Masalah dibully sudah
tak perlu aku pikirkan karena keselamatan jiwaku aman. Jadi fokusku sekarang
adalah belajar, belajar dan belajar cari cewek cakep seangkatan disekolahan
hehe. Sejauh mata memandang, cewek cakep diangkatanku mungkin bisa dihitung
dengan jari. Dalam angkatanku dibagi menjadi tiga kelas, X-1, X-2, dan X-3.
Didalam kelas X-1 cewek cakepnya ada 3 anak, kelasku X-2 ada 2 anak dan X-3 ada
3 anak. Jadi totalnya dari angkatanku ada 8 cewek cakep menurutku.
Bila jumlah
populasi kelas X adalah 80 orang, yang terdiri dari 35 cewek dan 45 cowok
kemudian dari 35 perempuan hanya terdapat 8 cewek cakep, berarti berapa persen
kemungkinanku mendapatkan salah satu cewek cakep se-angkatan jika ke 45 cowok
lain mengincar tanget yang sama?
Bila pertanyaan dihitung
pake rumus ciptaanku maka hasilnya adalah sebagai berikut:
(8/45)*(100%) =
Jika perhitungan
dan rumusku sempurna seperti kata pesulap yang bernama Demian maka kesempatanku
mendapatkan salah satu cewek cakep adalah 0,00178% (bener gak sih?)
Berarti kecil kemungkinan
aku punya pacar seangkatan. Belum lagi jika perhitungan ini dilihat dari
faktor-faktor lainnya bukan hanya jumlah populasi. Misalnya faktor ketampanan,
kegagahan, kekuasaan dan kekayaan. Sudah tak ada harapan untukku dapat pacar
cewek seangkatan. Trus bagaimana jika kakak kelas? Kayaknya tidak, karena cewek
yang lebih tua dari aku bukan termasuk tipe idaman seorang Prabu Prasetya
Meifa.
Tipe cewekku
adalah cewek yang hampir mirip sama kuntilanak Cuma bedanya kakinya napak
ketanah.Cakep, putih, lucu dan baik hati. Idaman sekali. Didunia ini susah cari
cewek seperti itu, apalagi kalau tampang tak mempuni serta dompet tak tebal.
Bukan Cuma cewek idaman yang bakal nolak kita tapi cewek paling bukan idamanpun
akan menolak kita #ngenes.
Meski muka dan
dompetku tak mempuni untuk menarik perhatian seorang cewek, ternyata ada juga 1
dari cewek 8 cewek cakep itu yang naksir sama aku. Hayo coba tebak apa
alasannya? Dia bilang kalo aku ini mirip mantannya yang waktu di SMP dulu.
“prabu, kamu mirip mantanku di SMP” katanya padaku.
Dengan muka bodoh aku jawab “ha?”
“iya kamu mirip mantanku pas di SMP mirip banget, boleh gak minta nomer HP kamu”
Kalau gak
dikasih, dikira aku sombong tapi kalau dikasih aku hanya akan jadi pelipur lara
dia aja, pengobatan kerinduannya terhadap mantannya di masa lalu. Yawda aku
kasih aja dari pada dibilang sombong.
Cewek ini Kita sebut
saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Tinggi badan 155 Cm, berat badan 40 Kg,
rambut hitam panjang mengurai, kulit putih mulus, muka mirip artis. Dibalik
kelebihan semua fisiknya itu ada satu kekurangan yang membuatku berfikir untuk
menjauhinya. Yaitu suaranya. Suaranya kayak tikus yang lagi kejepit truk. Sok
imut. Setiap denger dia ngomong, aku langsung merinding geli. Inilah alasan kenapa
aku tidak menyukainya.
Nasi telah
menjadi bubur, dia sudah mengetahui nomer Hpku. Sekarang kegiatan baruku adalah
menjauhkan Hpku sendiri dari genggaman. Abis dia frontal kalo ngomong. Langsung
ngomong sukalah. Ngegombalin kalo aku cakep lah (cieee). Sampe nembak aku. Gila
ini yang cewek dia atau aku sih.
Pembully-an
lewat malah teror yang datang. Hidup memang penuh tantangan. Tekadnya untuk
dapatin aku kuat sekali, dan tekadku untuk menjauh dari dia juga kuat sekali.
Kita bagaikan magnet sama kutub yang disamakan.dia berusaha menempel tapi aku
berusaha menjauh tidak akan bisa bersatu. Meski aku udah jutek bales smsnya,
jawab teleponnya tetep aja dia gak mau nyerah. Dan pada puncaknya dia nembak
aku lewat sms.
“prabu, pertama aku ngelihat kamu, aku melihat ada secerca harapan baru
dalam hidupku. Harapan yang membuat aku ingin melangkah maju menatap masa
depan. Kamu itu ganteng dan mirip banget sama mantan aku saat smp dulu. Ketika
aku liat kamu, aku liat kebahagian baru dalam kehidupanku. Aku lihat kalau aku
bakal bisa bahagian kamu begitu sebaliknya. Aku harap kamu mau mengisi
hari-hariku dan mengisi satu sama lain. Kamu mau gak jadi pacar aku?”
Ini pertama kalinya
aku ditembak cewek se-frontal ini. Emang bener sih jaman sekarang cewek sudah
sama derajatnya sama cowok. Sudah tidak ada lagi kesenjangan. Tapi ya tetep aja
aku gak habis fikir bisa ditembak seorang cewek seperti itu. Lagian aku ya gak cakep
dan baik-baik amet. Bahkan bisa dikatakan kata “cowok ideal seorang wanita” gak
melekat pada diriku.
Kalo aku nerima
berarti aku memaksakan cinta. Aku gak sayang sama dia. kasian nanti dikira mempermainkan
perasaannya kalo menerima bukan tulus dari hati. Tapi entah apa yang ada di benakku
saat itu, aku hanya membalas gombalannya yang panjang lebar itu dengan huruf “g”.
Iya “g”. Kurang manusiawi sih tapi uda terlanjur. Gak bermaksud sih bales kayak
gitu tapi apa boleh buat sudah terlanjur.
Semenjak itu
munculah mitos di sekolahku yang berjudul “prabu si cowok lugu nan sadis”. Cerita
tentang aku menolak bunga begitu cepatnya tersebar dikalangan kelas X. Selama seminggu
penuh aku jadi bahan gosip kayak artis-artis papan kayu. Tapi mau gimana lagi. Tetap
berjalan kedepan. Masa-masa putih abu-abu barulah dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar