Setahun masa
putih abu-abu sudah dilewati penuh dengan hal-hal diluar nalar yang kadang
membuat kita heran sendiri kenapa kita melakukan hal tersebut. But so far so
good. Bener-bener asik jadi anak SMA. Proses untuk naik pangkat sebagai kelas
XI pun tidak mudah. Kita harus berjuang bagaikan para pahlawan-pahlawan perang
yang memakai bambu runcing melawan senjata api, mustahil tapi kemenangan dapat
diraih.
Banyak kriteria
agar kita naik ke kelas XI mulai dari absensi, nilai ujian, perilaku
sehari-hari dan lain sebagainnya. Bagiku hal diatas tidaklah masalah semua oke,
wajar anak rajin *sombong*. Tapi tidak untuk kedua sahabat satu perguruanku.
Farid dan jisunk. Untuk naik kekelas XI mereka memerlukan golden tiket. Bagaimana
tidak, nilai mereka hancur lebur kayak kota hiroshima yang dibom oleh sekutu.
Belum lagi absensi mereka yang hancur parah. Jika ditotal mereka pernah
membolos hampir 3 bulan lamanya. Mereka bolos karena ketagihan sering pulang
cepat.
Untuk bisa naik
mereka harus membuat surat pernyataan dengan saksi orang tua, kepala sekolah
kemudian mereka sendiri sebagai pelaku yang inti didalamnya mereka tidak akan
membolos lagi selama kelas XI. Masa percobaan 3 bulan layaknya traning kerja
dan status mereka juga wajib lapor setiap minggu seperti tahanan kota. Setelah
resmi mendapatkan golden tiket merekapun naik kelas bersama denganku yang
artinya banyak hal diluar nalar yang akan merasuki pikiranku lagi.
Mereka itu
layaknya tukang hipnotis bagiku. Contoh waktu penjurusan dikelas XI. Kita anak
X diwajibkan mengikuti psikotes untuk menentukan jurusan, apakah kita masuk IPA
atau IPS. Heran juga sih kenapa anak IPA selalu dipandang derajatnya lebih
tinggi dari pada anak IPS. Orang-orang selalu bilang “biasanya anak IPS itu
bandel-bandel, kalo anak IPA anaknya baik-baik nurut sama guru”. Lalu ada yang
bilang juga “anak IPA gampang cari kerja dan sukses”. Siapa sih yang menanamkan
slogan kayak gitu pada semua penduduk indonesia? Perasaan bung karno aja gak
pernah bilang kayak gitu deh.
Orang tuaku juga
sependapat dengan pemikiran kalau IPA lebih baik dari pada IPS. Waktu aku bilang
pengen masuk IPS mereka malah menceramahiku, mereka bilang kalau anak IPS itu
masa depannya gak pasti. Susah cari kuliah dan pekerjaan.
“kamu itu
malu-maluin keluarga kita aja” kata mamaku
“iya kamu itu
malu-maluin, masa gak bisa jadi anak IPA” kakakku menambahi
“bukannya gak
mau tapi aku gak suka sama guru-gurunya killer” aku mencoba membantah
“coba kamu
lihat, kalau dikeluarga kita itu gak ada yang masuk IPS” mamaku mempertegas
ketidak setujuannya jika aku masuk IPS.
Aku penasaran,
apakah dikeluargaku beneran gak ada yang anak IPS. Dari rasa penasaran itu
akhirnya aku bertingkah layaknya seorang sherlock holmes yang mencari bukti
untuk mendapatkan sebuah kebenaran. *cakep*. Gini-gini cita-citaku jadi
detektif waktu kecil. Aku selalu kritis membantu teman-temanku menyelesaikan
masalah mereka tapi aku selalu gagal meyelesaikan masalah dalam kehidupanku
sendiri.
Ketika rumah
sedang sepi, kumulai pencarian. Masuk kekamar mamaku. Membuka lemari yang
isinya ijasah-ijasah mama, papa, dan kakakku. Ketika aku akan membuka lembaran
demi lembaran ijasah, tiba-tiba duniaku teralihkan. Oleh kilauan-kilauan emas
yang ada dilaci lemari. “wow emas” teriakku histeris. Kuambil kalungnya lalu
aku pakai, begitu pula dengan cincin, anting dan juga gelangnya. Kumulai
berkaca dan berkata “gila cocok nih buat entar malam mangkal dibundaran waru
haha”. *nb: aku kagak bences luh ya*.
Aku kembali
fokus ketujuan awalku. kubuka lembaran demi lembaran dokumen di lemari dan
akhirnya menemukan ijasah dari semua orang dalam keluargaku yang isi
kebenarannya adalah: 1) mamaku lulusan madrasah tahun 80an. Setauku dijaman
segitu belum ada penjurusan IPA dan IPS deh. Lagian di ijasahnya gak tertulis
bahwa beliau anak IPA ato IPS. 2) papaku. Dia lulusan SMK Pelayaran. 3) ini
yang leih parah, kakakku. Ngakunya anak IPA sejati tapi ternyata apa? Dia
lulusan SMK kecantikan.
“Mana orang
IPA-nya dalam keluarga ini !!!” aku diperdaya keluarga sendiri.Tekad semakin
bulat untuk masuk IPS. “akan kubuktikan jika anak IPS sepertiku bisa
berprestasi”. Lagian di IPS belajarnya lebih santai. Otakku juga lebih memahami
pelajaran IPS dari sejak SD dari pada IPA. Dari pelajaran IPS kita bisa tahu
sejarah dunia, tau negeara-negara
didunia dan untuk menjelajahi hal tersebut kita cukup bilang “peta, peta, peta”
kayak dora.
Kelas XI dibagi
3 kelas. XI IPA 1 dan XI IPS 1 dan 2. Aku masuk kelas XI IPS 2, farid di XI IPS
1. Sedih men kami terpisah entah kapan kami dipersatukan kembali. Tapi gapapa
masih ada jisunk ini. Kelakuannya gak jauh beda dari farid jadi ya aku masih
punya teman sekaligus hiburan.
Peta kumpulan
mafia sekarang berubah. Sekarang XI IPS 1 lebih banyak mafianya dari pada IPS
2. Dan nasib-nasib mafia putih abu-abu lama bagaimana? Mereka memutuskan
bertulualang menaklukan sekolah lain. Katanya pengen greget, cari musuh yang
seimbang. Mungkin mereka masuk sekolah suzuran biar bisa kayak genji crow zero.
Jadi kelas XI
enak luh, karena kita berada ditengah-tengah rantai persekolahan. Punya adek
kelas sekaligus kakak kelas. Kalo misal kita masih dipalak anak kelas XII, maka
kita palak aja kelas X. Uang kita tetep utuh, syukur-syukur bertambah jika yang
dipalak anak orang tajir kayak richie rich haha.
Kelas X sekarang
bukan jadi sasaran pemalakan kakak kelas, tapi menjadi sasaran perjodohan. Anak
kelas XI dan XII sudah mengintai cewek-cewek cakep kelas X saat periode
pelajaran baru baru saja dimulai. Begitu pula 2 sahabatku, farid dan jisunk.
Mereka membabi buta mencari adek kelas yang cakep. Kayak orang yang belum makan
1 abad. Ada cewek cakep dikit langsung bilang. “wih cakep”. Padahal menurutku
biasa aja. dikelas XI ini kami lebih berani dan brutal dalam mencari cewek.
Wajar uda ada pangkat sekarang men.
Bayangkan, entah
kenapa aku merasa selera dalam mencari seorang cewek gak ada seninya sama
sekali. “bu liat yang itu” ujar jisunk padaku dari atas
balkon lantai 2.
“yang mana
sunk?”
“yang itu, yang
jalan ditengah lapangan”
“serius kamu,
cewek yang kayak gitu cakep? tapi perasaan itu bukan adek kelas deh, itu kakak
kelas”
“yang tua, lebih
pengalaman bro” sambil ngiler dia menjawab pertanyaanku
Cewek tipe
jisunk itu hitam manis kayak botol kecap. Lalu farid? Sama aja gak jauh beda.
Mereka lebih suka keluar dari peta pemburuan cewek cakep. Katanya kemungkinan
besar untuk mendapatkannya lebih besar. Emang bener sih, lagian gak semua cewek
jelek itu hatinya jelek juga, malah kadang yang cantik lebih nyakitin. Kalo
cewek kita jelek dari luar tapi dalamnya cakep, tinggal bawa aja ketukang
permak. Nanti juga bisa cakep. Kalo yang dari hatinya aja uda jelek bakal susah
ngerubahnya. Perlu kesadaran dari diri sendiri.
Bagaimana nasib
pencarian cintaku sebagai kelas XI? Aku lebih suka menunggu ada cewek yang bisa
menggerakkan debaran jantung kayak pas maen tornado di jatim park. Sejauh ini
belum ada yang bisa membuat jantungku berdebar sekencang itu. Eh ada sih cewek
yang bisa membuat jantungku berdebar kencang, sadako. Tau kan? Itu luh setan
yang keluar dari TV. Hati-hati yang malam-malam trus Tv isinya Cuma semut-semut
doang. Biasanya sadako keluar dari situ. Hiiii. Sampai saat ini aku gak berani
liat tv yang gambarnya semut-semut doang, selain takut sadako keluar dari situ
trus ngebosenin liat semut mondar-mandir gak karauan. Mending tidur ganteng. Sapa
tau dimimpi ketemu sama Melody JKT48 *cieeee*. Nb: jamanku dulu melody belum
terkenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar