Kamis, 06 Maret 2014

Kenaikan Pangkat

Setahun masa putih abu-abu sudah dilewati penuh dengan hal-hal diluar nalar yang kadang membuat kita heran sendiri kenapa kita melakukan hal tersebut. But so far so good. Bener-bener asik jadi anak SMA. Proses untuk naik pangkat sebagai kelas XI pun tidak mudah. Kita harus berjuang bagaikan para pahlawan-pahlawan perang yang memakai bambu runcing melawan senjata api, mustahil tapi kemenangan dapat diraih.

Banyak kriteria agar kita naik ke kelas XI mulai dari absensi, nilai ujian, perilaku sehari-hari dan lain sebagainnya. Bagiku hal diatas tidaklah masalah semua oke, wajar anak rajin *sombong*. Tapi tidak untuk kedua sahabat satu perguruanku. Farid dan jisunk. Untuk naik kekelas XI mereka memerlukan golden tiket. Bagaimana tidak, nilai mereka hancur lebur kayak kota hiroshima yang dibom oleh sekutu. Belum lagi absensi mereka yang hancur parah. Jika ditotal mereka pernah membolos hampir 3 bulan lamanya. Mereka bolos karena ketagihan sering pulang cepat.

Untuk bisa naik mereka harus membuat surat pernyataan dengan saksi orang tua, kepala sekolah kemudian mereka sendiri sebagai pelaku yang inti didalamnya mereka tidak akan membolos lagi selama kelas XI. Masa percobaan 3 bulan layaknya traning kerja dan status mereka juga wajib lapor setiap minggu seperti tahanan kota. Setelah resmi mendapatkan golden tiket merekapun naik kelas bersama denganku yang artinya banyak hal diluar nalar yang akan merasuki pikiranku lagi.

Mereka itu layaknya tukang hipnotis bagiku. Contoh waktu penjurusan dikelas XI. Kita anak X diwajibkan mengikuti psikotes untuk menentukan jurusan, apakah kita masuk IPA atau IPS. Heran juga sih kenapa anak IPA selalu dipandang derajatnya lebih tinggi dari pada anak IPS. Orang-orang selalu bilang “biasanya anak IPS itu bandel-bandel, kalo anak IPA anaknya baik-baik nurut sama guru”. Lalu ada yang bilang juga “anak IPA gampang cari kerja dan sukses”. Siapa sih yang menanamkan slogan kayak gitu pada semua penduduk indonesia? Perasaan bung karno aja gak pernah bilang kayak gitu deh.

Orang tuaku juga sependapat dengan pemikiran kalau IPA lebih baik dari pada IPS. Waktu aku bilang pengen masuk IPS mereka malah menceramahiku, mereka bilang kalau anak IPS itu masa depannya gak pasti. Susah cari kuliah dan pekerjaan.

“kamu itu malu-maluin keluarga kita aja” kata mamaku

“iya kamu itu malu-maluin, masa gak bisa jadi anak IPA” kakakku menambahi

“bukannya gak mau tapi aku gak suka sama guru-gurunya killer” aku mencoba membantah

“coba kamu lihat, kalau dikeluarga kita itu gak ada yang masuk IPS” mamaku mempertegas ketidak setujuannya jika aku masuk IPS.

Aku penasaran, apakah dikeluargaku beneran gak ada yang anak IPS. Dari rasa penasaran itu akhirnya aku bertingkah layaknya seorang sherlock holmes yang mencari bukti untuk mendapatkan sebuah kebenaran. *cakep*. Gini-gini cita-citaku jadi detektif waktu kecil. Aku selalu kritis membantu teman-temanku menyelesaikan masalah mereka tapi aku selalu gagal meyelesaikan masalah dalam kehidupanku sendiri.

Ketika rumah sedang sepi, kumulai pencarian. Masuk kekamar mamaku. Membuka lemari yang isinya ijasah-ijasah mama, papa, dan kakakku. Ketika aku akan membuka lembaran demi lembaran ijasah, tiba-tiba duniaku teralihkan. Oleh kilauan-kilauan emas yang ada dilaci lemari. “wow emas” teriakku histeris. Kuambil kalungnya lalu aku pakai, begitu pula dengan cincin, anting dan juga gelangnya. Kumulai berkaca dan berkata “gila cocok nih buat entar malam mangkal dibundaran waru haha”. *nb: aku kagak bences luh ya*.

Aku kembali fokus ketujuan awalku. kubuka lembaran demi lembaran dokumen di lemari dan akhirnya menemukan ijasah dari semua orang dalam keluargaku yang isi kebenarannya adalah: 1) mamaku lulusan madrasah tahun 80an. Setauku dijaman segitu belum ada penjurusan IPA dan IPS deh. Lagian di ijasahnya gak tertulis bahwa beliau anak IPA ato IPS. 2) papaku. Dia lulusan SMK Pelayaran. 3) ini yang leih parah, kakakku. Ngakunya anak IPA sejati tapi ternyata apa? Dia lulusan SMK kecantikan.

“Mana orang IPA-nya dalam keluarga ini !!!” aku diperdaya keluarga sendiri.Tekad semakin bulat untuk masuk IPS. “akan kubuktikan jika anak IPS sepertiku bisa berprestasi”. Lagian di IPS belajarnya lebih santai. Otakku juga lebih memahami pelajaran IPS dari sejak SD dari pada IPA. Dari pelajaran IPS kita bisa tahu sejarah dunia,  tau negeara-negara didunia dan untuk menjelajahi hal tersebut kita cukup bilang “peta, peta, peta” kayak dora.

Kelas XI dibagi 3 kelas. XI IPA 1 dan XI IPS 1 dan 2. Aku masuk kelas XI IPS 2, farid di XI IPS 1. Sedih men kami terpisah entah kapan kami dipersatukan kembali. Tapi gapapa masih ada jisunk ini. Kelakuannya gak jauh beda dari farid jadi ya aku masih punya teman sekaligus hiburan.

Peta kumpulan mafia sekarang berubah. Sekarang XI IPS 1 lebih banyak mafianya dari pada IPS 2. Dan nasib-nasib mafia putih abu-abu lama bagaimana? Mereka memutuskan bertulualang menaklukan sekolah lain. Katanya pengen greget, cari musuh yang seimbang. Mungkin mereka masuk sekolah suzuran biar bisa kayak genji crow zero.

Jadi kelas XI enak luh, karena kita berada ditengah-tengah rantai persekolahan. Punya adek kelas sekaligus kakak kelas. Kalo misal kita masih dipalak anak kelas XII, maka kita palak aja kelas X. Uang kita tetep utuh, syukur-syukur bertambah jika yang dipalak anak orang tajir kayak richie rich haha.

Kelas X sekarang bukan jadi sasaran pemalakan kakak kelas, tapi menjadi sasaran perjodohan. Anak kelas XI dan XII sudah mengintai cewek-cewek cakep kelas X saat periode pelajaran baru baru saja dimulai. Begitu pula 2 sahabatku, farid dan jisunk. Mereka membabi buta mencari adek kelas yang cakep. Kayak orang yang belum makan 1 abad. Ada cewek cakep dikit langsung bilang. “wih cakep”. Padahal menurutku biasa aja. dikelas XI ini kami lebih berani dan brutal dalam mencari cewek. Wajar uda ada pangkat sekarang men.

Bayangkan, entah kenapa aku merasa selera dalam mencari seorang cewek gak ada seninya sama sekali. “bu liat yang itu” ujar jisunk padaku dari atas balkon lantai 2.

“yang mana sunk?”

“yang itu, yang jalan ditengah lapangan”

“serius kamu, cewek yang kayak gitu cakep? tapi perasaan itu bukan adek kelas deh, itu kakak kelas”

“yang tua, lebih pengalaman bro” sambil ngiler dia menjawab pertanyaanku

Cewek tipe jisunk itu hitam manis kayak botol kecap. Lalu farid? Sama aja gak jauh beda. Mereka lebih suka keluar dari peta pemburuan cewek cakep. Katanya kemungkinan besar untuk mendapatkannya lebih besar. Emang bener sih, lagian gak semua cewek jelek itu hatinya jelek juga, malah kadang yang cantik lebih nyakitin. Kalo cewek kita jelek dari luar tapi dalamnya cakep, tinggal bawa aja ketukang permak. Nanti juga bisa cakep. Kalo yang dari hatinya aja uda jelek bakal susah ngerubahnya. Perlu kesadaran dari diri sendiri.

Bagaimana nasib pencarian cintaku sebagai kelas XI? Aku lebih suka menunggu ada cewek yang bisa menggerakkan debaran jantung kayak pas maen tornado di jatim park. Sejauh ini belum ada yang bisa membuat jantungku berdebar sekencang itu. Eh ada sih cewek yang bisa membuat jantungku berdebar kencang, sadako. Tau kan? Itu luh setan yang keluar dari TV. Hati-hati yang malam-malam trus Tv isinya Cuma semut-semut doang. Biasanya sadako keluar dari situ. Hiiii. Sampai saat ini aku gak berani liat tv yang gambarnya semut-semut doang, selain takut sadako keluar dari situ trus ngebosenin liat semut mondar-mandir gak karauan. Mending tidur ganteng. Sapa tau dimimpi ketemu sama Melody JKT48 *cieeee*. Nb: jamanku dulu melody belum terkenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar