Minggu, 30 Maret 2014

Alay Teriak Alay



Ditinggal orang yang disayang itu emang berat. setelah berusaha bunuh diri dengan cara minum obat serangga dan ketika dibawa kedokter Cuma dikira masuk angin, akhirnya aku bisa berdiri tegak menghadapi masa depanku yang masih panjang. *cieeee*. Dengan bantuan teman-teman dan sahabat-sahabat tercinta, aku melupakan memori tentangnya dengan memori yang baru.

Temen-temanku yang sadar kalau aku galau, lemah, dan rapuh selalu menghiburku. Mengajakku ketempat-tempat yang bisa melupakanku terhadap dia. yang tadinya murung ngurung diri dirumah, sekarang aku berani keluar rumah dan mencari pengalaman baru. Ya meski kadang masih sakit hati juga sih punya mantan yang satu sekolahan. Apalagi pacar barunya juga satu sekolahan, makin nyesek men. Melihat orang yang kita sayang dengan orang lain apalagi dia mutusin kita dengan alasan “gak mau pacaran dulu” tapi buktinya apa? 

Baru putus 1 hari uda dapet pacar baru. Yayaya wanita memang susah dimengerti.
Emang sih gak semua wanita kayak gitu, tapi alasan kayak gitu udah klasik banget. Kalo emang gak sayang yawda terus terang aja. dari pada harus membohongi sampai akhir. Ya emang sih kejujuran susah diterima tapi kejujuran itu membuat kita menghargai dan memaafkan meski itu susah. Lagian sepintar-pintarnya kita berbohong pasti ketahuan juga kayak petak umpet. Layaknya sebuah pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat pasti terpleset juga” *bener gak sih?*

Biasanya tiap hari aku habiskan bersamanya tapi sekarang aku menghabiskan waktu bersama mereka yang peduli padaku. Waktu itu ketika pulang sekolah, aku bersama mereka berkumpul didepan sekolah. Ceritanya sih mau main ke rumah temen yang jauh disana. Gak jauh gimana, rumahnya dipojok surabaya. Tapi gak masalah demi menghilangkan rasa galau apapun kita lakukan. Tancap gas pol sob. Ketika kami menunggu satu sama lain didepan sekolah tiba-tiba lidia lewat didepan kami. Aku yang mulai tidak peduli terhadapnya berpura-pura acuh dan tidak memperhatikan. Apalagi kita aku tau dia dijemput oleh pacar barunya dihadapanku. Oh sakit men waktu itu. Jadi ini lah yang dimaksud tidak ingin pacaran dulu. Mungkin tidak ingin pacaran dulu sama aku yang kurang sempurna dan mencari yang lebih sempurna. Nyesek.

Teman-temanku yang mengetahui hal itu langsung memberikan canda tawanya, berharap aku tidak melihat apa yang barusan terjadi. Farid dan jisunk joget asereje pake baju ketat demi menghiburku, dan teman-teman yang lain menggiringi dengan musik akapela. *absurd* Inilah persahabatan, ketika salah seorang teman sedih maka yang lain harus mempermalukan diri untuk membuat tawa teman yang bersedih kembali lagi. oh indahnya.

Setelah semua anggota berkumpul, kami pun pergi keujung surabaya untuk bermain ke rumah teman. Perjalanan melewati truk-truk yang besar layaknya robot-robot dalam film transformer, merasakan panas seperti digunung sahara dan menikmati jauhnya perjalanan seperti mencari pesawat adam air yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya kami pun sampai dengan selamat ditujuan. Disana kami hanya berbicang-bincang sebentar. Kampret dasar, jauh-jauh Cuma buat gosip trus pulang lagi. tapi sebelum pulang kita merencanakan bahwa pada malam harinya, kami akan pergi kesebuah mall dan ngopi di cafe. Untuk anak SMA kayak kami dulu, ke mall trus nongkrong di cafe itu uda keren banget. Like a boss. Rencana sudah disusun, kami pun pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan diri berdandan setampan dan secantik mungkin. Ya sapa tau nemu gebetan nanti sana. *sapa tau*.

Aku tak pintar berdandan seperti teman-temanku, mereka rapih memakai kemeja, celana jeans dan sepatu keren sedangkan aku ala kadarnya yang penting pakai baju. Aku inget ketika itu jaman laptop belum sebooming sekarang, masih jarang orang yang punya laptop. Kebetulan aku sudah punya. Jadi aku bawa itu laptop sebagai teman nongkrong bersama yang lainnya. Ya sapa tau ada fungsinya, contohnya laptop berfungsi ajang pamer. Kan masih jarang yang punya laptop. *dasar somplak sombong amet*.

Pertama kali yang dilakukan dicafe adalah duduk. *ya iyalah*. Saat itu kami beranggotakan sekitar 12 orang. *ya kurang lebih segitulah*. Kami duduk dan pelayan pun datang menghampiri kami dengan membawakan menu makanan dan minuman. Kalian taukan, jika menu-menu di cafe itu namanya pasti aneh-aneh. Ya inilah strategi pemasaran biar kita tertarik dan membelinya. Tapi kadang nama dan apa yang kita bayangkan itu tidak sesuai. Contohnya es tissue yang ternyata es kopyor. Ya seperti itulah.

Apa sih yang dilakukan anak muda pas dicafe? Jawabannya adalah bergosip dan foto-foto. Seperti apa yang kami lakukan saat itu. Foto gaya alay. Gak nyangka juga sih kalau dulu aku ini alay. Taukan foto-foto anak alay seperti apa? Bayangkan sendiri aja ya. Tapi emang alay itu adalah proses menuju kedewasaan. Setuju? Inilah salah satu cara meghilangkan kegalauan. Menjadi alay. Dimana-mana foto, tiap detik foto, ada temen lagi pose jelek difoto, pokoknya serba foto. Trus gosip. Mayoritas kita cowok tapi kalau sudah ngumpul pasti ada aja gosip yang dibahas. Contohnya cewek cakep disekolah yang ternyata cowok, kepala sekolah yang tadinya jantan ternyata lekong tulang lunak dan lain sebagainya. Pokoknya apapun yang bisa dijadikan gosip, kita bahas semua ketika ngumpul sampai menciptakan hal-hal absurd. Absurd itu kejeniusan yang tidak tertandingi luh bukan kebodohan yang tidak ada akhirnya. Tau absurd kan? Kalo gak tau coba cari di google haduh.

Acara dicafe pun selesai, dan kami merencanakan acara selanjutnya untuk hari esok yaitu makan diwarung guru kami dan nongkrong di Taman Apsari (TA). *salah satu taman yang selalu ramai oleh anak muda alay seperti kami*. Aku mulai merasa nyaman dengan keadaanku sekarang. Galau yang tadi menyelimuti kehidupanku perlahan mulai hilang dengan cara pergi dengan teman-temanku yang lebih memberikan tawa bahagia kepadaku *i love u you guys*. Bagaimana tidak, setiap kali aku didekat mereka ada aja kejadian konyol yang bisa kami tertawakan. Misalnya pertengkaran karena saling mengejek mantan, terus kalau makan gak mau ikut bayar *istilahnya gandol*, terus apalagi ya? Saking banyaknya jadi lupa untuk disebutkan. Hahaha. But so far so fun berkumpul dengan mereka.

Sebelum ke TA, kami pergi makan di warung tempe penyet milik salah satu guru di SMA. Nama warungnya penyetan pak minto. Makananya enak dan yang paling penting MURAH. Buat kami saat itu kuantitas mengalahkah kualitas. Faktor membeli makanan nomer satu adalah murah, nomer dua banyak dan yang terakhir enak. Terlintas dipikiran kami saat itu untuk makan tidak bayar. Bukan kabur, tapi berakting tidak membawa uang. Tapi setelah dipikir matang-matang, kami urungkan niat itu karena takut jadi headline news di sekolah esok paginya. Setiap pagi tradisi disekolah kami adalah berdoa bersama dan berdoanya dipimpin melalui speaker keras yang saling terhubung antara kelas satu dengan kelas yang lainnya.

Bayangkan aja jika kami jadi tidak bayar makan, mungkin pagi-pagi sebelum doa pak minto bakal membacakan berita layaknya seorang jerremi tetty. “selamat pagi para siswa. Sebelum memulai berdoa saya akan membacakan berita penting hari ini. Sekelompok siswa/i yang tidak tau malu kemarin kabur dan tidak bayar setelah makan diwarung saya. Mereka berinisial P,J,O,I,F,B,D,&R. Amatilah jika ada disekitar kalian yang mukanya pucat setelah mendengar berita ini maka merekalah pelakunya. Sekian breking news pagi ini”.Apakah gak malu kalau kalian ketauan gak makan dan diumumin seperti itu? Maka dari itulah kami gak jadi tidak bayar. Demi menjaga nama baik kami bersama juga.

Setelah makan barulah kita ke TA. Apa sih yang kita lakukan disana? Foto-foto lagi. ya dasara anak alay. Dikit-dikit foto. Apalagi gayanya sekarang pakai memegang rokok biar keliatan gaul gitu. Kammi foto dipinggir jalan bergantian layaknya seorang foto model. Sebenarnya gak pantes dipanggil foto model, lebih pantesnya dipanggil banci foto.

Ya beginilah pengalaman ketika aku dan teman-temanku masih muda. Berawal dari alay menjadi orang-orang yang lebih dewasa. Setiap melihat anak-anak jaman sekarang yang masih kecil-kecil bau kencur foto-foto trus ngerokok dipinggir jalan gitu, kami pasti ketawa dan meledek mereka. Padahal dulu kami juga pernah kayak gitu. *dasar gak sadar diri*. Jadi ketika kalian nanti melihat ada anak kecil yang seperti itu, jangan menertawakan mereka dan meledeknya. Sadarlah dulu jika kalian juga pasti pernah melakukan hal itu. Ketika kalian bilang “enggak kok, dulu aku gak gitu” maka jangan munafik sob. Hahahaha

Kenanglah masa muda kalian. Sapa tau suatu saat nanti kalian akan berbagi cerita kayak gini sama anak cucu kalian. dan dengan bangga kalian bilang bahwa “dulu papa/mama/kakek/nenek pernah alay”. Mengakulah mengakulah. *ini cerita menghilangkan kegalauanku saat SMA. Ini ceritaku, mana ceritamu*

Sabtu, 22 Maret 2014

Tidak = LDKS



Cerita saat Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) belumlah usai. Tidak seperti ceritaku bersama Lidia. *baca gadis pembawa tornado*. Yang tadinya aku pikir bakal membosankan tapi ternyata sangat menyenangkan. Diawali dengan awal keberangkatan menuju tempat LDKS.

Setelah ribut menentukan tempat duduk didalam bis, kami akhirnya bisa duduk tenang meski harus menikmati udara panas layaknya digurun sahara. Bisnya sudah tak layak pakai, harusnya ini bis dimusiumkan aja sebelum menimbulkan korban jiwa.

Saat perjalanan ada salah satu dari kami yang muntah. Parahnya lagi gak ada yang nyediain dia plastik untuk menampung muntahnya itu. Jadi dia muntah lewat jendela. Yang parahnya lagi, itu muntah kena pengendara motor. Bisa dibayangkan giman arasanya tuh pengendara motor dapat rejeki yang tak terduga seperti itu. Dia gak bakal bilang “terima kasih tuhan” yang ada dia malah bilang “Oi laknat. An*ing. J*ancok”. Apa aku bilang, menimbulkan korban jiwa kan? Harusnya itu bis dimusiumkan aja dari pada menimbulkan lagi korban kecipratan muntah.

Setelah 2 jam lamanya kami berada didalam bis roksokan itu, akhirnya kami sampai di tempat LDKS dengan diiringi guyuran hujan dan suara petir yang menggelegar. *huiiih*. Aku kira ketika hujan gini bakal jadi keringanan. Keringanan untuk sampai kepenginapan dengan tetap kering. Tapi ternyata tidak. Turun dari bis kita langsung dibariskan layaknya para militer yang akan mengikuti apel. Lalu trainernya teriak “ayo ikuti saya”.

Kita masuk kehutan yang uda becek gak ada ojek lagi. Banyak korban berjatuhan. Satu persatu perserta mulai jatuh terpleset karena licinnya medan yang kami harus tempuh. Ditengah perjalanan seorang trainer berteriak “kalian jangan banyak bicara, lihat kanan kiri kalian itu kuburan”.

Emangnya kalau itu kuburan aku harus bilang wow gitu?. Lagian mana ada serem-seremnya liat kuburan di siang bolong. Dasar bodoh tuh trainer. yang parahnya lagi temanku farid, yang badannya kayak hulk tinggi dan gede takut pas liat kuburan. Ya elah ini anak badan doang yang gede, sama kuburan yang gak ngejar aja takut. Cemen. Aku yang badannya lebih kecil dari dia aja pas liat kuburan hanya berdoa dan berkata “oh itu kuburan toh”.

Setelah setengah jam kami berjalan akhirnya smapi juga dipenginapan. Kita saat itu merasa dikerjain, kenapa tidak? Ternyata penginapan dari tempat kita baris diawl perjalanan tadi Cuma butuh lima menit doang. Tapi ini gara-gara lewat hutan, jadi sampai 30 menit. Baru aja datang udah kayak gini. Makannya aku males ikut acara kayak gini kalo gak gara-gara si lidia.

Sampai dipenginapan kita disuruh baris lagi untuk menentukan kelompok. Dibawah guyuran hujan petir kami harus berteriak “1 2 3 4 5 6”. Mana dingin lagi. Jujur aja aku orang bandung yang gak tahan cuaca dingin. Bayangkan saat itu dinginnya seperti apa. Seperti hatiku yang kekurangan cinta. *ahaii*. Pembagian kelompok usai. Aku satu kelompok dengan farid beserta beberapa adek kelas. Aku rasa kelompokku ini bakal asik karena apa? Ada 2 cewek cakepnya hohoho.

Berdiri ditengah guyuran hujan telah selesai. Kami pun dipersilahkan untuk mandi. Kamar mandinya jadul banget. Gak ada lampu, trus bak mandinya nyambung antara kamar mandi satu dengan kamar mandi lain mana banyak kataknya lagi. Karena jumlah kamar mandi terbatas, kami para laki-laki mandinya harus berbarengan. Jadi satu kamar mandi bisa berisi 3-4 orang. Kayak maho aja mandi bareng ya. Untung saat mandi bareng kami tidak memikirakan hal-hal yang aneh. Tidak memikirkan perang pedang dengan pedang yang tidak akan ada usainya.

Mandi selesai saatnya istirahat makan. Hujan plus dingin itu enaknya makan bakso. Setuju???. Kebetulan waktu itu ada tukang bakso di depan penginapan kita. Kita saling berebut untuk mendapatkan bakso layaknya orang lagi pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT). Untung aja pas berebut bakso kita gak saling pukul-pukulan. Masa demi semangkok bakso kita harus anarki. Gak boleh dong.

Anarki tidak tapi magic iya. Kenapa kok magic? Soalnya waktu itu ada adek kelas bernama aji. Gendut, bulet, item dan mata merah menyala. Dia beli bakso banyak banget. Mungkin dia kelaparan karena belum makan 1 abad. Saking serakahnya saat mangkok bakso udah ditangan dia berlari untuk cari tempat makan yang enak. Tapi sayang dia terpeleset. Dia jatuh tapi baksonya selamat. Iya baksonya utuh. Tidak jatuh sama sekali. Jadi ceritanya itu mangkok udah melayang di udara waktu dia jatuh. Nah pas dia jatuh itu kebtulan juga tangannya terbuka kayak mau menerima sumbangan. Sumbangan baksolah yang sampai ditangannya. Bakso yang melayang-layang di udara tadi tepat mendarat di tangannya dengan indah. Its magic.

Saat LDKS ini omongan kita benar-benar dijaga. Sedikit ngomong kasar dapet hukuman. Setiap salah perbuatan dapat hukuman. Pokokmya hukuman, hukuman dan hukuman jika kita salah. Waktu itu ada 3 anak laki-laki yang berbicara kotor. Mereka dihukum berorkestra bicara kotor dengan lantang. Anak 1 berkata “janc*k” *bahasa kotor orang jawa*, anak 2 “gat*li” dan anak 3 “A*u*. Mereka saling saut bersautan berorkestra kata kotor. “janc*k, gat*li, a*u” mereke mengucapkannya sampai 100x dan tetemani guyuran hujan. Mereka dihukum, siswa yang lain menyimak sambil terharu dengan kemerduan suara orkestra mereka. Hahaha

Waktu tidur juga tak luput dari hukuman para pembina. Apalagi ulahnya sekarang? Tetap orkestra saut menyaut tapi kata yang diucapkan bukan kata jorok melainkan suara-suara hewan. 1 kamar laki-laki berisi 20-30 anak. Dan kita tidur layaknya ikan pindang, berjejer. Entah apa bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba terdengar bunyi katak, anjing, kucing, jangkrik, sapi, kambing dll. Setelah mereka bersautan menirukan suara tersebut sampi kita tertawa satu sama lain dengan lantangnya, tiba-tiba para pembina datang untuk mengakhiri konser orkestra kami.

“hayo siap tadi yang niru suara binatang”

Kami semua pura-pura tidur. Tidak menghiraukan teriakan itu pembina. Tapi dasar pembinanya aja yang haus menghukum para siswa, dia memilih acak salah satu anak untuk mengaku dan dia dibawa keluar kamar dan berpush-up ria. Kasian tuh anak. Untung bukan aku haha. Tidak berhenti sampai disitu saja, gara orkestra kami sekarang diadakan penggeledahan. Katanya sih penggeledahan rokok dan minum keras. Aku kira kamarku bakal bebas dari benda haram tersebut *huuuih* tapi ternyata tidak. Ada saja anak yang membawa itu benda haram. Mereka disuruh keluar kamar dan tidur dibawah langit dengan menikmati langit malam yang indah disertai bintang-bintang bersinar terang. Parahnya lagi tidak hanya disuruh tidur diluar kamar, tapi yang bawa rokok disuruh makan rokok tersebut. Mereka harus mengunyahnya sampai habis. Kasian puk-puk.

Hari telah berganti, sekarang matahari sudah menampakkan sinarnya. Dan kegiatan kita saat itu adalah senam pagi. Asik juga senam pagi menyehatkan apalagi udaranya segar tapi bagiku lebih asik karena biasa melihat lidia senam didepanku. Hahaha. Setelah senam pagi kami harus pergi kegunung. Katanya sih kita bakal kepuncak gunung dan akan berdoa disana. Emang apa faedahnya berdoa diatas gunung coba? Lebbih dekat sama tuhan? Kagak kan? Berdoa bisa dimana saja asalkan niatnya tulus. Ini sih acara penyiksaat yang lain bagi kami.

Awalnya tak terjadi apa-apa. Kita berjalan dengan santainya. Tiba-tiba ditengah perjalanan ketika medan perjalanannya becek penuh dengan lumpur, kita disuruh merangkak layaknya para tentara yang berperang. Yang paling gak enak saat itu adalah terciumnya aroma tidak menyedapkan didepanku. Aroma kentut. Kentutunya si jisunk. Kebutulan dia merangkak didepanku. Setiap dia menggoyangkan badan sebelah kirinya, bunyi kentut terdengar dan aromanya tak kalah sedap. Bisa membunuh nyamuk layaknya obat pembunuh serangga. Dia tidak merasa berdosa ketika kentut. Dia tidak memikirkan orang dibelakangnya akan mati atau tidak terkena aroma kentutnya dia. dia tetap enjoy merangkak dengan mengeluarkan kentut. Aku yang dibelakangnya serasa ingin mati. Kayaknya lebih baik minum baygon dari pada mencium aromanya kentutnya jisunk. Lebih berbahaya daya bunuhnya.

Akhirnya kami sampai di puncak gunung setelah melewati medan lumpur dan kentutnya jisunk yang biadab aromanya. Setiba diatas, aku tak melihat jisunk. Tiba seorang kakak kelas dan berkata dengan lantang “siapa disini yang kenal sama indra bayu”. Aku dan farid mengangkat tangan dan maju mendekat pada kakak kelas itu. Didalam pikiranku terfikir tentang hilangnya jisunk “Apakah dia diculik genderwo karena kentutnya dikira menyan?” ternyata bukan. Apakah genderwo mengantarkan dia karena tertarik dengan bau kentutnya yang kayak menyan sehingga membawa dia kembali kepenginapan untuk menghirup aroma kentutnya secara privat? Ternyata bukan juga. Yang sebenarnya terjadi adalah

“ada apa kak dengan indra bayu” tanyaku dan farid

“ssttttt jangan kencang-kencang ngomongnya”

“loh kenapa?”

“stttt ini rahasia, kalian tau gak yang mana tasnya indra bayu”

“tau kak”

“kalau gitu nanti tolong ambilkan celana dalamnya ya”

“hah? Celana dalam” kami berdua bengong kayak orang goblok

“buat apa kak”

“dia buang air besar dicelana”
Aku dan farid tertawa dengan kencangnya. Bagaimana tidak, gak nyangka aja ternyata itu anak badan gede bisa buang air celana juga kayak anak balita. Memalukan. Suara tertawa kami sampai terdengar oleh siswa lain dan mereka menjadi memperhatikan kami. Kami tetap tertawa dengan kencangnya. Aku rasa dia kualat karena telah meracuni banyak orang ketika merangkak sehingga itu kotoran keluar dicelananya. Azab si tukang kentut sembarangan.

Setelah semua kegiatan di puncak gunung selesai. Kami akhirnya turun gunung untuk beristirahat dan makan. Desas desus yang terdengar, acara selanjutnya adalah acara jerit malam. Acara yang biasanya dilakukan malam hari trus kita dilepas sendiri dihutan yang gelam dan akan digodain sama hantu-hantu yang bergentayangan. *Ciee digodain hantu*. Tapi sebelumnya bakal ada acara ESQ *aku lupa kepanjangannya*. Kalau gak salah ini acara pertobatan deh dimana kita akan dibukakan pemikiran kita terhadap apa yang selama ini kita perbuat. Yang tadinya salah menjadi benar. Ya ya ya ya.
Setelah makan, mandi, istirahat, kita pun bersiap untuk melihat acara ESQ. Didalam satu aula, kita dibariskan rapih agar tidak rusah menontonnya. Panitianya takut kalau barisan tidak rapih, bisa-bisa kita tawuran untuk mendapatkan spot yang bagus untuk menonton. Nah maka dari itu untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, kita dibariskan dengan rapih.

Acara pun dimulai dengan penandaan lampu yang dimatikan. Kita menonton dengan cara yang bisa merusak mata. kenapa lampu dimatikan? Agar lebih dramatis katanya. Tadi diawal aku bilang bahwa acara ini berfungsi untuk menggugah kita untuk tobat. Tapi kayaknya gak mempan deh. Semua siswa yang nonton malah pada tidur. Mengambil kesempatan dalam kesimpitan. Lampu dimatikan memang cocok untuk tidur.
Aku masih ingat, ada video dimana para peneliti rusia meneliti siksa kubur. Jadi mayat dikuburkan dengan kamrea infrared. Dimana akan terlihat kegiatan apa yan terjadi ketika itu mayat berada diliang lahat. Dan kegiatannya adalah penyiksaan. Entah dari mana datangnya dan bagaimana caranya tapi mayat itu sedikit demi sedikit kehilangan anggota tubuhnya. Mungkin dosanya terlalu besar ketika berada didunia ini.

Ketika video itu diputar, anak-anak yang tadinya tidur malah menjerit histeris ketakutan. Mereka bukan takut mengalami hal yang sama dengan mayat yang ada di video tapi mereka takut kalau itu mayat datang kemimpinya mereka. Dasar anak-anak tak takut dosa. Pertengahan pemutaran video, tiba-tiba terdengar suara yang mengerikan. Aku kira suara kuntilanak menangis karena ikutan liat itu video. Tapi ternyata bukan, itu adalah suara tangisan seorang farid. Gak  nyangka aja tuh anak bandel bisa nangis juga. Benar-benar hati hello kitty.

Dia beteriak “ibu-ibu maafkan aku. Aku tidak akan nakal lagi” sambil berguling-guling menangis. Dalam hati aku berkata “alhamdulilah temanku tobat juga”. Tangisannya membuat semua orang tertawa bukan malam simpati. Bagaimana tidak, badan sebesar dia menangis sambil gulung-gulung dilantai dan suara tangisannya keras pula. Mungkin semua yang tadinya pengen nangis malah tertawa dan berkata “lihat-lihat ada  gajah afrika nangis sambil gulung-gulung”. Dasar farid, tangisannya udah menggugah hati tapi gulung-gulungnya itu terlalu banget. Kayak sinetron.

Aku yang asik menertawakan farid menangis tiba-tiba dibuat shock jantung. Aku merasa bahwa kalau aku punya jantung lemah mungkin udah mati ditempat. Bagaimana tidak, tiba-tiba anak didepanku tergeletak tak berdaya. Pertamanya aku kira dia mengantuk dan tidak tahan ngantuk sambil duduk makannya dia jatuh. Tapi setelah aku amati dan coba bangunkan, kok gak bangun-bangun. Dan aku berspekulasi bahwa dia mati. Astaga. Parah.

Aku berteriak pada seorang panitia “kak ini ada orang mati” sialnya kakak itu sok cool. Dia tidak buru-buru menolong malah pergi memanggil temannya untuk mengangkat ini anak. Gila lepas tanggung jawab. Tapi ternyata dia tidak mati. Dia hanya pingsan. Katanya sih dia ingat adeknya yang sudah meninggal ketika melihat video mayat dikuburin sehingga mentalnya jadi lemah dan akhirnya pingsan. Tapi pingsannya benar-benar menakutkan. Kayak orang mati.

ESQ pun selesai dengan tawa, tangis dan rasa kantuk. Setelah dua jam duduk tak bergerak dan bokong rasanya keram, akhirnya kami diperbolehkan tidur. Lalu bagaimana acara jerit malamnya? Tidak jadi. Karena hujan. Anak lain pada senang tapi aku kecewa. Padahal aku pengen merasakan keteganggan jerit malam *padahal dirinya sendir takut hantu. Sok-sokan*. Malam ini tidur kami nyenyak karena tidak ada acara orkestra suara-suara hewan lagi. didalam tidurku aku bermimpi dan menikahi Melody JKJ48. Oh indahnya. *penulis sarap, terobsesi sama Melody JKT48*.

Akhirnya hari terakhir LDKS pun datang. Artinya ini hari untuk pulang. Setelah melewati hukuman demi hukuman, akhirnya kami pulang juga kerumah masing-masing sambil berkata “good bye LDKS yang menyiksa”. Hal pertama yang aku lakukan setiba dirumah adalah buang air besar. Aku sudah menahan BAB selama 3 hari 2 malam. Kenapa aku gak bab disana? Ya kalian tau sendirilah kalau kamar mandi diperdesaan pasti kumuh dan membuat mood kita BAB menghilang. Yang tadinya uda mau keluar malah masuk lagi. benar apa pepatah “tiak ada Wc senyaman WC dirumah sendiri” :D.

Minggu, 09 Maret 2014

Gadis Pembawa Tornado



Karena aku ingin mengikuti lombanya om Indra wijaya *garis bawahi kata om* penulis buku tulang rusuk susu, maka aku menulis tentang dia lebih cepat. *merusak planning yang ada nih sayembara*. Dia yang namanya tidak ingin aku ucapkan lagi layaknya seorang voldemort di film harry muter. Butuh seratus juta pembuka segel hati untuk mengingat kembali masa-masa indah dan kelam dengannya. *cieeee*

Namanya Lidia. Adek kelasku di SMA yang bisa membuat hatiku berdebar kencang layaknya sedang naik tornado. Dia cewek idamanku banget saat itu. Rambut panjang mengurai, senyuman manis dengan gingsul gigi, tubuh proposional dan muka-muka oriental. Pokoknya sipskay. Intinya  perawakan kayak kuntilanak tapi kakinya napak ketanah .

Awalku mengetahui dia *masih belum kenal*, saat aku sedang makan pada jam istirahat pagi. Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh seorang cewek yang jalan ditengah lapangan dengan rambut terhempaskan angin kayak di sinetron-sinetron indonesia. Aku berkata dalam hati “ternyata bidadari itu memang sungguh ada di dunia ini”. Aku tak menyangka, setelah 5 tahun gak ada cewek yang bisa mendebarkan jantungku dengan cepatnya *bukannya aku gak laku luh ya*, hari itu hanya dengan hanya memandangnya jantungku berdebar dengan kencang serasa lagi dikocok dalam gelas arisan. Keluar kertas yang bertulisan “pemenang hati prabu prasetya meifa untuk saat ini adalah dia yang jalan ditengah lapangan. Selamat”.

Pada saat itu aku belum tahu siapa namanya. Tapi sesuai cita-cita ku saat SD dulu yang ingin menjadi Sherlock Holmes, mendapatkan serpihan-serpihan data pribadi dia tidaklah susah. *sombong*. Awalku mencari tau tentang dia dengan satu kalimat pertanyaan “kelas X berapakah dia?”. Dengan mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, maka aku bisa mengembangkan hasil analisisku yang lain. *cerdas*.

Kebetulan aku anak basket waktu itu, dan kegiatanku adalah menyeleksi anak kelas X yang ingin masuk kedalam team. Nah dari sinilah pencarian jawaban dimulai. Saat acara seleksi selesai, aku mulai bertanya kepada anak-anak kelas X. “eh dari kalian ada yang kenal sama cewek cina yang ada gingsulnya” tanyaku pada mereka yang duduk disebelahku.

“yang mana kak? Ada ciri-ciri lebih detail lagi gak?” jawab anak sebelah kananku.

“pokoknya yang cina, pendek, rambut panjang, punya gingsul trus kalau jalan kekantin mesti sama temannya yang gendut kayak babon mata merah menyala”

“oh itu kak namanya lidia anak kelas X-1” teriak salah satu anak yang ada didepanku

“kamu kenal?”

“kenal kak, kebetulan dia satu kelas denganku”

“mintain nomer Hpnya dong”

“gak berani kak, dia galak kayak mak lampir”

“ah serius kamu?”

“serius”

Aku gak gentar meski baru mendapatkan satu bukti bahwa dia itu galak kayak mak lampir. Cinta membutakan semuanya guys. Apapun itu yang menurut kita jelek kadang malah menjadi nilai tantangan tersendiri. Semakin ingin mengejarnya dan mendapatkan cintanya *cieeee*. Sekarang aku fokus berfikir bagaimana caraku untuk lebih mendekatkan diri dengan dia aja.

Kedua temanku, jisunk dan farid adalah anak OSIS. Mereka mengajakku untuk menjadi OSIS waktu itu. Tapi aku menolak, karena yang aku tau jadi anggota OSIS itu selalu rapat setelah pulang sekolah. Ya males, ketinggalan nonton spongebob dong aku ntar kalo pulang gak tepat waktu. Tapi mereka tetap ngotot bahwa aku harus ikut. Dan untuk jadi anak OSIS bakal ada tradisinya yaitu LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) *kalau gak salah, berarti bener*.

“ayo bu pokoknya kamu harus ikut” paksa jisunk yang kebetulan satu kelas denganku

“kagak wah, ngapain ikut gituan, yang ada malah disiksa”

“ayolah ikut, temeni aku. Anak XI IPS 2 yang ikut Cuma aku doang nih”

“ah tampangmu doang yang serem, hatimu kayak hello kitty. LDKS aja minta ditemeni”

“yawda kalo gak mau. Tapi denger-denger, semua anak kelas X wajib ikut LDKS luh”

“ah serius? Kamu luh tukang bohong”

“kagak, serius ini”

Setelah mendengar informasi dari jisunk kalo anak X wajib ikut LDKS, berarti otomatis si lidia juga ikut dong. Yang tadinya aku tidak ingin ikut, akhirnya malah jadi yang paling semangat dari jisunk dan farid. Wajar guys ada misi terselubungnya nih. Hehehe

Hari H untuk LDKS tiba. Farid dan jisunk seneng banget aku ikut. Aku sih gak peduli mereka mau seneng atau enggak aku ikut, yang penting bagiku adalah selangkah lebih maju dekat dengan lidia. Anak kelas X yang ikut jumlahnya banyak banget, ada sekitar 100 anak. Sedangkan kami yang kelas XI hanya berjumlah 20 orang.

Aku ingat saat itu ada 2 bis yang akan mengangkut kami, X-1 dan X-2 di bis 1 kemudian X-3 dan X-4 di bis 2. Nah karena aku tau dia X-1 dan ada di bis 1 maka bagaimana pun caranya aku harus berada di satu bis yang sama dengan dia. waktu itu aku hasut semua anak kelas XI yang dekat denganku untuk masuk ke bis 1 dengan cara hipnotis. Tatap mata saya #absurd. Dan mereka pun setuju. Jeng jeng, aku berada di bis 1 dan duduk tepat dibelakang dia. wuiihhh senangnya hatiku turun panas demamku, insana oh insana.

Didalam bis suasana panas banget, bukan panas gara-gara hatiku sedang terbakar asmara cinta, tapi emang gara-gara bisnya yang bisa dibilang gak layak pakai. Serasa berada di oven, dan jendela adanya hanya dibagian atas kursi. Jika kita ingin menikmati udara segar maka  harus naik ke bagian sandaran kursi. Jahanam sekali panasnya.

Semua yang ada didalam bis kepanasan dan berteriak “ AIR !, AIR !” seperti lagi nonton konser Slank. Parah deh pokoknya itu bis. Tapi dari rasa panas ini ada untungnya bagiku. Iya bagiku. Dimana dia sekarang berada tepat di hadapanku. Yang tadinya aku tidak bisa melihatnya meski duduk tepat dibelakangnya, sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Karena dia duduk disandara kursi untuk menikmati udara segar.

Kumulai curi-curi pandang melihatnya. Mengagumi semua keindahan dengan tatapan mataku. “ini surga didalam neraka”. Tanpa diduga dia ternyata menyadari kalau aku sedang memandangi dia dengan mulut menganga. Gengsi dong tentunya, jadi kualihkan pandangan jika dia mengarahkan tatapannya padaku. Selama perjalanan sampai ke tempat LDKS, hal seperti ini terjadi terus. Aku memandanginya dalam, dalam dan lebih dalam. *cakep*

Setelah mendekam dalam bis yang panasnya seperti neraka, akhirnya kami sampai di tempat LDKS dengan diiringi turunnya hujan yang membasahi bumi. Yang tadi panas, sekarang malah jadi dingin pake banget. Bisa-bisa kena insomnia nih aku. Lho.

“ayo letakkan barang bawaan kalian di Kamar masing-masing. Cepat !!!” teriak seorang trainer.

Sial banget baru aja sampe uda diperlakukan kayak tahanan aja. kalau bukan demi deket sama dia, gak bakal deh mau ikutan yang kayak ginian. Disiksa secara halus. Ditengah hujan semua anak membawa barang bawaannya ke kekamar masing-masing. Aku kira setelah masuk kamar keadaan sudah aman, tapi ternyata tidak.

“dalam hitungan ke sepuluh kalian harus sudah berbaris ditengah lapangan !!!”

Kampret banget nih trainer, kita disuruh baris ditengah hujan. Coba kalo aku punya hamehameha udah aku keluarin buat nerbangin tuh trainer keneraka. Peserta hujan-hujan, para trainer pake payung sambil memperkenalkan diri dan ceramah tentang kegiatan yang akan kami lakukan. Acara awal yang kami lakukan adalah pembagian kelompok.

“ayo berhitung dari kiri ke kanan mulai dari angka 1 sampai 6” ujar kakak trainer yang badannya kayak buto ijo

“1 2 3 4 5 6” ya begitulah suara yang terdengar oleh semua peserta ditengah guyuran hujan, begitu juga aku. Diam-diam aku menghitung dan menebak-nebak sendiri siapa kelompokku. Pertama aku senang karena sesuai perhitunganku farid ada dalam kelompokku. Lalu aku mencari-cari lidia. Dia ada di pojok baris ke 3. Aku hitung dan ternyata dari hitunganku dia masuk kelompokku. Seneng dong. Tapi waktu itu dia tiba-tiba berteriak “tiga”. “hah tiga?” aku heran. “Bukannya empat?” ternyata aku melewatkan menghitung teman disebelahnya sehingga ternyata dia tidak sekelompok denganku. *apes*. Tapi gapapa yang penting selama 3 hari kedepan aku bisa memandangi dia lebih dekat.

Sebuah gelang kaki. Itulah yang menjadi pembeda antara dia dan cewek lain saat itu. Dipakai di kaki sebelah kiri dengan balutan kaos kaki dibawah mata kaki berwarna pelangi. Setiap acara baris-berbaris aku selalu mencari gelang kaki tersebut untuk tidak melewatkan moment tentang dia, apalagi senyumannya. Bagaikan obat bius. Melumpuhkan hatiku.

Dihari ke 2 LDKS aku mendapatkan sebuah moment berkenalan dengan dia. *cieee*. Saat acara mendaki gunung. Kelompok dia berjalan tepat didepan kelompokku. Dia berjalan pada barisan akhir kelompoknya sedangkan aku berada dibagian depan kelompokku. Setiap ada tanjakan, aku ulurkan tangganku untuk membantunya. Yang paling kasihan adalah temannya yang gendut. Anak-anak parah gak ada yang mau nolongin. *berdosa kalian*. Ya supaya tidak ketahuan kalo aku diam-diam suka sama lidia, kutolong juga temannya.

Tapi ditengah perjalanan mendaki gunung, ada temanku yang mulai mendekati dia ternyata. Dia selalu mengulurkan tangganya sebelumku. Tapi ketika aku mengulurkan tanganku untuk membantunya, dia selalu menerima uluran tanganku sambil tersenyum dan berkata “makasih”. Senyumannya benar-benar menyejukkan batinku. Karena aku sok cool, jadi aku hanya balas dengan tersenyum. Kenapa? Riset membuktikan bahwa cewek itu suka cowok yang cool dan mesterius. Ya kayak Mr.Bean mungkin yang jarang ngomong tapi lebih banyak bertindak.

Ketika berada di puncak, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada dia. “nama kamu siapa?”
“lidia”
Dari sinilah setiap aku berpapasan dengan dia, aku selalu tersenyum padanya, begitu juga sebaliknya.
Emang sih setelah kejadian itu, gosip tentang aku suka dia mulai menyebar. Dan entah dari mana dia mengetahui namaku. Setiap dia berpapasan denganku, selalu menyapa dengan nada yang khas “prabuuuuu”. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia menyapaku seperti itu.

Hari pulangpun tiba, aku tetap satu bis dengan dia. Saat perjalan pulang aku tetep tersenyum memandanginya. Sesampai di sekolah, aku bertanya nomer Hpnya. Dia menjawab dan aku mencatat dengan penuh ketelitian.

“kamu pulang sama siapa?”

“sama tanteku, kenapa?”

“oh gapapa, aku kira gak ada yang nganter. Kalo mau bareng aku aja”

“enggak deh, itu aku udah dijemput”

“yawda hati”

Gak sia-sia ternyata aku ikut LDKS. Selangkah lebih maju. Hohoho masterkan. Tapi meski sudah dapat nomer Hpnya, aku tidak langsung menghubunginya. Ya antara malu tidak dibalas dan gengsi. Disekolah, gosip tentang aku suka dia makin tersebar luas. Entah infotaiment mana yang menyebarkan ini semua. Dan dia makin intens memanggilku namaku setiap berpapasan. “prabuuuu”

Teman-temanku yang mendengar sapaan itu selalu mengkompor-kompori. “cieeeee prabu rek. Laku” Laku? Dikira barang bekas apa yang gak laku- laku. Gini-gini aku famous kali. Ya Cuma akunya aja pilih-pilih cewek. Dan baru lidia yang bisa menarik perhatianku.

Selama satu bulan hanya kejadian seperti ini yang terjadi. Berulang-ulang seperti de javu. Hingga pada suatu hari aku bertemu dengannya disebuah acara Mading Surabaya. Aku sedang makan bersama teman-temanku di food court sambil mengomentari setiap orang yang berjalan dihadapan kami layaknya komentator fashion terkemuka.

“lihat bajunya. Gak macing sama kulitnya” ketus farid

“iya gak banget sob. Coba dia pake baju yang lebih soft color pasti lebih keren” timpal jisunk

Aku heran dengan mereka. Muka-muka preman tapi yang dibicarain cucok banget. Kejantanan mereka menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka memang tulen seorang laki-laki atau tulang lunak. Aku hanya menghela nafas jika mereka mengomentari orang-orang yang lewat seperti itu. Coba kalau mereka bukan temanku. Uda aku jorokin dari lantai 3 mall ke lantai dasar. Malu-maluin aja. wajah sangar tapi kerjaannya gosip kayak ibu-ibu lagi beli sayur.

Ketika aku tertunduk lesu dan jenuh mendengar celotehan tuh anak dua, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menempel pada tanganku. “hah tangan siapakah ini?” sambil terkejut dalam hati. Tadinya aku mengira ini tangan malaikat pencabut nyawa, tapi ternyata itu tangan dari bidadari penyelamat jiwa. Bagaimana tidak, lidia tiba-tiba muncul dihadapanku. Apakah ini mimpi? Awalnya aku berfikir demikian tapi setelah aku menendang farid dan dia menjerit kesakitan berarti menandakan kalau ini bukan mimpi. Sekali lagi ini bukan mimpi.

“luh lidia, ngapain kamu disini?” tanyaku

“habis liat mading tadi. Sekarang lagi nunggu tante jemput”

“kamu sendirian?”

“tadi sih enggak tapi sekarang sih iya. Teman-temanku udah pulang duluan”

Kami pun bercakap-cakap banyak hari itu. Aku menemaninya sampai dia benar-benar dijemput. Ya kapan lagi aku ngobrol berdua sama dia kayak gini. Jarang terjadi. Wajar aku pemalu. Ketika didepan cewek yang aku suka, aku gak tau harus bertingkah seperti apa. Takut salah tingkah. Aku sudah gak peduli sama teman-teman disekitar. Fokusku hanya lidia seorang saat itu.

Obrolan kami tidak berakhir sampai disitu saja. Iya kami makin dekat. Makin intens berkomunikasi. Setiap malam aku menanti kabar dari dia. begitu pula dia. Mungkin. Pikiranku sekarang telah diisi oleh dia yang mengambang-ngambang dipikiranku.

Suatu hari disekolah. Aku ingat saat itu tanggal 19 Desember 2008. Jarak kami hanya dipisahkan oleh lantai, aku iseng mengungkapkan persaanku padanya. “lidia, tau gak kalau aku diam-diam suka sama kamu?”

“tau kok”

“hah? Tau dari mana?”

“iya kan banyak gosip yang beredar kalo kamu suka aku”

“kalau gitu mau gak kamu jadi pacarku? Nanti pulang aku tunggu diparkiran kalo nerima berarti aku anterin kamu pulang tapi kalau enggak yawda”

Ini nembak model apa sih? Kagak ada romantis-romantisnya. Wajarlah anak SMA kantong cekak, gak cukup buat nyiapin surprise penembakan. Lagian aku bilang gitu juga iseng. Diterima alhamdulilah, gak diterima ya terjun dari lantai 3 sekolah.

Ternyata, eh ternyata *jenjeng*. Dia datang menghampiriku di parkiran saat akan pulang. Lalu dia berkata. “jadi anterin aku pulang?”

Tau kan artinya? Iya aku diterima oleh dia. hohoho. Ya meski prosesnya aneh dan tak seromantis film korea tapi aku bisa dapetin hatinya. *uyeee*. Saat itu banyak anak-anak cewek yang melihat aku mengantarkan pulang lidia. Mereka heran “kok prabu jalan sama lidia? Mereka pacaran?”. Ya kami memang pacaran. Patah hatilah kalian yang selama ini menyukaiku hahaha *tertawa licik dan sadis*.

Ya akhirnya aku hidup bahagia dengan dia selamanya. Kami menjalani hari-hari bagaikan kekasih yang menganggap dunia ini milik berdua. Tiap hari aku kerumahnya, makan bareng, ngerjain tugas bareng *yang ini bohong*, pokonya menghabiskan waktu bersama terus. Tulang rusukku yang hilang akhirnya telah menempel kembali dibadanku. Happy ending :*. I LOVE LIDIA .
.

.
 
.

.

.

.

.

Tapi oh tapi. Kita lupakan kata-kata happy ending. Luh kenapa?. Penulis Cuma pengen cerita ini seperti didalam dongeng sebelum tidur. Yang sebenarnya terjadi adalah.......

8 Bulan kemudian

Lidia mulai aneh, aneh kenapa? Dia alien?. Bukan, dia bukan alien tapi dia grim reaper. Biasanya kami berkomunikasi dengan mesra dan menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang tidak lagi, semenjak dia mengenal seorang cowok anak band. Dia kakak kelasku, seorang drummer band. Emang sih saat itu ini band lagi booming disekolahku. Dan aku kecolongan. Ternyata diam-diam lidia menyelingkuhi secara halus nan menusuk. Awal aku memang curiga karena ada perubahan yang sangat drastis dari sifat dan perhatiannya padaku. Tapi aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.

Banyak alasannya untuk menghindariku. Alasan hp ketinggalan lah, ketiduran lah, atau lupa lah. *gila parah, lupa pacar sendiri, tapi selingkuhan inget*. Puncaknya dia memilih meninggalkanku.
“yank*”

“iya apa?”

“kita putus aja yah, aku lagi pengen sendiri. Kamu lupain aku cari yang lebih baik dari aku”

Jantungku berdetak tak karuan, perasaanku campur aduk seperti sedang diterbangkan oleh sebuah tornado. Bagaimana tidak, tanpa alasan yang jelas dia memutuskanku. Meski aku menahan dan memohon-mohon seperti orang gila, dia tetap teguh pada pendiriannya.

Aku pasrah, aku frustasi. Alasan klasik seorang cewek mutusin cowoknya adalah 1). Kamu terlalu baik buat aku. Dapet yang baik malah gak mau. Maunya apa. 2) aku mau sendiri. Sendiri apanya? 2 hari setelah putus uda dapat pacar baru. Ah kampret. Pokoknya kampret. Aku gak bisa terima kenyataan ini waktu itu.

Entah bisikan dari mana. Entah iblis apa yang membisiki telingaku saat itu. Ketika aku melihat racun serangga, tiba-tiba ada yang bilang.

“minumlah aku, minum”

“apa minum kamu?” jawabku

“rasaku seperti buah kelapa, kamu akan langsung pergi kealam damaimu”

Mendengar kata alam damai, aku merasa terpana. Memang saat itu aku udah bosen hidup. Ditinggal lidia membuatku buta. Buta hati. Setiap perkataan temanku yang bilang kalau aku harus sabar tidak aku dengarkan. Kenapa juga hanya kata sabar yang ada? gak ada apa kata yang lebih bisa nenangin orang yang lagi patah hati selain kata sabar? Kenapa sabar mulu? Kenapa?

Akhirnya aku meminum racun serangga. Dengan maksud agar dia menyesal telah meninggalkanku. Dan akan dilihat adalah jasadku yang terbujur kaku. Aku ingin dia merasa menyesal telah meninggalkanku. Tapi sepertinya yang menyesal itu aku deh. Bagaimana tidak. Setelah minum racun serangga aku merasa tubuhku lemah tak berdaya. Ini rasa sakit yang paling sakit yang pernah aku alami selama ini.

Mamaku kaget melihat aku telah tergeletak dilantai. Dalam hati aku berkata, “yes aku bakal dibawa kerumah sakit oleh mamaku naek ambulan”. Awalnya aku berfikir demikian tapi ternyata tidak. Aku dibawa kepuskesmas dekat rumah naik becak. Sialan banget gak jadi keren dan dramatis. Dan yang parahnya lagi ketika diperiksa dokter, dokternya bilang kayak gini, “anak ibu gak apa-apa kok, Cuma masuk angin doang”.

“apa masuk angin? Kampret banget nih dokter. Aku ini habis minum racun serangga. Dokter gadungan nih” celotehku dalam hati. Ya mamaku yang mendengar itu tersenyum bahagia karena anaknya Cuma masuk angin. Tapi aku kecewa karena hal yang aku pikirkan bakal dramatis kayak di TV-TV berakhir dengan kata-kata seorang dokter yang bilang “aku hanya masuk angin” fakk banget dah.

Setelah kejadian itu, aku mulai belajar bangkit dari keterpurukanku dan menerima kenyataan kalau lidia meninggalkanku demi orang yang lebih baik dari aku. Cowok yang bahagiain dia saat itu adalah kakak kelasku yang seorang drummer.

Setiap aku melihat dia bermesraan dengan pacar barunya, aku merasa hatiku tersayat tipis. Halus nan menyakitkan. Ya tapi mau gimana lagi. Apakah aku harus menggangu hubungan orang yang telah bahagia? Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku berusaha untuk mengobati rasa sakit dihatiku ini.

Ketika bersama lidia, aku merasa lebih jauh dengan teman-temanku. Tapi ketika aku terpuruk seperti ini, mereka tetep merangkulku dan memberiku semangat untuk bangkit. Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu “aku tidak akan meninggalkan sahabat-sahabatku lagi. Karena apa? Disaat aku terpuruk seperti ini mereka yang selalu ada bukan lidia. Terima kasih sahabat sahabatku. Persahabatan kita memang seperti kepompong.

Akhir cerita ini apa? Akhirnya aku bangkit dan melupakan lidia dengan bantuan sahabat-sahabatku. Lalu tulang rusuk yang kemarin lengkap sekarang bagaimana? Hilang sudah diterbangkan angin tornado entah kemana. Aku tidak menyesal, setidaknya aku makin dewasa setelah kejadian ini. Cinta memang bakal datang dan pergi sehingga kita harus siap untuk merasa kehilangan jika hal itu terjadi secara tiba-tiba.