Minggu, 28 Desember 2014

Rekap Perjalanan Dalam 7 Tahun Terakhir

Uda lama gak nulis diblog hahaha. lagi sok sibuk nih jadi jarang nulis lagi :D.
Tapi sebenernya sih bukan sibuk cuma bingung aja mau nulis apa. sebelumnya kan nulis-nulis cerita waktu jaman SMA. Masa itu terjadi sekeitar 7-8 tahun yang lalu dari sekarang, dan otakku terlalu dangkal untuk mengingat semua kenangan dan kejadian dalam 7 tahun terakhir ini. Jadi intinya aku pengen mulai aktif lagi nulis cerita di blog ini lagi dan akan diawali dengan cerita waktu yang paling dekat yang aku alami saat ini. syukur-syukur aku bisa inget kenangan pas SMA sih bagus, bisa ditulis lagi, tapi ntr dah kalo uda mulai-mulai inget lagi hahaha.

Oke inti cerita kali ini adalah selama 7 tahun ini aku telah berganti 2 kali pasangan (pacar). Kalau sebelum pernah aku ceritain pacar dikala aku duduk dibangku SMA, Lidia. hubunganku akhirnya berakhir  setelah hampir 4 tahun bersama. alasan kita berpisah mungkin karena beda keyakinan. aku yakin kalo aku ini tampan, sedangkan dia yakin kalo aku ini amburadul mukanya. hahaha

Setelah putus dari dia, aku mulai masuk kedalam masa-masa galau. Selama 2 tahun aku sendiri tanpa seorang kekasih hingga akhirnya aku berani untuk jatuh cinta lagi dengan temanku saat Sekolah Dasar. Panggil saja dia Zi. tapi hubunganku dengan Zi pun tidak berjalan mulus dikarenakan kami harus Long Distance Relationship (LDR). Hubungan kami hanya baik-baik selama 6 bulan saja. Setelah itu, kami saling krisis kepercayaan.

Lalu sekarang bu?
Sekarang? aku punya kisah baru dengan adik kelasku SMA, sebut saja dia Cici
Setelah berakhir dengan Zi, aku tak lama untuk cari penggantinya. Kenapa kok sekarang bisa lebih cepet cari penggantinya? karena aku sering membaca masukkan-masukkan tentang masalah-masalah romansa di satu akun twitter. Kalo gak salah nama akunnya @hitmansystem  .

Aku mulai sering membaca tweet-tweet dia yang membuka pikiranku tentang suatu hubungan. So akhirnya aku berfikir "aku masih muda dan gak ada salahnya kalo memperluas pergaulan dan nambah jam terbang berpacaran". Dan akhirnya aku mulai berani jatuh cinta dan punya pasangan lagi deh.

Ya itulah review cepet tentang kehidupan percintaanku selama kurang lebih tujuh tahun ini. Sekarang aku pengen mulai nulis lagi cerita-cerita baru. Dimulai dari cerita dibawah ini.


Hati Baru Dunia Baru
Pada akhirnya aku ditinggal lagi oleh pacarku yang sebelumnya (zi). Ya memang benar Long Distance Relationship (LDR) itu susah untuk dilakukan kalo gak ada kedewasaan dan juga kepercayaan antara kedua belah pihak. Aku tak bisa percaya akan kesetiannya dan dia tak bisa menjaga kepercayaanku atau mungkin sebaliknya. Entahlah.

Puncak permasalahan pada hubunganku bersamanya adalah pada awal februari 2014 dia berkata bahwa hubungan kami harus berakhir. Aku mencoba mempertahankan hingga aku harus meminta-minta dia untuk tetap berada disisiku. Memang dia berada disisiku tapi tidak seperti waktu dulu lagi. Sifat, perhatian, kesetiaan bahkan hal yang paling penting yaitu komunikasi kamipun menjadi sangat-sangat buruk. Enam  bulan perjalan cintaku tetap seperti itu, aku masih berfikir bahwa dia pacarku tapi entah dengan dia.

Pada awal agustus aku berusaha menemui dia dikota Jakarta dan dia menyambut niat baikku itu…… Awalnya . Setelah aku mempersiapkan semua hal tetantang keberangkatanku kesana mulai dari tiket, uang, fisik hingga waktu, akhirnya malah tidak jadi aku kesana. Karena apa? Karena dia tidak bisa dihubungi. Aku telepon dan mengirim pesan padanya berulang kali tapi tidak ada respon darinya.

Sebenenarnya aku ingin nekat untuk tetap berangkat ke Jakarta meski dia tidak bisa dihubungi. Dengan menggunakan motor warna pinkku aku berangkat kestatiun kereta keberangkatanku. Sambil merenung dan berfikir disezip meter perjalananku, tiba-tiba handphone disaku sebelah kiriku bergetar. Berharapa dari dia tetapi ternyata bukan. (ngarep). Ternyata dari sahabatku dwiki yang berkata “sob kamu dimana?”
“aku mau ke statiun sob, mau ke Jakarta” balasku
“oalah sob, padahal aku mau ngajak kamu nongkrong-nongkrong gaul”
“sama siapa aja sob”
“anak-anak biasanya sob tapi ini desar ngajak Cici”
Cici? Aku berfikir dalam perjalananku, Cici itu siapa? Hahaha.. setelah berhasil mengingat-ingat ternyata cici yang dimaksud adalah adek kelasku ketika SMA dulu. Seangkatan sama si Lidia. Masih dalam perjalanan menuju statiun aku berfikir “ke Jakarta atau nongkrong sama anak-anak ya?”

Hingga akhirnya aku sudah berada tepat didepan gerbang statiun dan aku masih berfikri Jakarta atau nongkrong. Setelah aku fikir-fikir lagi, untuk apa aku kejakarta? Orang yang mau aku temuipun gak peduli sama aku. Akhirnya aku pilih nongkrong bersama teman-temanku. Dengan cepat aku kirim pesan singkat pada ikwid “sob aku ikut nongkrong, tunggu aku”.

Entah keputusan ini tepat atau tidak, menyesal atau tidak, aku sudah tidak peduli yang aku pikirkan saat itu adalah “kapan aku bahagia jika orang yang aku pikirkan tidak memikirkanku”. Sebelum menemui anak-anak aku mampir ke gramedia untuk membeli beberapa buku novel yang bisa aku baca untuk menghilangkan rasa galauku ketika aku sedang sendirian dirumah. Jujur saja aku pasti kepikiran dan galau banget karena tidak jadi ke Jakarta. Toh tapi nasi sudah jadi bubur, waktu keberangkatan sudah lewat jadi ya apapun yang terjadi setelah keputusanku ini aku kan terima.

Akhirnya setelah membeli beberapa buku aku hampiri teman-temenku. Tumben sekali mereka semua sudah kumpul dengan komplit, biasanya munculnya satu persatu. Duduklah aku dengan sebuah perasaan hati yang gundah gulana. Semua mulai bertanya “dari mana kamu bu?”. Setelah aku jelaskan panjang lebar sambil menunjukkan tiket-tiket kereta api yang batal kunaiki, eh kampret malah diketawain . Teman macam apa mereka, suka banget kalo aku dalam susah apalagi kalau aku patah hati. Malah saat itu si Farid bilang “mending kamu jadi homo aja dah dari pada pacaran sama cewek disakiti mulu”.
“gak mau lah, kalo putus cari lagi “ jawabku
“percuma, bener kamu tampan tapi kalo disakiti cewek mulu ya percuma” timbalnya

Kurang kampret apaan ini semua temen-temenku, bukan hiburan yang kudapat malah dijadiin bahan bullyan.
Bagaimanapun aku tidak menyesal dengan keputusanku saat itu. Karena apa? Karena meski Zi memutuskanku, aku masih punya sahabat-sahabat yang bisa menghiburku dengan cara mereka yang absurd. Di setiap bullyan mereka, ada rasa kasih sayang sebagai teman yang sangat dalam seperti mereka merasakan apa yang aku rasakan dan berusaha untuk membantuku melewati masa yang sulit itu.
Lalu tentang Cici? Nanti deh dilanjut ceritanya :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar