Minggu, 09 Maret 2014

Gadis Pembawa Tornado



Karena aku ingin mengikuti lombanya om Indra wijaya *garis bawahi kata om* penulis buku tulang rusuk susu, maka aku menulis tentang dia lebih cepat. *merusak planning yang ada nih sayembara*. Dia yang namanya tidak ingin aku ucapkan lagi layaknya seorang voldemort di film harry muter. Butuh seratus juta pembuka segel hati untuk mengingat kembali masa-masa indah dan kelam dengannya. *cieeee*

Namanya Lidia. Adek kelasku di SMA yang bisa membuat hatiku berdebar kencang layaknya sedang naik tornado. Dia cewek idamanku banget saat itu. Rambut panjang mengurai, senyuman manis dengan gingsul gigi, tubuh proposional dan muka-muka oriental. Pokoknya sipskay. Intinya  perawakan kayak kuntilanak tapi kakinya napak ketanah .

Awalku mengetahui dia *masih belum kenal*, saat aku sedang makan pada jam istirahat pagi. Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh seorang cewek yang jalan ditengah lapangan dengan rambut terhempaskan angin kayak di sinetron-sinetron indonesia. Aku berkata dalam hati “ternyata bidadari itu memang sungguh ada di dunia ini”. Aku tak menyangka, setelah 5 tahun gak ada cewek yang bisa mendebarkan jantungku dengan cepatnya *bukannya aku gak laku luh ya*, hari itu hanya dengan hanya memandangnya jantungku berdebar dengan kencang serasa lagi dikocok dalam gelas arisan. Keluar kertas yang bertulisan “pemenang hati prabu prasetya meifa untuk saat ini adalah dia yang jalan ditengah lapangan. Selamat”.

Pada saat itu aku belum tahu siapa namanya. Tapi sesuai cita-cita ku saat SD dulu yang ingin menjadi Sherlock Holmes, mendapatkan serpihan-serpihan data pribadi dia tidaklah susah. *sombong*. Awalku mencari tau tentang dia dengan satu kalimat pertanyaan “kelas X berapakah dia?”. Dengan mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, maka aku bisa mengembangkan hasil analisisku yang lain. *cerdas*.

Kebetulan aku anak basket waktu itu, dan kegiatanku adalah menyeleksi anak kelas X yang ingin masuk kedalam team. Nah dari sinilah pencarian jawaban dimulai. Saat acara seleksi selesai, aku mulai bertanya kepada anak-anak kelas X. “eh dari kalian ada yang kenal sama cewek cina yang ada gingsulnya” tanyaku pada mereka yang duduk disebelahku.

“yang mana kak? Ada ciri-ciri lebih detail lagi gak?” jawab anak sebelah kananku.

“pokoknya yang cina, pendek, rambut panjang, punya gingsul trus kalau jalan kekantin mesti sama temannya yang gendut kayak babon mata merah menyala”

“oh itu kak namanya lidia anak kelas X-1” teriak salah satu anak yang ada didepanku

“kamu kenal?”

“kenal kak, kebetulan dia satu kelas denganku”

“mintain nomer Hpnya dong”

“gak berani kak, dia galak kayak mak lampir”

“ah serius kamu?”

“serius”

Aku gak gentar meski baru mendapatkan satu bukti bahwa dia itu galak kayak mak lampir. Cinta membutakan semuanya guys. Apapun itu yang menurut kita jelek kadang malah menjadi nilai tantangan tersendiri. Semakin ingin mengejarnya dan mendapatkan cintanya *cieeee*. Sekarang aku fokus berfikir bagaimana caraku untuk lebih mendekatkan diri dengan dia aja.

Kedua temanku, jisunk dan farid adalah anak OSIS. Mereka mengajakku untuk menjadi OSIS waktu itu. Tapi aku menolak, karena yang aku tau jadi anggota OSIS itu selalu rapat setelah pulang sekolah. Ya males, ketinggalan nonton spongebob dong aku ntar kalo pulang gak tepat waktu. Tapi mereka tetap ngotot bahwa aku harus ikut. Dan untuk jadi anak OSIS bakal ada tradisinya yaitu LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) *kalau gak salah, berarti bener*.

“ayo bu pokoknya kamu harus ikut” paksa jisunk yang kebetulan satu kelas denganku

“kagak wah, ngapain ikut gituan, yang ada malah disiksa”

“ayolah ikut, temeni aku. Anak XI IPS 2 yang ikut Cuma aku doang nih”

“ah tampangmu doang yang serem, hatimu kayak hello kitty. LDKS aja minta ditemeni”

“yawda kalo gak mau. Tapi denger-denger, semua anak kelas X wajib ikut LDKS luh”

“ah serius? Kamu luh tukang bohong”

“kagak, serius ini”

Setelah mendengar informasi dari jisunk kalo anak X wajib ikut LDKS, berarti otomatis si lidia juga ikut dong. Yang tadinya aku tidak ingin ikut, akhirnya malah jadi yang paling semangat dari jisunk dan farid. Wajar guys ada misi terselubungnya nih. Hehehe

Hari H untuk LDKS tiba. Farid dan jisunk seneng banget aku ikut. Aku sih gak peduli mereka mau seneng atau enggak aku ikut, yang penting bagiku adalah selangkah lebih maju dekat dengan lidia. Anak kelas X yang ikut jumlahnya banyak banget, ada sekitar 100 anak. Sedangkan kami yang kelas XI hanya berjumlah 20 orang.

Aku ingat saat itu ada 2 bis yang akan mengangkut kami, X-1 dan X-2 di bis 1 kemudian X-3 dan X-4 di bis 2. Nah karena aku tau dia X-1 dan ada di bis 1 maka bagaimana pun caranya aku harus berada di satu bis yang sama dengan dia. waktu itu aku hasut semua anak kelas XI yang dekat denganku untuk masuk ke bis 1 dengan cara hipnotis. Tatap mata saya #absurd. Dan mereka pun setuju. Jeng jeng, aku berada di bis 1 dan duduk tepat dibelakang dia. wuiihhh senangnya hatiku turun panas demamku, insana oh insana.

Didalam bis suasana panas banget, bukan panas gara-gara hatiku sedang terbakar asmara cinta, tapi emang gara-gara bisnya yang bisa dibilang gak layak pakai. Serasa berada di oven, dan jendela adanya hanya dibagian atas kursi. Jika kita ingin menikmati udara segar maka  harus naik ke bagian sandaran kursi. Jahanam sekali panasnya.

Semua yang ada didalam bis kepanasan dan berteriak “ AIR !, AIR !” seperti lagi nonton konser Slank. Parah deh pokoknya itu bis. Tapi dari rasa panas ini ada untungnya bagiku. Iya bagiku. Dimana dia sekarang berada tepat di hadapanku. Yang tadinya aku tidak bisa melihatnya meski duduk tepat dibelakangnya, sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Karena dia duduk disandara kursi untuk menikmati udara segar.

Kumulai curi-curi pandang melihatnya. Mengagumi semua keindahan dengan tatapan mataku. “ini surga didalam neraka”. Tanpa diduga dia ternyata menyadari kalau aku sedang memandangi dia dengan mulut menganga. Gengsi dong tentunya, jadi kualihkan pandangan jika dia mengarahkan tatapannya padaku. Selama perjalanan sampai ke tempat LDKS, hal seperti ini terjadi terus. Aku memandanginya dalam, dalam dan lebih dalam. *cakep*

Setelah mendekam dalam bis yang panasnya seperti neraka, akhirnya kami sampai di tempat LDKS dengan diiringi turunnya hujan yang membasahi bumi. Yang tadi panas, sekarang malah jadi dingin pake banget. Bisa-bisa kena insomnia nih aku. Lho.

“ayo letakkan barang bawaan kalian di Kamar masing-masing. Cepat !!!” teriak seorang trainer.

Sial banget baru aja sampe uda diperlakukan kayak tahanan aja. kalau bukan demi deket sama dia, gak bakal deh mau ikutan yang kayak ginian. Disiksa secara halus. Ditengah hujan semua anak membawa barang bawaannya ke kekamar masing-masing. Aku kira setelah masuk kamar keadaan sudah aman, tapi ternyata tidak.

“dalam hitungan ke sepuluh kalian harus sudah berbaris ditengah lapangan !!!”

Kampret banget nih trainer, kita disuruh baris ditengah hujan. Coba kalo aku punya hamehameha udah aku keluarin buat nerbangin tuh trainer keneraka. Peserta hujan-hujan, para trainer pake payung sambil memperkenalkan diri dan ceramah tentang kegiatan yang akan kami lakukan. Acara awal yang kami lakukan adalah pembagian kelompok.

“ayo berhitung dari kiri ke kanan mulai dari angka 1 sampai 6” ujar kakak trainer yang badannya kayak buto ijo

“1 2 3 4 5 6” ya begitulah suara yang terdengar oleh semua peserta ditengah guyuran hujan, begitu juga aku. Diam-diam aku menghitung dan menebak-nebak sendiri siapa kelompokku. Pertama aku senang karena sesuai perhitunganku farid ada dalam kelompokku. Lalu aku mencari-cari lidia. Dia ada di pojok baris ke 3. Aku hitung dan ternyata dari hitunganku dia masuk kelompokku. Seneng dong. Tapi waktu itu dia tiba-tiba berteriak “tiga”. “hah tiga?” aku heran. “Bukannya empat?” ternyata aku melewatkan menghitung teman disebelahnya sehingga ternyata dia tidak sekelompok denganku. *apes*. Tapi gapapa yang penting selama 3 hari kedepan aku bisa memandangi dia lebih dekat.

Sebuah gelang kaki. Itulah yang menjadi pembeda antara dia dan cewek lain saat itu. Dipakai di kaki sebelah kiri dengan balutan kaos kaki dibawah mata kaki berwarna pelangi. Setiap acara baris-berbaris aku selalu mencari gelang kaki tersebut untuk tidak melewatkan moment tentang dia, apalagi senyumannya. Bagaikan obat bius. Melumpuhkan hatiku.

Dihari ke 2 LDKS aku mendapatkan sebuah moment berkenalan dengan dia. *cieee*. Saat acara mendaki gunung. Kelompok dia berjalan tepat didepan kelompokku. Dia berjalan pada barisan akhir kelompoknya sedangkan aku berada dibagian depan kelompokku. Setiap ada tanjakan, aku ulurkan tangganku untuk membantunya. Yang paling kasihan adalah temannya yang gendut. Anak-anak parah gak ada yang mau nolongin. *berdosa kalian*. Ya supaya tidak ketahuan kalo aku diam-diam suka sama lidia, kutolong juga temannya.

Tapi ditengah perjalanan mendaki gunung, ada temanku yang mulai mendekati dia ternyata. Dia selalu mengulurkan tangganya sebelumku. Tapi ketika aku mengulurkan tanganku untuk membantunya, dia selalu menerima uluran tanganku sambil tersenyum dan berkata “makasih”. Senyumannya benar-benar menyejukkan batinku. Karena aku sok cool, jadi aku hanya balas dengan tersenyum. Kenapa? Riset membuktikan bahwa cewek itu suka cowok yang cool dan mesterius. Ya kayak Mr.Bean mungkin yang jarang ngomong tapi lebih banyak bertindak.

Ketika berada di puncak, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada dia. “nama kamu siapa?”
“lidia”
Dari sinilah setiap aku berpapasan dengan dia, aku selalu tersenyum padanya, begitu juga sebaliknya.
Emang sih setelah kejadian itu, gosip tentang aku suka dia mulai menyebar. Dan entah dari mana dia mengetahui namaku. Setiap dia berpapasan denganku, selalu menyapa dengan nada yang khas “prabuuuuu”. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia menyapaku seperti itu.

Hari pulangpun tiba, aku tetap satu bis dengan dia. Saat perjalan pulang aku tetep tersenyum memandanginya. Sesampai di sekolah, aku bertanya nomer Hpnya. Dia menjawab dan aku mencatat dengan penuh ketelitian.

“kamu pulang sama siapa?”

“sama tanteku, kenapa?”

“oh gapapa, aku kira gak ada yang nganter. Kalo mau bareng aku aja”

“enggak deh, itu aku udah dijemput”

“yawda hati”

Gak sia-sia ternyata aku ikut LDKS. Selangkah lebih maju. Hohoho masterkan. Tapi meski sudah dapat nomer Hpnya, aku tidak langsung menghubunginya. Ya antara malu tidak dibalas dan gengsi. Disekolah, gosip tentang aku suka dia makin tersebar luas. Entah infotaiment mana yang menyebarkan ini semua. Dan dia makin intens memanggilku namaku setiap berpapasan. “prabuuuu”

Teman-temanku yang mendengar sapaan itu selalu mengkompor-kompori. “cieeeee prabu rek. Laku” Laku? Dikira barang bekas apa yang gak laku- laku. Gini-gini aku famous kali. Ya Cuma akunya aja pilih-pilih cewek. Dan baru lidia yang bisa menarik perhatianku.

Selama satu bulan hanya kejadian seperti ini yang terjadi. Berulang-ulang seperti de javu. Hingga pada suatu hari aku bertemu dengannya disebuah acara Mading Surabaya. Aku sedang makan bersama teman-temanku di food court sambil mengomentari setiap orang yang berjalan dihadapan kami layaknya komentator fashion terkemuka.

“lihat bajunya. Gak macing sama kulitnya” ketus farid

“iya gak banget sob. Coba dia pake baju yang lebih soft color pasti lebih keren” timpal jisunk

Aku heran dengan mereka. Muka-muka preman tapi yang dibicarain cucok banget. Kejantanan mereka menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka memang tulen seorang laki-laki atau tulang lunak. Aku hanya menghela nafas jika mereka mengomentari orang-orang yang lewat seperti itu. Coba kalau mereka bukan temanku. Uda aku jorokin dari lantai 3 mall ke lantai dasar. Malu-maluin aja. wajah sangar tapi kerjaannya gosip kayak ibu-ibu lagi beli sayur.

Ketika aku tertunduk lesu dan jenuh mendengar celotehan tuh anak dua, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menempel pada tanganku. “hah tangan siapakah ini?” sambil terkejut dalam hati. Tadinya aku mengira ini tangan malaikat pencabut nyawa, tapi ternyata itu tangan dari bidadari penyelamat jiwa. Bagaimana tidak, lidia tiba-tiba muncul dihadapanku. Apakah ini mimpi? Awalnya aku berfikir demikian tapi setelah aku menendang farid dan dia menjerit kesakitan berarti menandakan kalau ini bukan mimpi. Sekali lagi ini bukan mimpi.

“luh lidia, ngapain kamu disini?” tanyaku

“habis liat mading tadi. Sekarang lagi nunggu tante jemput”

“kamu sendirian?”

“tadi sih enggak tapi sekarang sih iya. Teman-temanku udah pulang duluan”

Kami pun bercakap-cakap banyak hari itu. Aku menemaninya sampai dia benar-benar dijemput. Ya kapan lagi aku ngobrol berdua sama dia kayak gini. Jarang terjadi. Wajar aku pemalu. Ketika didepan cewek yang aku suka, aku gak tau harus bertingkah seperti apa. Takut salah tingkah. Aku sudah gak peduli sama teman-teman disekitar. Fokusku hanya lidia seorang saat itu.

Obrolan kami tidak berakhir sampai disitu saja. Iya kami makin dekat. Makin intens berkomunikasi. Setiap malam aku menanti kabar dari dia. begitu pula dia. Mungkin. Pikiranku sekarang telah diisi oleh dia yang mengambang-ngambang dipikiranku.

Suatu hari disekolah. Aku ingat saat itu tanggal 19 Desember 2008. Jarak kami hanya dipisahkan oleh lantai, aku iseng mengungkapkan persaanku padanya. “lidia, tau gak kalau aku diam-diam suka sama kamu?”

“tau kok”

“hah? Tau dari mana?”

“iya kan banyak gosip yang beredar kalo kamu suka aku”

“kalau gitu mau gak kamu jadi pacarku? Nanti pulang aku tunggu diparkiran kalo nerima berarti aku anterin kamu pulang tapi kalau enggak yawda”

Ini nembak model apa sih? Kagak ada romantis-romantisnya. Wajarlah anak SMA kantong cekak, gak cukup buat nyiapin surprise penembakan. Lagian aku bilang gitu juga iseng. Diterima alhamdulilah, gak diterima ya terjun dari lantai 3 sekolah.

Ternyata, eh ternyata *jenjeng*. Dia datang menghampiriku di parkiran saat akan pulang. Lalu dia berkata. “jadi anterin aku pulang?”

Tau kan artinya? Iya aku diterima oleh dia. hohoho. Ya meski prosesnya aneh dan tak seromantis film korea tapi aku bisa dapetin hatinya. *uyeee*. Saat itu banyak anak-anak cewek yang melihat aku mengantarkan pulang lidia. Mereka heran “kok prabu jalan sama lidia? Mereka pacaran?”. Ya kami memang pacaran. Patah hatilah kalian yang selama ini menyukaiku hahaha *tertawa licik dan sadis*.

Ya akhirnya aku hidup bahagia dengan dia selamanya. Kami menjalani hari-hari bagaikan kekasih yang menganggap dunia ini milik berdua. Tiap hari aku kerumahnya, makan bareng, ngerjain tugas bareng *yang ini bohong*, pokonya menghabiskan waktu bersama terus. Tulang rusukku yang hilang akhirnya telah menempel kembali dibadanku. Happy ending :*. I LOVE LIDIA .
.

.
 
.

.

.

.

.

Tapi oh tapi. Kita lupakan kata-kata happy ending. Luh kenapa?. Penulis Cuma pengen cerita ini seperti didalam dongeng sebelum tidur. Yang sebenarnya terjadi adalah.......

8 Bulan kemudian

Lidia mulai aneh, aneh kenapa? Dia alien?. Bukan, dia bukan alien tapi dia grim reaper. Biasanya kami berkomunikasi dengan mesra dan menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang tidak lagi, semenjak dia mengenal seorang cowok anak band. Dia kakak kelasku, seorang drummer band. Emang sih saat itu ini band lagi booming disekolahku. Dan aku kecolongan. Ternyata diam-diam lidia menyelingkuhi secara halus nan menusuk. Awal aku memang curiga karena ada perubahan yang sangat drastis dari sifat dan perhatiannya padaku. Tapi aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.

Banyak alasannya untuk menghindariku. Alasan hp ketinggalan lah, ketiduran lah, atau lupa lah. *gila parah, lupa pacar sendiri, tapi selingkuhan inget*. Puncaknya dia memilih meninggalkanku.
“yank*”

“iya apa?”

“kita putus aja yah, aku lagi pengen sendiri. Kamu lupain aku cari yang lebih baik dari aku”

Jantungku berdetak tak karuan, perasaanku campur aduk seperti sedang diterbangkan oleh sebuah tornado. Bagaimana tidak, tanpa alasan yang jelas dia memutuskanku. Meski aku menahan dan memohon-mohon seperti orang gila, dia tetap teguh pada pendiriannya.

Aku pasrah, aku frustasi. Alasan klasik seorang cewek mutusin cowoknya adalah 1). Kamu terlalu baik buat aku. Dapet yang baik malah gak mau. Maunya apa. 2) aku mau sendiri. Sendiri apanya? 2 hari setelah putus uda dapat pacar baru. Ah kampret. Pokoknya kampret. Aku gak bisa terima kenyataan ini waktu itu.

Entah bisikan dari mana. Entah iblis apa yang membisiki telingaku saat itu. Ketika aku melihat racun serangga, tiba-tiba ada yang bilang.

“minumlah aku, minum”

“apa minum kamu?” jawabku

“rasaku seperti buah kelapa, kamu akan langsung pergi kealam damaimu”

Mendengar kata alam damai, aku merasa terpana. Memang saat itu aku udah bosen hidup. Ditinggal lidia membuatku buta. Buta hati. Setiap perkataan temanku yang bilang kalau aku harus sabar tidak aku dengarkan. Kenapa juga hanya kata sabar yang ada? gak ada apa kata yang lebih bisa nenangin orang yang lagi patah hati selain kata sabar? Kenapa sabar mulu? Kenapa?

Akhirnya aku meminum racun serangga. Dengan maksud agar dia menyesal telah meninggalkanku. Dan akan dilihat adalah jasadku yang terbujur kaku. Aku ingin dia merasa menyesal telah meninggalkanku. Tapi sepertinya yang menyesal itu aku deh. Bagaimana tidak. Setelah minum racun serangga aku merasa tubuhku lemah tak berdaya. Ini rasa sakit yang paling sakit yang pernah aku alami selama ini.

Mamaku kaget melihat aku telah tergeletak dilantai. Dalam hati aku berkata, “yes aku bakal dibawa kerumah sakit oleh mamaku naek ambulan”. Awalnya aku berfikir demikian tapi ternyata tidak. Aku dibawa kepuskesmas dekat rumah naik becak. Sialan banget gak jadi keren dan dramatis. Dan yang parahnya lagi ketika diperiksa dokter, dokternya bilang kayak gini, “anak ibu gak apa-apa kok, Cuma masuk angin doang”.

“apa masuk angin? Kampret banget nih dokter. Aku ini habis minum racun serangga. Dokter gadungan nih” celotehku dalam hati. Ya mamaku yang mendengar itu tersenyum bahagia karena anaknya Cuma masuk angin. Tapi aku kecewa karena hal yang aku pikirkan bakal dramatis kayak di TV-TV berakhir dengan kata-kata seorang dokter yang bilang “aku hanya masuk angin” fakk banget dah.

Setelah kejadian itu, aku mulai belajar bangkit dari keterpurukanku dan menerima kenyataan kalau lidia meninggalkanku demi orang yang lebih baik dari aku. Cowok yang bahagiain dia saat itu adalah kakak kelasku yang seorang drummer.

Setiap aku melihat dia bermesraan dengan pacar barunya, aku merasa hatiku tersayat tipis. Halus nan menyakitkan. Ya tapi mau gimana lagi. Apakah aku harus menggangu hubungan orang yang telah bahagia? Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku berusaha untuk mengobati rasa sakit dihatiku ini.

Ketika bersama lidia, aku merasa lebih jauh dengan teman-temanku. Tapi ketika aku terpuruk seperti ini, mereka tetep merangkulku dan memberiku semangat untuk bangkit. Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu “aku tidak akan meninggalkan sahabat-sahabatku lagi. Karena apa? Disaat aku terpuruk seperti ini mereka yang selalu ada bukan lidia. Terima kasih sahabat sahabatku. Persahabatan kita memang seperti kepompong.

Akhir cerita ini apa? Akhirnya aku bangkit dan melupakan lidia dengan bantuan sahabat-sahabatku. Lalu tulang rusuk yang kemarin lengkap sekarang bagaimana? Hilang sudah diterbangkan angin tornado entah kemana. Aku tidak menyesal, setidaknya aku makin dewasa setelah kejadian ini. Cinta memang bakal datang dan pergi sehingga kita harus siap untuk merasa kehilangan jika hal itu terjadi secara tiba-tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar