Minggu, 02 Maret 2014

Mitos si Cowok Lugu


Masalah dibully sudah tak perlu aku pikirkan karena keselamatan jiwaku aman. Jadi fokusku sekarang adalah belajar, belajar dan belajar cari cewek cakep seangkatan disekolahan hehe. Sejauh mata memandang, cewek cakep diangkatanku mungkin bisa dihitung dengan jari. Dalam angkatanku dibagi menjadi tiga kelas, X-1, X-2, dan X-3. Didalam kelas X-1 cewek cakepnya ada 3 anak, kelasku X-2 ada 2 anak dan X-3 ada 3 anak. Jadi totalnya dari angkatanku ada 8 cewek cakep menurutku.

Bila jumlah populasi kelas X adalah 80 orang, yang terdiri dari 35 cewek dan 45 cowok kemudian dari 35 perempuan hanya terdapat 8 cewek cakep, berarti berapa persen kemungkinanku mendapatkan salah satu cewek cakep se-angkatan jika ke 45 cowok lain mengincar tanget yang sama?
Bila pertanyaan dihitung pake rumus ciptaanku maka hasilnya adalah sebagai berikut:

(8/45)*(100%) =

Jika perhitungan dan rumusku sempurna seperti kata pesulap yang bernama Demian maka kesempatanku mendapatkan salah satu cewek cakep adalah 0,00178% (bener gak sih?)

Berarti kecil kemungkinan aku punya pacar seangkatan. Belum lagi jika perhitungan ini dilihat dari faktor-faktor lainnya bukan hanya jumlah populasi. Misalnya faktor ketampanan, kegagahan, kekuasaan dan kekayaan. Sudah tak ada harapan untukku dapat pacar cewek seangkatan. Trus bagaimana jika kakak kelas? Kayaknya tidak, karena cewek yang lebih tua dari aku bukan termasuk tipe idaman seorang Prabu Prasetya Meifa.

Tipe cewekku adalah cewek yang hampir mirip sama kuntilanak Cuma bedanya kakinya napak ketanah.Cakep, putih, lucu dan baik hati. Idaman sekali. Didunia ini susah cari cewek seperti itu, apalagi kalau tampang tak mempuni serta dompet tak tebal. Bukan Cuma cewek idaman yang bakal nolak kita tapi cewek paling bukan idamanpun akan menolak kita #ngenes.

Meski muka dan dompetku tak mempuni untuk menarik perhatian seorang cewek, ternyata ada juga 1 dari cewek 8 cewek cakep itu yang naksir sama aku. Hayo coba tebak apa alasannya? Dia bilang kalo aku ini mirip mantannya yang waktu di SMP dulu.

“prabu, kamu mirip mantanku di SMP” katanya padaku.

Dengan muka bodoh aku jawab “ha?”

“iya kamu mirip mantanku pas di SMP mirip banget, boleh gak minta nomer HP kamu”
Kalau gak dikasih, dikira aku sombong tapi kalau dikasih aku hanya akan jadi pelipur lara dia aja, pengobatan kerinduannya terhadap mantannya di masa lalu. Yawda aku kasih aja dari pada dibilang sombong.

Cewek ini Kita sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Tinggi badan 155 Cm, berat badan 40 Kg, rambut hitam panjang mengurai, kulit putih mulus, muka mirip artis. Dibalik kelebihan semua fisiknya itu ada satu kekurangan yang membuatku berfikir untuk menjauhinya. Yaitu suaranya. Suaranya kayak tikus yang lagi kejepit truk. Sok imut. Setiap denger dia ngomong, aku langsung merinding geli. Inilah alasan kenapa aku tidak menyukainya. 

Nasi telah menjadi bubur, dia sudah mengetahui nomer Hpku. Sekarang kegiatan baruku adalah menjauhkan Hpku sendiri dari genggaman. Abis dia frontal kalo ngomong. Langsung ngomong sukalah. Ngegombalin kalo aku cakep lah (cieee). Sampe nembak aku. Gila ini yang cewek dia atau aku sih.
Pembully-an lewat malah teror yang datang. Hidup memang penuh tantangan. Tekadnya untuk dapatin aku kuat sekali, dan tekadku untuk menjauh dari dia juga kuat sekali. Kita bagaikan magnet sama kutub yang disamakan.dia berusaha menempel tapi aku berusaha menjauh tidak akan bisa bersatu. Meski aku udah jutek bales smsnya, jawab teleponnya tetep aja dia gak mau nyerah. Dan pada puncaknya dia nembak aku lewat sms. 


“prabu, pertama aku ngelihat kamu, aku melihat ada secerca harapan baru dalam hidupku. Harapan yang membuat aku ingin melangkah maju menatap masa depan. Kamu itu ganteng dan mirip banget sama mantan aku saat smp dulu. Ketika aku liat kamu, aku liat kebahagian baru dalam kehidupanku. Aku lihat kalau aku bakal bisa bahagian kamu begitu sebaliknya. Aku harap kamu mau mengisi hari-hariku dan mengisi satu sama lain. Kamu mau gak jadi pacar aku?”
 
Ini pertama kalinya aku ditembak cewek se-frontal ini. Emang bener sih jaman sekarang cewek sudah sama derajatnya sama cowok. Sudah tidak ada lagi kesenjangan. Tapi ya tetep aja aku gak habis fikir bisa ditembak seorang cewek seperti itu. Lagian aku ya gak cakep dan baik-baik amet. Bahkan bisa dikatakan kata “cowok ideal seorang wanita” gak melekat pada diriku.

Kalo aku nerima berarti aku memaksakan cinta. Aku gak sayang sama dia. kasian nanti dikira mempermainkan perasaannya kalo menerima bukan tulus dari hati. Tapi entah apa yang ada di benakku saat itu, aku hanya membalas gombalannya yang panjang lebar itu dengan huruf “g”. Iya “g”. Kurang manusiawi sih tapi uda terlanjur. Gak bermaksud sih bales kayak gitu tapi apa boleh buat sudah terlanjur.

Semenjak itu munculah mitos di sekolahku yang berjudul “prabu si cowok lugu nan sadis”. Cerita tentang aku menolak bunga begitu cepatnya tersebar dikalangan kelas X. Selama seminggu penuh aku jadi bahan gosip kayak artis-artis papan kayu. Tapi mau gimana lagi. Tetap berjalan kedepan. Masa-masa putih abu-abu barulah dimulai.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar