Senin, 03 Maret 2014

The Bandits



Teman semakin banyak, jadwal semakin padat bagaikan artis terkenal. Biasanya pulang sekolah langsung kerumah sendiri tapi sekarang pulangnya ke rumah orang lain. Temanku jadi lebih banyak, devrin si anak jepang, indra si anak korea, andre dan aurel si anak produk dalam negeri. Devrin si anak yang punya rumah. 

Setiap hari kami sepulang sekolah singgah dirumahnya. Gak besar-besar amet rumahnya, namun suasananya nyaman. Senyaman kita punya dambaan hati yang diinginkan. Ciussss. Indra, dia sahabat seperguruan dari farid. Sd, Smp, dan Sma selalu bersama. Kemana-mana bersama. Persahabatan mereka bagaikan kepompong. Si indra ini kelakuannya gak jauh beda sama si farid. Kalo mereka disatukan menjadi satu maka terjadilah konslet dalam otak mereka, ada aja yang mereka lakukan diluar hal wajar seoang manusia. Andre dan aurel? Mereka anak band yang eksis. Mereka selalu mengajakku untuk membuat sebuah band. Andre di vokal, aurel sebagai pemegang ukulele ukuran jumbo bersenar 6, farid pembetot bass kotak yang biasa dipake banci dan aku penggebuk gendang modern. Devrin dan jisunk? Mereka cheerleader kami. Penyemangat.

Nama band kita the bandits. Katanya sih biar keren biar kita kayak preman-preman gitu kesannya. Nama keren tapi lagu garapannya ungu-sejauh mungkin K . Sebenarnya penampilan pertamaku sebagai anak band diSMA bukan sebagai penabuh gendang modern melainkan seorang gitaris. Huiiiii

Dulu ketika ada Masa Orientasi Siswa (MOS). Setiap kelas wajib melakukan pentas seni. X-1 ngeband. X-2 ngeband dan X-3 drama. Kami kelas X-2 mendapatkan kesempatan pertama untuk tampil didepan teman seangkatan dan para kakak kelas. Sekolahku berlantai 3. Ketika ada acara seperti ini lantai 1 sampai 3 ramai dengan para siswa-siswi yang bersandar dibalkon sambil tatapan mereka menuju ke panggung dibawah tengah-tengah lapangan.

Farid tetap pada posisi awalnya sebagai pembetot bass, andre sebelumnya menjadi drummer, kemudian aku menjadi gitaris serta wahyudin sebagai vokalis. Awal terbentuknya formasi ini adalah project iseng nan sempurna. Tanpa pernah latihan bareng dan baru saling kenal, kami nekat manggung pada hari itu. Kami berfikir ini bakal lancar karena dari skill pribadi kami cukup mempuni cieeee.

Kenapa kami yakin bisa sukses, ini semua akibat promosi diri masing-masing. “kakaku penabuh drum, setiap hari aku belajar drum dari dia. permainannya kayak eno netral” kata andre pada kami waktu itu.

“aku dulu waktu ujian praktek SMP menjadi seorang basis di band paling populer se SMP kami” balas farid gak mau kalah.

“aku juga SMP jadi vokalis band, tanya saja farid kita kan satu SMP dulu” wahyudin membela diri.
Dalam benakku, “oke ini band punya landasan bermain yang bagus, tanpa latihan kita bisa menggarap satu lagu yang gampang”. 

Hari itu aku yakin makannya aku bersedia menjadi gitaris. Alasanku terpilih jadi gitaris karena aku iseng pernah bermain gitar pas ada gitar nganggur dikelas. Entah kenapa kalo ada alat musik, rasanya badan ini ingin mendekat dan memainkannya. Ya meski Cuma bisa chord-chord dasar tapi cukuplah buat ngegombalin cewek pake lagu .#songong.

 “Prabu, prabu kemarilah mainkan aku” bisik sebuah gitar kepadaku

“aku tidak mau nanti dikira pamer”

“mari-mari mainkan aku”

“tidakkkkkkkkkkk, jangan kau hasut aku”

“Cepattttttttttttt”

Akhirnya aku mengalah dan selalu bermain jika ada gitar nganggur dihadapanku. Seperti itulah kira-kira kejadiannya. Terhipnotis.

H-1 dari hari pementasan. Kami setuju untuk membawakan lagu ungu berjudul “sejauh mungkin”. Waktu aku SMA, Ungu lagi naik daun. Pake baju merek diery yang bergambar jamur, trus celana diplorotin kebawah pinggung sampai boxer kelihatan. Kalau kalian tau berarti kalian seangkatan dengan aku. Tosss. Bagi cewek waktu itu, fashion kayak gini lagi trend. Ada cowok bergaya seperti Ungu celananya diplorotin pasti cewek-cewek langsung teriak. Wih keren kayak pasha. Bahkan cewek jadi-jadian pun akan terpana melihat fenomena ini. “ih keren celananya diplorotin-plorotin. Warnanya pink. Feminim banget kayak eke”. Pokoknya pada saat itu. Jamannya ungu menguasai dunia fashion anak muda.

Hari H pementasan tiba. Sesuai persiapan dan semedi rahasia masing-masing, kami percaya diri untuk manggung hari itu. Untuk menyongsong hari pementasan, aku semedi di tengah lapangan dekat rumahku belajar bermain gitar sampai jari cantengen. Temanku sampai heran kenapa tumben aku bawa gitar kelapangan. “besok aku manggung disekolah” itu yang aku katakan ketika ada temanku bertanya kenapa aku membawa gitar. Bahasanya “manggung” biar keren kayak band-band papan atas.

Kami akhirnya berada diatas panggung dengan keadaan 100% siap dan memegang instrumen masing-masing. Jreng aku mainkan gitarku mengawali lagu ini dengan kunci do=D. Wahyudin mulai bernyanyi dengar merdu. Sorak sorai penonton mengiringi perform kami. Aku tersenyum sendiri karena berfikir perform kali ini sukses. Awalnya aja bagus kayak gini.

Lelah hati yang tak kau lihat andai saja Dapat kau rasa kan letihnya jiwaku karna sifatmu Indah cinta yang kau berikan kini tiadaLagi kudapatkan teduhnya jiwa

Yes sukses, sukses #bangga. Kalau vokalis suaranya bagus, pengiringnya juga bakal semangat ngiringinnya. Misal kayak diva indonesia lagi konser, mereka nanyi diiringi orkestra. Keren. Namanya diva pasti suaranya bagus banget. Gak pernah kan kita ngelihat pas mereka nyanyi trus lagi puncak-puncak lagunya, falsetonya sempurna terus tiba-tiba pengiringnya bilang “siaaaalan keren banget suaranya, jadi malas buat ngiringinnya” mereka pergi, pengiring bubar, penyanyi mulutnya menganga denger pengiring bilang kayak gitu, konser usai lebih cepat, penonton kecewa dan besoknya masuk infotaiment. “konser diva mengecewakan karena suara penyanyinya terlalu bagus dan musik pengiringnya tidak bisa menerimanya”. Gak ada kan yang kayak gitu. Yang ada penyanyi nyanyinya bagus, pengiring juga ngiringinya dengan sangat bagus. Sempurna seperti apa katanya shef juna.

Tibalah dibagian reff. Dimana-mana bagian reff adalah bagian dimana lagu ini mencapai puncaknya untuk dinyanyikan. Para penonton pasti akan menyanyi bersama dibagian reff jika suka pada musiknya.

Baiknya kupergi Tinggalkan dirimu pada bagian ini masih berjalan normal namun tidak pada bagian
Sejauh mungkin Untuk melupakanpersis dengan kata-katanya, suara wahyudin melenceng sejauh mungkin alias false!. Fuk banget deh. Udah awalnya keren tapi dibagian puncaknya malah false. Kebanggaanku yang tadinya memuncak langsung jatuh secara drastis. “mama aku malu manggung seperti ini, bawalah anakmu ini pulang kerumah secepatnya” teriakku dalam hati.

Aku tau apa yang ada dibenak andre dan juga farid saat itu. Mereka juga ingin lagunya cepat berakhir, turun dari panggung, menutup wajah kami dengan topeng dan pergi kepojokan kelas sambil gulung-gulung karena malu. Sumpah malu banget. Ingin rasanya aku banting ini gitar terus ambil mic nya wahyudin berteriak. “maaf kami manggung ini hanya ada dalam mimpi kalian, harap dilupakan”. Malu men :| .

Perform selesai kami turun dari panggung dengan tertunduk malu meski terdengar tepuk tangan yang mengiringi kami tapi tetep saja kami merasa gagal. Apa lagi tepuk tangan yang kami dengar adalah tepuk tengan tawa bergema disemua penjuru sekolah. Rasanya seperti sudah dibawa terbang tinggi naik pesawat lalu kemudian disuruh turun secara paksa tanpa parasut. Terjun bebas dan mati.

Aduh gagal. Tapi kekecewaanku sedikit terobati. Karena apa? Ada yang lebih parah dari kami performnya. Perform dari kelas X-1. Vokalisnya bernama andri. Suaranya lebih parah, lebih pecah dan lebih memalukan. Dia pede amet, heran itu udel dia taruh mana. Emang sih dia cakep tapi suara dia gak secakep mukanya. Ancur abis. Suaranya lebih parah dari teriakan mr.slam. tapi dia tetep pede nyanyi. Lagu yang dibawain adalah lagu ungu feat chrisye berjudul cinta yang lain. Bagiku lagu ini gak susah-suah amet buat dinyanyiin #sombong. Sumpah parah. Dia nyanyi sampai turun dari panggung dan berteriak “ayo semua ikut bernyanyi” dengan pedenya.

“astaga, makhluk kayak gini masih ada didunia ini” gumamku dalam hati. Harusnya makhluk kayak gini uda punah. Kalo suara bagus okelah aku memaklumi. Ini benar-benar parah. Mendingin dengerin kucing nyanyi deh. Tapi hikmah dari kejadian ini, rasa maluku menghilang secara perlahan karena ada yang lebih parah ternyata. Terima kasih tuhan telah menciptakan makhluk tak tau malu seperti dia. Setidaknya aku kami anak X-2 yang perform tadi derajatnya lebih terangkat karena ada makhluk seperti dia.

Untuk menghindari hal memalukan seperti tadi maka aku lebih selektif untuk memilih band. Kalo personilnya oke, poles sedikit jadi istimewa aku mau mengiringi. Kalau pecah kayak waktu MOS sih gak bakal mau. Pikir seribu kali. Bandku sekarang The bandits mengusung aliran punk rock. Lagu pertama yang kami bawakan bersama haruka kanata dari band jepang bernama Asian Kung-Fu Generation. Alasan membawakan lagu itu adalah film naruto lagi booming. Kita gak bisa seperti naruto yang bisa mengeluarkan jurus-jurus keren jadi setidaknya kami bisa membawakan Ost dari film ini saja sudah berasa jadi anak gaul pencinta naruto.

Band ini tidak bertahan lama. Andre dan aurel pindah sekolah. Well meski band ini tidak bertahan lama tapi asik juga mengingat awal-awal mencari jati diri menjadi seorang musisi. Bahkan kami saat itu telah memikirkan nama panggung masing-masing. Dan aku masih ingat nama panggungku adalah ochi. Gak ada hubungannya dari nama asliku. Tapi kebanyakan musisi terkenal kan seperti itu namanya tidak nyambung dari nama sebenernya. Sigit Purnomo Syamsuddin menjadi Pasha, Samidjan menjadi Ian Kasela. Aneh sih tapi booming. Aku juga gak mau kalah dari Prabu Prasetya Meifa menjadi Ochi. #akibatpergaulanlabil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar