. Acara yang biasanya dilakukan malam hari trus kita dilepas
sendiri dihutan yang gelam dan akan digodain sama hantu-hantu yang
bergentayangan. *Ciee digodain hantu*. Tapi sebelumnya bakal ada acara ESQ *aku
lupa kepanjangannya*. Kalau gak salah ini acara pertobatan deh dimana kita akan
dibukakan pemikiran kita terhadap apa yang selama ini kita perbuat. Yang tadinya
salah menjadi benar. Ya ya ya ya.
Setelah makan,
mandi, istirahat, kita pun bersiap untuk melihat acara ESQ. Didalam satu aula,
kita dibariskan rapih agar tidak rusah menontonnya. Panitianya takut kalau
barisan tidak rapih, bisa-bisa kita tawuran untuk mendapatkan spot yang bagus
untuk menonton. Nah maka dari itu untuk menghindari hal yang tidak diinginkan,
kita dibariskan dengan rapih.
Acara pun
dimulai dengan penandaan lampu yang dimatikan. Kita menonton dengan cara yang
bisa merusak mata. kenapa lampu dimatikan? Agar lebih dramatis katanya. Tadi diawal
aku bilang bahwa acara ini berfungsi untuk menggugah kita untuk tobat. Tapi kayaknya
gak mempan deh. Semua siswa yang nonton malah pada tidur. Mengambil kesempatan
dalam kesimpitan. Lampu dimatikan memang cocok untuk tidur.
Aku masih ingat,
ada video dimana para peneliti rusia meneliti siksa kubur. Jadi mayat
dikuburkan dengan kamrea infrared. Dimana akan terlihat kegiatan apa yan
terjadi ketika itu mayat berada diliang lahat. Dan kegiatannya adalah
penyiksaan. Entah dari mana datangnya dan bagaimana caranya tapi mayat itu
sedikit demi sedikit kehilangan anggota tubuhnya. Mungkin dosanya terlalu besar
ketika berada didunia ini.
Ketika video itu
diputar, anak-anak yang tadinya tidur malah menjerit histeris ketakutan. Mereka
bukan takut mengalami hal yang sama dengan mayat yang ada di video tapi mereka
takut kalau itu mayat datang kemimpinya mereka. Dasar anak-anak tak takut dosa.
Pertengahan pemutaran video, tiba-tiba terdengar suara yang mengerikan. Aku kira
suara kuntilanak menangis karena ikutan liat itu video. Tapi ternyata bukan,
itu adalah suara tangisan seorang farid. Gak nyangka aja tuh anak bandel bisa nangis juga. Benar-benar
hati hello kitty.
Dia beteriak “ibu-ibu
maafkan aku. Aku tidak akan nakal lagi” sambil berguling-guling menangis. Dalam
hati aku berkata “alhamdulilah temanku tobat juga”. Tangisannya membuat semua
orang tertawa bukan malam simpati. Bagaimana tidak, badan sebesar dia menangis
sambil gulung-gulung dilantai dan suara tangisannya keras pula. Mungkin semua
yang tadinya pengen nangis malah tertawa dan berkata “lihat-lihat ada gajah afrika nangis sambil gulung-gulung”. Dasar
farid, tangisannya udah menggugah hati tapi gulung-gulungnya itu terlalu
banget. Kayak sinetron.
Aku yang asik
menertawakan farid menangis tiba-tiba dibuat shock jantung. Aku merasa bahwa
kalau aku punya jantung lemah mungkin udah mati ditempat. Bagaimana tidak,
tiba-tiba anak didepanku tergeletak tak berdaya. Pertamanya aku kira dia
mengantuk dan tidak tahan ngantuk sambil duduk makannya dia jatuh. Tapi setelah
aku amati dan coba bangunkan, kok gak bangun-bangun. Dan aku berspekulasi bahwa
dia mati. Astaga. Parah.
Aku berteriak pada
seorang panitia “kak ini ada orang mati” sialnya kakak itu sok cool. Dia tidak
buru-buru menolong malah pergi memanggil temannya untuk mengangkat ini anak. Gila
lepas tanggung jawab. Tapi ternyata dia tidak mati. Dia hanya pingsan. Katanya sih
dia ingat adeknya yang sudah meninggal ketika melihat video mayat dikuburin
sehingga mentalnya jadi lemah dan akhirnya pingsan. Tapi pingsannya benar-benar
menakutkan. Kayak orang mati.
ESQ pun selesai dengan
tawa, tangis dan rasa kantuk. Setelah dua jam duduk tak bergerak dan bokong
rasanya keram, akhirnya kami diperbolehkan tidur. Lalu bagaimana acara jerit
malamnya? Tidak jadi. Karena hujan. Anak lain pada senang tapi aku kecewa. Padahal
aku pengen merasakan keteganggan jerit malam *padahal dirinya sendir takut
hantu. Sok-sokan*. Malam ini tidur kami nyenyak karena tidak ada acara orkestra
suara-suara hewan lagi. didalam tidurku aku bermimpi dan menikahi Melody JKJ48.
Oh indahnya. *penulis sarap, terobsesi sama Melody JKT48*.
Akhirnya hari
terakhir LDKS pun datang. Artinya ini hari untuk pulang. Setelah melewati
hukuman demi hukuman, akhirnya kami pulang juga kerumah masing-masing sambil
berkata “good bye LDKS yang menyiksa”. Hal pertama yang aku lakukan setiba
dirumah adalah buang air besar. Aku sudah menahan BAB selama 3 hari 2 malam. Kenapa
aku gak bab disana? Ya kalian tau sendirilah kalau kamar mandi diperdesaan
pasti kumuh dan membuat mood kita BAB menghilang. Yang tadinya uda mau keluar
malah masuk lagi. benar apa pepatah “tiak ada Wc senyaman WC dirumah sendiri”
:D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar