Karena aku ingin
mengikuti lombanya om Indra wijaya *garis bawahi kata om* penulis buku tulang
rusuk susu, maka aku menulis tentang dia lebih cepat. *merusak planning yang
ada nih sayembara*. Dia yang namanya tidak ingin aku ucapkan lagi layaknya
seorang voldemort di film harry muter. Butuh seratus juta pembuka segel hati untuk
mengingat kembali masa-masa indah dan kelam dengannya. *cieeee*
Namanya Lidia.
Adek kelasku di SMA yang bisa membuat hatiku berdebar kencang layaknya sedang
naik tornado. Dia cewek idamanku banget saat itu. Rambut panjang mengurai,
senyuman manis dengan gingsul gigi, tubuh proposional dan muka-muka oriental.
Pokoknya sipskay. Intinya perawakan
kayak kuntilanak tapi kakinya napak ketanah .
Awalku
mengetahui dia *masih belum kenal*, saat aku sedang makan pada jam istirahat
pagi. Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh seorang cewek yang jalan ditengah
lapangan dengan rambut terhempaskan angin kayak di sinetron-sinetron indonesia.
Aku berkata dalam hati “ternyata bidadari itu memang sungguh ada di dunia ini”.
Aku tak menyangka, setelah 5 tahun gak ada cewek yang bisa mendebarkan
jantungku dengan cepatnya *bukannya aku gak laku luh ya*, hari itu hanya dengan
hanya memandangnya jantungku berdebar dengan kencang serasa lagi dikocok dalam
gelas arisan. Keluar kertas yang bertulisan “pemenang hati prabu prasetya meifa
untuk saat ini adalah dia yang jalan ditengah lapangan. Selamat”.
Pada saat itu
aku belum tahu siapa namanya. Tapi sesuai cita-cita ku saat SD dulu yang ingin
menjadi Sherlock Holmes, mendapatkan serpihan-serpihan data pribadi dia
tidaklah susah. *sombong*. Awalku mencari tau tentang dia dengan satu kalimat
pertanyaan “kelas X berapakah dia?”. Dengan mendapatkan jawaban dari pertanyaan
itu, maka aku bisa mengembangkan hasil analisisku yang lain. *cerdas*.
Kebetulan aku
anak basket waktu itu, dan kegiatanku adalah menyeleksi anak kelas X yang ingin
masuk kedalam team. Nah dari sinilah pencarian jawaban dimulai. Saat acara
seleksi selesai, aku mulai bertanya kepada anak-anak kelas X. “eh dari kalian ada
yang kenal sama cewek cina yang ada gingsulnya” tanyaku pada mereka yang duduk
disebelahku.
“yang mana kak?
Ada ciri-ciri lebih detail lagi gak?” jawab anak sebelah kananku.
“pokoknya yang
cina, pendek, rambut panjang, punya gingsul trus kalau jalan kekantin mesti
sama temannya yang gendut kayak babon mata merah menyala”
“oh itu kak
namanya lidia anak kelas X-1” teriak salah satu anak yang ada didepanku
“kamu kenal?”
“kenal kak,
kebetulan dia satu kelas denganku”
“mintain nomer
Hpnya dong”
“gak berani kak,
dia galak kayak mak lampir”
“ah serius
kamu?”
“serius”
Aku gak gentar
meski baru mendapatkan satu bukti bahwa dia itu galak kayak mak lampir. Cinta
membutakan semuanya guys. Apapun itu yang menurut kita jelek kadang malah
menjadi nilai tantangan tersendiri. Semakin ingin mengejarnya dan mendapatkan
cintanya *cieeee*. Sekarang aku fokus berfikir bagaimana caraku untuk lebih
mendekatkan diri dengan dia aja.
Kedua temanku,
jisunk dan farid adalah anak OSIS. Mereka mengajakku untuk menjadi OSIS waktu
itu. Tapi aku menolak, karena yang aku tau jadi anggota OSIS itu selalu rapat
setelah pulang sekolah. Ya males, ketinggalan nonton spongebob dong aku ntar
kalo pulang gak tepat waktu. Tapi mereka tetap ngotot bahwa aku harus ikut. Dan
untuk jadi anak OSIS bakal ada tradisinya yaitu LDKS (Latihan Dasar
Kepemimpinan Siswa) *kalau gak salah, berarti bener*.
“ayo bu pokoknya
kamu harus ikut” paksa jisunk yang kebetulan satu kelas denganku
“kagak wah,
ngapain ikut gituan, yang ada malah disiksa”
“ayolah ikut,
temeni aku. Anak XI IPS 2 yang ikut Cuma aku doang nih”
“ah tampangmu
doang yang serem, hatimu kayak hello kitty. LDKS aja minta ditemeni”
“yawda kalo gak
mau. Tapi denger-denger, semua anak kelas X wajib ikut LDKS luh”
“ah serius? Kamu
luh tukang bohong”
“kagak, serius
ini”
Setelah
mendengar informasi dari jisunk kalo anak X wajib ikut LDKS, berarti otomatis si
lidia juga ikut dong. Yang tadinya aku tidak ingin ikut, akhirnya malah jadi
yang paling semangat dari jisunk dan farid. Wajar guys ada misi terselubungnya
nih. Hehehe
Hari H untuk
LDKS tiba. Farid dan jisunk seneng banget aku ikut. Aku sih gak peduli mereka
mau seneng atau enggak aku ikut, yang penting bagiku adalah selangkah lebih
maju dekat dengan lidia. Anak kelas X yang ikut jumlahnya banyak banget, ada
sekitar 100 anak. Sedangkan kami yang kelas XI hanya berjumlah 20 orang.
Aku ingat saat
itu ada 2 bis yang akan mengangkut kami, X-1 dan X-2 di bis 1 kemudian X-3 dan
X-4 di bis 2. Nah karena aku tau dia X-1 dan ada di bis 1 maka bagaimana pun
caranya aku harus berada di satu bis yang sama dengan dia. waktu itu aku hasut
semua anak kelas XI yang dekat denganku untuk masuk ke bis 1 dengan cara
hipnotis. Tatap mata saya #absurd. Dan mereka pun setuju. Jeng jeng, aku berada
di bis 1 dan duduk tepat dibelakang dia. wuiihhh senangnya hatiku turun panas
demamku, insana oh insana.
Didalam bis
suasana panas banget, bukan panas gara-gara hatiku sedang terbakar asmara
cinta, tapi emang gara-gara bisnya yang bisa dibilang gak layak pakai. Serasa
berada di oven, dan jendela adanya hanya dibagian atas kursi. Jika kita ingin
menikmati udara segar maka harus naik ke
bagian sandaran kursi. Jahanam sekali panasnya.
Semua yang ada didalam
bis kepanasan dan berteriak “ AIR !, AIR !” seperti lagi nonton konser Slank.
Parah deh pokoknya itu bis. Tapi dari rasa panas ini ada untungnya bagiku. Iya
bagiku. Dimana dia sekarang berada tepat di hadapanku. Yang tadinya aku tidak
bisa melihatnya meski duduk tepat dibelakangnya, sekarang aku bisa melihatnya
dengan jelas. Karena dia duduk disandara kursi untuk menikmati udara segar.
Kumulai
curi-curi pandang melihatnya. Mengagumi semua keindahan dengan tatapan mataku.
“ini surga didalam neraka”. Tanpa diduga dia ternyata menyadari kalau aku
sedang memandangi dia dengan mulut menganga. Gengsi dong tentunya, jadi kualihkan
pandangan jika dia mengarahkan tatapannya padaku. Selama perjalanan sampai ke
tempat LDKS, hal seperti ini terjadi terus. Aku memandanginya dalam, dalam dan
lebih dalam. *cakep*
Setelah mendekam
dalam bis yang panasnya seperti neraka, akhirnya kami sampai di tempat LDKS
dengan diiringi turunnya hujan yang membasahi bumi. Yang tadi panas, sekarang
malah jadi dingin pake banget. Bisa-bisa kena insomnia nih aku. Lho.
“ayo letakkan
barang bawaan kalian di Kamar masing-masing. Cepat !!!” teriak seorang trainer.
Sial banget baru
aja sampe uda diperlakukan kayak tahanan aja. kalau bukan demi deket sama dia,
gak bakal deh mau ikutan yang kayak ginian. Disiksa secara halus. Ditengah
hujan semua anak membawa barang bawaannya ke kekamar masing-masing. Aku kira
setelah masuk kamar keadaan sudah aman, tapi ternyata tidak.
“dalam hitungan
ke sepuluh kalian harus sudah berbaris ditengah lapangan !!!”
Kampret banget
nih trainer, kita disuruh baris ditengah hujan. Coba kalo aku punya hamehameha
udah aku keluarin buat nerbangin tuh trainer keneraka. Peserta hujan-hujan,
para trainer pake payung sambil memperkenalkan diri dan ceramah tentang
kegiatan yang akan kami lakukan. Acara awal yang kami lakukan adalah pembagian
kelompok.
“ayo berhitung
dari kiri ke kanan mulai dari angka 1 sampai 6” ujar kakak trainer yang
badannya kayak buto ijo
“1 2 3 4 5 6” ya
begitulah suara yang terdengar oleh semua peserta ditengah guyuran hujan,
begitu juga aku. Diam-diam aku menghitung dan menebak-nebak sendiri siapa
kelompokku. Pertama aku senang karena sesuai perhitunganku farid ada dalam
kelompokku. Lalu aku mencari-cari lidia. Dia ada di pojok baris ke 3. Aku
hitung dan ternyata dari hitunganku dia masuk kelompokku. Seneng dong. Tapi
waktu itu dia tiba-tiba berteriak “tiga”. “hah tiga?” aku heran. “Bukannya
empat?” ternyata aku melewatkan menghitung teman disebelahnya sehingga ternyata
dia tidak sekelompok denganku. *apes*. Tapi gapapa yang penting selama 3 hari
kedepan aku bisa memandangi dia lebih dekat.
Sebuah gelang
kaki. Itulah yang menjadi pembeda antara dia dan cewek lain saat itu. Dipakai
di kaki sebelah kiri dengan balutan kaos kaki dibawah mata kaki berwarna
pelangi. Setiap acara baris-berbaris aku selalu mencari gelang kaki tersebut
untuk tidak melewatkan moment tentang dia, apalagi senyumannya. Bagaikan obat
bius. Melumpuhkan hatiku.
Dihari ke 2 LDKS
aku mendapatkan sebuah moment berkenalan dengan dia. *cieee*. Saat acara mendaki
gunung. Kelompok dia berjalan tepat didepan kelompokku. Dia berjalan pada barisan
akhir kelompoknya sedangkan aku berada dibagian depan kelompokku. Setiap ada
tanjakan, aku ulurkan tangganku untuk membantunya. Yang paling kasihan adalah
temannya yang gendut. Anak-anak parah gak ada yang mau nolongin. *berdosa
kalian*. Ya supaya tidak ketahuan kalo aku diam-diam suka sama lidia, kutolong
juga temannya.
Tapi ditengah
perjalanan mendaki gunung, ada temanku yang mulai mendekati dia ternyata. Dia
selalu mengulurkan tangganya sebelumku. Tapi ketika aku mengulurkan tanganku
untuk membantunya, dia selalu menerima uluran tanganku sambil tersenyum dan
berkata “makasih”. Senyumannya benar-benar menyejukkan batinku. Karena aku sok
cool, jadi aku hanya balas dengan tersenyum. Kenapa? Riset membuktikan bahwa
cewek itu suka cowok yang cool dan mesterius. Ya kayak Mr.Bean mungkin yang
jarang ngomong tapi lebih banyak bertindak.
Ketika berada di
puncak, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada dia. “nama kamu siapa?”
“lidia”
Dari sinilah
setiap aku berpapasan dengan dia, aku selalu tersenyum padanya, begitu juga
sebaliknya.
Emang sih
setelah kejadian itu, gosip tentang aku suka dia mulai menyebar. Dan entah dari
mana dia mengetahui namaku. Setiap dia berpapasan denganku, selalu menyapa
dengan nada yang khas “prabuuuuu”. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia
menyapaku seperti itu.
Hari pulangpun
tiba, aku tetap satu bis dengan dia. Saat perjalan pulang aku tetep tersenyum
memandanginya. Sesampai di sekolah, aku bertanya nomer Hpnya. Dia menjawab dan
aku mencatat dengan penuh ketelitian.
“kamu pulang
sama siapa?”
“sama tanteku,
kenapa?”
“oh gapapa, aku
kira gak ada yang nganter. Kalo mau bareng aku aja”
“enggak deh, itu
aku udah dijemput”
“yawda hati”
Gak sia-sia
ternyata aku ikut LDKS. Selangkah lebih maju. Hohoho masterkan. Tapi meski
sudah dapat nomer Hpnya, aku tidak langsung menghubunginya. Ya antara malu
tidak dibalas dan gengsi. Disekolah, gosip tentang aku suka dia makin tersebar
luas. Entah infotaiment mana yang menyebarkan ini semua. Dan dia makin intens
memanggilku namaku setiap berpapasan. “prabuuuu”
Teman-temanku
yang mendengar sapaan itu selalu mengkompor-kompori. “cieeeee prabu rek. Laku”
Laku? Dikira barang bekas apa yang gak laku- laku. Gini-gini aku famous kali.
Ya Cuma akunya aja pilih-pilih cewek. Dan baru lidia yang bisa menarik
perhatianku.
Selama satu
bulan hanya kejadian seperti ini yang terjadi. Berulang-ulang seperti de javu.
Hingga pada suatu hari aku bertemu dengannya disebuah acara Mading Surabaya.
Aku sedang makan bersama teman-temanku di food court sambil mengomentari setiap
orang yang berjalan dihadapan kami layaknya komentator fashion terkemuka.
“lihat bajunya.
Gak macing sama kulitnya” ketus farid
“iya gak banget
sob. Coba dia pake baju yang lebih soft color pasti lebih keren” timpal jisunk
Aku heran dengan
mereka. Muka-muka preman tapi yang dibicarain cucok banget. Kejantanan mereka
menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka memang tulen seorang laki-laki atau
tulang lunak. Aku hanya menghela nafas jika mereka mengomentari orang-orang
yang lewat seperti itu. Coba kalau mereka bukan temanku. Uda aku jorokin dari
lantai 3 mall ke lantai dasar. Malu-maluin aja. wajah sangar tapi kerjaannya
gosip kayak ibu-ibu lagi beli sayur.
Ketika aku
tertunduk lesu dan jenuh mendengar celotehan tuh anak dua, tiba-tiba ada sebuah
tangan yang menempel pada tanganku. “hah tangan siapakah ini?” sambil terkejut
dalam hati. Tadinya aku mengira ini tangan malaikat pencabut nyawa, tapi
ternyata itu tangan dari bidadari penyelamat jiwa. Bagaimana tidak, lidia
tiba-tiba muncul dihadapanku. Apakah ini mimpi? Awalnya aku berfikir demikian
tapi setelah aku menendang farid dan dia menjerit kesakitan berarti menandakan
kalau ini bukan mimpi. Sekali lagi ini bukan mimpi.
“luh lidia,
ngapain kamu disini?” tanyaku
“habis liat
mading tadi. Sekarang lagi nunggu tante jemput”
“kamu sendirian?”
“tadi sih enggak
tapi sekarang sih iya. Teman-temanku udah pulang duluan”
Kami pun
bercakap-cakap banyak hari itu. Aku menemaninya sampai dia benar-benar
dijemput. Ya kapan lagi aku ngobrol berdua sama dia kayak gini. Jarang terjadi.
Wajar aku pemalu. Ketika didepan cewek yang aku suka, aku gak tau harus
bertingkah seperti apa. Takut salah tingkah. Aku sudah gak peduli sama
teman-teman disekitar. Fokusku hanya lidia seorang saat itu.
Obrolan kami
tidak berakhir sampai disitu saja. Iya kami makin dekat. Makin intens
berkomunikasi. Setiap malam aku menanti kabar dari dia. begitu pula dia.
Mungkin. Pikiranku sekarang telah diisi oleh dia yang mengambang-ngambang
dipikiranku.
Suatu hari
disekolah. Aku ingat saat itu tanggal 19 Desember 2008. Jarak kami hanya
dipisahkan oleh lantai, aku iseng mengungkapkan persaanku padanya. “lidia, tau
gak kalau aku diam-diam suka sama kamu?”
“tau kok”
“hah? Tau dari
mana?”
“iya kan banyak
gosip yang beredar kalo kamu suka aku”
“kalau gitu mau
gak kamu jadi pacarku? Nanti pulang aku tunggu diparkiran kalo nerima berarti
aku anterin kamu pulang tapi kalau enggak yawda”
Ini nembak model
apa sih? Kagak ada romantis-romantisnya. Wajarlah anak SMA kantong cekak, gak
cukup buat nyiapin surprise penembakan. Lagian aku bilang gitu juga iseng. Diterima
alhamdulilah, gak diterima ya terjun dari lantai 3 sekolah.
Ternyata, eh
ternyata *jenjeng*. Dia datang menghampiriku di parkiran saat akan pulang. Lalu
dia berkata. “jadi anterin aku pulang?”
Tau kan artinya?
Iya aku diterima oleh dia. hohoho. Ya meski prosesnya aneh dan tak seromantis
film korea tapi aku bisa dapetin hatinya. *uyeee*. Saat itu banyak anak-anak
cewek yang melihat aku mengantarkan pulang lidia. Mereka heran “kok prabu jalan
sama lidia? Mereka pacaran?”. Ya kami memang pacaran. Patah hatilah kalian yang
selama ini menyukaiku hahaha *tertawa licik dan sadis*.
Ya akhirnya aku hidup bahagia dengan dia selamanya. Kami menjalani hari-hari bagaikan kekasih yang menganggap dunia ini milik berdua. Tiap hari aku kerumahnya, makan bareng, ngerjain tugas bareng *yang ini bohong*, pokonya menghabiskan waktu bersama terus. Tulang rusukku yang hilang akhirnya telah menempel kembali dibadanku. Happy ending :*. I LOVE LIDIA .
.
.
.
.
.
.
.
Tapi oh tapi. Kita
lupakan kata-kata happy ending. Luh kenapa?. Penulis Cuma pengen cerita ini
seperti didalam dongeng sebelum tidur. Yang sebenarnya terjadi adalah.......
8 Bulan kemudian
Lidia mulai
aneh, aneh kenapa? Dia alien?. Bukan, dia bukan alien tapi dia grim reaper. Biasanya
kami berkomunikasi dengan mesra dan menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang
tidak lagi, semenjak dia mengenal seorang cowok anak band. Dia kakak kelasku,
seorang drummer band. Emang sih saat itu ini band lagi booming disekolahku. Dan
aku kecolongan. Ternyata diam-diam lidia menyelingkuhi secara halus nan
menusuk. Awal aku memang curiga karena ada perubahan yang sangat drastis dari
sifat dan perhatiannya padaku. Tapi aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.
Banyak alasannya
untuk menghindariku. Alasan hp ketinggalan lah, ketiduran lah, atau lupa lah.
*gila parah, lupa pacar sendiri, tapi selingkuhan inget*. Puncaknya dia memilih
meninggalkanku.
“yank*”
“iya apa?”
“kita putus aja
yah, aku lagi pengen sendiri. Kamu lupain aku cari yang lebih baik dari aku”
Jantungku berdetak
tak karuan, perasaanku campur aduk seperti sedang diterbangkan oleh sebuah
tornado. Bagaimana tidak, tanpa alasan yang jelas dia memutuskanku. Meski aku
menahan dan memohon-mohon seperti orang gila, dia tetap teguh pada
pendiriannya.
Aku pasrah, aku
frustasi. Alasan klasik seorang cewek mutusin cowoknya adalah 1). Kamu terlalu
baik buat aku. Dapet yang baik malah gak mau. Maunya apa. 2) aku mau sendiri. Sendiri
apanya? 2 hari setelah putus uda dapat pacar baru. Ah kampret. Pokoknya kampret.
Aku gak bisa terima kenyataan ini waktu itu.
Entah bisikan
dari mana. Entah iblis apa yang membisiki telingaku saat itu. Ketika aku
melihat racun serangga, tiba-tiba ada yang bilang.
“minumlah aku,
minum”
“apa minum kamu?”
jawabku
“rasaku seperti
buah kelapa, kamu akan langsung pergi kealam damaimu”
Mendengar kata
alam damai, aku merasa terpana. Memang saat itu aku udah bosen hidup. Ditinggal
lidia membuatku buta. Buta hati. Setiap perkataan temanku yang bilang kalau aku
harus sabar tidak aku dengarkan. Kenapa juga hanya kata sabar yang ada? gak ada
apa kata yang lebih bisa nenangin orang yang lagi patah hati selain kata sabar?
Kenapa sabar mulu? Kenapa?
Akhirnya aku
meminum racun serangga. Dengan maksud agar dia menyesal telah meninggalkanku. Dan
akan dilihat adalah jasadku yang terbujur kaku. Aku ingin dia merasa menyesal
telah meninggalkanku. Tapi sepertinya yang menyesal itu aku deh. Bagaimana tidak.
Setelah minum racun serangga aku merasa tubuhku lemah tak berdaya. Ini rasa
sakit yang paling sakit yang pernah aku alami selama ini.
Mamaku kaget
melihat aku telah tergeletak dilantai. Dalam hati aku berkata, “yes aku bakal
dibawa kerumah sakit oleh mamaku naek ambulan”. Awalnya aku berfikir demikian
tapi ternyata tidak. Aku dibawa kepuskesmas dekat rumah naik becak. Sialan banget
gak jadi keren dan dramatis. Dan yang parahnya lagi ketika diperiksa dokter,
dokternya bilang kayak gini, “anak ibu gak apa-apa kok, Cuma masuk angin doang”.
“apa masuk
angin? Kampret banget nih dokter. Aku ini habis minum racun serangga. Dokter gadungan
nih” celotehku dalam hati. Ya mamaku yang mendengar itu tersenyum bahagia
karena anaknya Cuma masuk angin. Tapi aku kecewa karena hal yang aku pikirkan
bakal dramatis kayak di TV-TV berakhir dengan kata-kata seorang dokter yang
bilang “aku hanya masuk angin” fakk banget dah.
Setelah kejadian
itu, aku mulai belajar bangkit dari keterpurukanku dan menerima kenyataan kalau
lidia meninggalkanku demi orang yang lebih baik dari aku. Cowok yang bahagiain
dia saat itu adalah kakak kelasku yang seorang drummer.
Setiap aku
melihat dia bermesraan dengan pacar barunya, aku merasa hatiku tersayat tipis. Halus
nan menyakitkan. Ya tapi mau gimana lagi. Apakah aku harus menggangu hubungan
orang yang telah bahagia? Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku berusaha untuk
mengobati rasa sakit dihatiku ini.
Ketika bersama
lidia, aku merasa lebih jauh dengan teman-temanku. Tapi ketika aku terpuruk
seperti ini, mereka tetep merangkulku dan memberiku semangat untuk bangkit. Aku
berjanji pada diriku sendiri saat itu “aku tidak akan meninggalkan
sahabat-sahabatku lagi. Karena apa? Disaat aku terpuruk seperti ini mereka yang
selalu ada bukan lidia. Terima kasih sahabat sahabatku. Persahabatan kita
memang seperti kepompong.
Akhir cerita ini
apa? Akhirnya aku bangkit dan melupakan lidia dengan bantuan sahabat-sahabatku.
Lalu tulang rusuk yang kemarin lengkap sekarang bagaimana? Hilang sudah
diterbangkan angin tornado entah kemana. Aku tidak menyesal, setidaknya aku
makin dewasa setelah kejadian ini. Cinta memang bakal datang dan pergi sehingga
kita harus siap untuk merasa kehilangan jika hal itu terjadi secara tiba-tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar