Teman semakin
banyak, jadwal semakin padat bagaikan artis terkenal. Biasanya pulang sekolah langsung
kerumah sendiri tapi sekarang pulangnya ke rumah orang lain. Temanku jadi lebih
banyak, devrin si anak jepang, indra si anak korea, andre dan aurel si anak
produk dalam negeri. Devrin si anak yang punya rumah.
Setiap hari kami sepulang
sekolah singgah dirumahnya. Gak besar-besar amet rumahnya, namun suasananya
nyaman. Senyaman kita punya dambaan hati yang diinginkan. Ciussss. Indra, dia
sahabat seperguruan dari farid. Sd, Smp, dan Sma selalu bersama. Kemana-mana
bersama. Persahabatan mereka bagaikan kepompong. Si indra ini kelakuannya gak
jauh beda sama si farid. Kalo mereka disatukan menjadi satu maka terjadilah
konslet dalam otak mereka, ada aja yang mereka lakukan diluar hal wajar seoang
manusia. Andre dan aurel? Mereka anak band yang eksis. Mereka selalu mengajakku
untuk membuat sebuah band. Andre di vokal, aurel sebagai pemegang ukulele
ukuran jumbo bersenar 6, farid pembetot bass kotak yang biasa dipake banci dan
aku penggebuk gendang modern. Devrin dan jisunk? Mereka cheerleader kami. Penyemangat.
Nama band kita
the bandits. Katanya sih biar keren biar kita kayak preman-preman gitu kesannya.
Nama keren tapi lagu garapannya ungu-sejauh mungkin K . Sebenarnya penampilan
pertamaku sebagai anak band diSMA bukan sebagai penabuh gendang modern
melainkan seorang gitaris. Huiiiii
Dulu ketika ada
Masa Orientasi Siswa (MOS). Setiap kelas wajib melakukan pentas seni. X-1
ngeband. X-2 ngeband dan X-3 drama. Kami kelas X-2 mendapatkan kesempatan
pertama untuk tampil didepan teman seangkatan dan para kakak kelas. Sekolahku berlantai
3. Ketika ada acara seperti ini lantai 1 sampai 3 ramai dengan para siswa-siswi
yang bersandar dibalkon sambil tatapan mereka menuju ke panggung dibawah
tengah-tengah lapangan.
Farid tetap pada
posisi awalnya sebagai pembetot bass, andre sebelumnya menjadi drummer,
kemudian aku menjadi gitaris serta wahyudin sebagai vokalis. Awal terbentuknya
formasi ini adalah project iseng nan sempurna. Tanpa pernah latihan bareng dan baru
saling kenal, kami nekat manggung pada hari itu. Kami berfikir ini bakal lancar
karena dari skill pribadi kami cukup mempuni cieeee.
Kenapa kami
yakin bisa sukses, ini semua akibat promosi diri masing-masing. “kakaku penabuh
drum, setiap hari aku belajar drum dari dia. permainannya kayak eno netral”
kata andre pada kami waktu itu.
“aku dulu waktu
ujian praktek SMP menjadi seorang basis di band paling populer se SMP kami”
balas farid gak mau kalah.
“aku juga SMP
jadi vokalis band, tanya saja farid kita kan satu SMP dulu” wahyudin membela
diri.
Dalam benakku, “oke
ini band punya landasan bermain yang bagus, tanpa latihan kita bisa menggarap
satu lagu yang gampang”.
Hari itu aku yakin makannya aku bersedia menjadi
gitaris. Alasanku terpilih jadi gitaris karena aku iseng pernah bermain gitar
pas ada gitar nganggur dikelas. Entah kenapa kalo ada alat musik, rasanya badan
ini ingin mendekat dan memainkannya. Ya meski Cuma bisa chord-chord dasar tapi
cukuplah buat ngegombalin cewek pake lagu .#songong.
“Prabu, prabu kemarilah mainkan aku” bisik
sebuah gitar kepadaku
“aku tidak mau
nanti dikira pamer”
“mari-mari
mainkan aku”
“tidakkkkkkkkkkk,
jangan kau hasut aku”
“Cepattttttttttttt”
Akhirnya aku mengalah
dan selalu bermain jika ada gitar nganggur dihadapanku. Seperti itulah
kira-kira kejadiannya. Terhipnotis.
H-1 dari hari
pementasan. Kami setuju untuk membawakan lagu ungu berjudul “sejauh mungkin”. Waktu
aku SMA, Ungu lagi naik daun. Pake baju merek diery yang bergambar jamur, trus
celana diplorotin kebawah pinggung sampai boxer kelihatan. Kalau kalian tau
berarti kalian seangkatan dengan aku. Tosss. Bagi cewek waktu itu, fashion
kayak gini lagi trend. Ada cowok bergaya seperti Ungu celananya diplorotin
pasti cewek-cewek langsung teriak. Wih keren kayak pasha. Bahkan cewek
jadi-jadian pun akan terpana melihat fenomena ini. “ih keren celananya
diplorotin-plorotin. Warnanya pink. Feminim banget kayak eke”. Pokoknya pada
saat itu. Jamannya ungu menguasai dunia fashion anak muda.
Hari H
pementasan tiba. Sesuai persiapan dan semedi rahasia masing-masing, kami
percaya diri untuk manggung hari itu. Untuk menyongsong hari pementasan, aku
semedi di tengah lapangan dekat rumahku belajar bermain gitar sampai jari
cantengen. Temanku sampai heran kenapa tumben aku bawa gitar kelapangan. “besok
aku manggung disekolah” itu yang aku katakan ketika ada temanku bertanya kenapa
aku membawa gitar. Bahasanya “manggung” biar keren kayak band-band papan atas.
Kami akhirnya
berada diatas panggung dengan keadaan 100% siap dan memegang instrumen masing-masing.
Jreng aku mainkan gitarku mengawali lagu ini dengan kunci do=D. Wahyudin mulai
bernyanyi dengar merdu. Sorak sorai penonton mengiringi perform kami. Aku tersenyum
sendiri karena berfikir perform kali ini sukses. Awalnya aja bagus kayak gini.
“Lelah
hati yang tak kau lihat andai saja Dapat kau rasa kan
letihnya jiwaku karna sifatmu Indah cinta yang kau berikan kini tiadaLagi kudapatkan teduhnya jiwa”
Yes
sukses, sukses #bangga. Kalau vokalis suaranya bagus, pengiringnya juga bakal
semangat ngiringinnya. Misal kayak diva indonesia lagi konser, mereka nanyi
diiringi orkestra. Keren. Namanya diva pasti suaranya bagus banget. Gak pernah
kan kita ngelihat pas mereka nyanyi trus lagi puncak-puncak lagunya, falsetonya
sempurna terus tiba-tiba pengiringnya bilang “siaaaalan keren banget suaranya,
jadi malas buat ngiringinnya” mereka pergi, pengiring bubar, penyanyi mulutnya
menganga denger pengiring bilang kayak gitu, konser usai lebih cepat, penonton
kecewa dan besoknya masuk infotaiment. “konser diva mengecewakan karena suara
penyanyinya terlalu bagus dan musik pengiringnya tidak bisa menerimanya”. Gak ada
kan yang kayak gitu. Yang ada penyanyi nyanyinya bagus, pengiring juga
ngiringinya dengan sangat bagus. Sempurna seperti apa katanya shef juna.
Tibalah
dibagian reff. Dimana-mana bagian reff adalah bagian dimana lagu ini mencapai
puncaknya untuk dinyanyikan. Para penonton pasti akan menyanyi bersama dibagian
reff jika suka pada musiknya.
“Baiknya kupergi Tinggalkan
dirimu” pada
bagian ini masih berjalan normal namun tidak pada bagian
“Sejauh mungkin Untuk melupakan”
persis dengan kata-katanya, suara wahyudin melenceng
sejauh mungkin alias false!. Fuk banget deh. Udah awalnya keren tapi dibagian
puncaknya malah false. Kebanggaanku yang tadinya memuncak langsung jatuh secara
drastis. “mama aku malu manggung seperti ini, bawalah anakmu ini pulang kerumah
secepatnya” teriakku dalam hati.
Aku
tau apa yang ada dibenak andre dan juga farid saat itu. Mereka juga ingin
lagunya cepat berakhir, turun dari panggung, menutup wajah kami dengan topeng
dan pergi kepojokan kelas sambil gulung-gulung karena malu. Sumpah malu banget.
Ingin rasanya aku banting ini gitar terus ambil mic nya wahyudin berteriak. “maaf
kami manggung ini hanya ada dalam mimpi kalian, harap dilupakan”. Malu men :|
.
Perform
selesai kami turun dari panggung dengan tertunduk malu meski terdengar tepuk
tangan yang mengiringi kami tapi tetep saja kami merasa gagal. Apa lagi tepuk
tangan yang kami dengar adalah tepuk tengan tawa bergema disemua penjuru
sekolah. Rasanya seperti sudah dibawa terbang tinggi naik pesawat lalu kemudian
disuruh turun secara paksa tanpa parasut. Terjun bebas dan mati.
Aduh
gagal. Tapi kekecewaanku sedikit terobati. Karena apa? Ada yang lebih parah
dari kami performnya. Perform dari kelas X-1. Vokalisnya bernama andri. Suaranya
lebih parah, lebih pecah dan lebih memalukan. Dia pede amet, heran itu udel dia
taruh mana. Emang sih dia cakep tapi suara dia gak secakep mukanya. Ancur abis.
Suaranya lebih parah dari teriakan mr.slam. tapi dia tetep pede nyanyi. Lagu yang
dibawain adalah lagu ungu feat chrisye berjudul cinta yang lain. Bagiku lagu
ini gak susah-suah amet buat dinyanyiin #sombong. Sumpah parah. Dia nyanyi
sampai turun dari panggung dan berteriak “ayo semua ikut bernyanyi” dengan
pedenya.
“astaga,
makhluk kayak gini masih ada didunia ini” gumamku dalam hati. Harusnya makhluk
kayak gini uda punah. Kalo suara bagus okelah aku memaklumi. Ini benar-benar parah.
Mendingin dengerin kucing nyanyi deh. Tapi hikmah dari kejadian ini, rasa
maluku menghilang secara perlahan karena ada yang lebih parah ternyata. Terima kasih
tuhan telah menciptakan makhluk tak tau malu seperti dia. Setidaknya aku kami
anak X-2 yang perform tadi derajatnya lebih terangkat karena ada makhluk
seperti dia.
Untuk
menghindari hal memalukan seperti tadi maka aku lebih selektif untuk memilih
band. Kalo personilnya oke, poles sedikit jadi istimewa aku mau mengiringi. Kalau
pecah kayak waktu MOS sih gak bakal mau. Pikir seribu kali. Bandku sekarang The
bandits mengusung aliran punk rock. Lagu pertama yang kami bawakan bersama
haruka kanata dari band jepang bernama Asian Kung-Fu Generation. Alasan membawakan
lagu itu adalah film naruto lagi booming. Kita gak bisa seperti naruto yang
bisa mengeluarkan jurus-jurus keren jadi setidaknya kami bisa membawakan Ost
dari film ini saja sudah berasa jadi anak gaul pencinta naruto.
Band ini tidak
bertahan lama. Andre dan aurel pindah sekolah. Well meski band ini tidak
bertahan lama tapi asik juga mengingat awal-awal mencari jati diri menjadi seorang
musisi. Bahkan kami saat itu telah memikirkan nama panggung masing-masing. Dan aku
masih ingat nama panggungku adalah ochi. Gak ada hubungannya dari nama asliku. Tapi
kebanyakan musisi terkenal kan seperti itu namanya tidak nyambung dari nama
sebenernya. Sigit Purnomo Syamsuddin menjadi Pasha, Samidjan
menjadi Ian Kasela. Aneh sih tapi booming. Aku juga gak mau kalah dari Prabu
Prasetya Meifa menjadi Ochi. #akibatpergaulanlabil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar