Banyak orang
bilang kalau aku pinter *katanya sih*. Tapi padahal aslinya aku gak pinter....
tapi pandai :D . Tau kan bedanya pintar dan pandai? Apa ya? Aku juga gak tau
sih coba cari digoogle mungkin ada jawabannya. Hehehe. Kepandaianku memasuki
puncak kejayaannya ketika aku sedang berada di kelas 3 SMA. Tapi semua itu bisa
diartikan sebagai sebuah keberuntungan semata. Aku gak pernah belajar dirumah.
Buatku belajar ya sekali waktu disekolah doang. Belajar di sekolah aja uda
bikin kepala keluar asap kayak kebakaran apalagi kalau harus ditambah belajar
dirumah, mungkin aku akan melambaikan tangan pada kamera. Sungguh tidak kuat.
Ketika kelas
3SMA aku menjadi anak kesayangan guru-guru karena nilai tugasku selalu bagus
dan aku anaknya pendiam tidak banyak ulah sehingga bagi guru-guru, aku bisa
jadi panutan bagi siswa-siswa yang lain. Tapi mereka kan gak tau kelakuan
asliku yang sebenarnya. Tiap pagi tidur dikelas, provokator keonaran, belajar
gak pernah dan apalagi aku lupa. Aku lebih suka kalau berbuat keonaran sebagai
orang dibalik layar. Jadi aku menyusun semua rencananya sedangkan yang lain
bagian eksekusi. resiko terkena hukumannya lebih sedikit apalagi dengan predikatku
sebagai anak teladan dimata guru-guru, aku selalu lolos amukan para guru.
Contohnya
dikelas ada seorang temanku yang pendiam dan tingkahnya seperti tokoh anime
naruto, tau kan siapa naruto? Temanku ini kalau berlari tangannya diangkat
kebelakang serasa dia sedang lari dengan kecepatan 100 km/jam dan kalau bermain
selalu dipinggir selokan yang berada dekat dengan pohon beringin tua, entah apa
detail yang dilakukan dia disanan. Tidak ada yang tahu, semuanya menjadi sebuah
misteri. Saking ini anak terlihat memiliki banyak misteri, sehingga menimbulkan
orang-orang disekitar sangat ingin usil terhadapanya.
Waktu itu
kebetulan sedang jam kosong pelajaran. Katanya sih gurunya sakit. Entah
benar-benar sakit atau beliau malas bekerja, tidak ada yang tau. Nah jam kosong
ini selalu menjadi moment paling menyenangkan bagi para murid-murid. Setuju???
“Setujuuuuuu”. Yang selalu dilakukan saat jam kosong adalah: 1) Ngegosip 2)
Tidur 3) Maen Hp 4) Pacaran (bagi yang pacarnya satu kelas) dan 5) Berbuat
onar.
Mungkin karena
bosan dengan hal nomer 1 sampai nomer 4, maka saat itu yang terlintas
dipikiranku adalah membuat onar. Tapi bukan keonaran yang sangat beresiko bagi
keselamatanku tapi keonaran yang membuat semua anak dikelas ikut serta sehingga
nanti kalo dihukum sama-sama hahaha.
Terlintas
dipikiranku untuk mengganggu ketentraman si naruto ini. Tapi apa??? Setelah
berfikir keras sampai mandi kembang tujuh rupa, akhirnya aku menemukan ide
untuk memborbardir dia dengan gumpalan-gumpalan kertas yang dilempar kepadanya
dengan intensitas dan kuantitas yang banyak. *gila bahasanya, mahasiswa banget*
hahaha. Sedikit demi sedikit demi sedikit aku mulai menyebarkan rencanaku ini
ke teman sebangku, teman sebangku ke teman sebangku, teman sebangku sebangku
keteman sebangku teman sebangku sebangku sebangku keteman sebangku dan begitu
seterusnya sehingga rencana ini diketahui anak-anak satu kelas kecuali dia.
Si naruto ini
kebetulan posisinya adalah sedang tidur dengan posisi setengah badan di bangku.
Jadi dia tidak tau apa yang kita rencanakan kepada dia. anak-anak sudah
mempersiapakan semua gumpalan-gumpalan kertas yang akan dilempar kepadanya.
Instruksi saat itu adalah gumpalan kertas tapi entah gara-gara kreatif atau
yang lainnya, ada anak yang menyipkan sisa nasi bungkus, aqua bekas, roti basi
dan lain sebagainya untuk dilempar kepada dia. “ sungguh diluar dugaanku”.
Semua persiapan
sudah selesai tinggal eksekusi dan....... 1 2 3 sesuai aba-abaku semua barang
berterbangan ke arah si naruto ini sampai dia bangun dan kaget. Semua murid
langsung pura-pura seperti tidak punya dosa. Mereka kembali sibuk dengan
kegiatan masing-masing. Ada yang pura-pura tidur, pacaran, gosip dan lain
sebagainya. Si naruto ini kemudian
marah, bangun dari kursinya sambil melihat kesekeliling sambil dia mencari dan
menebak-nebak siapa pelaku kejahatan yang telah mengganggu ketenangan tidurnya
tadi.
Dengan muka
sambil mengeluarkan aura-aura rubah ekor sembilannya, si naruto ini menggebrak
meja sambil berkata “siapa yang melempar semua ini padaku?” anak-anak yang tadi
melempar serasa gak punya dosa semua, mereka kembali kekegiatannya
masing-masing. Kemudian si naruto ini menunjuk semua anak yang memang didalam
kelas selalu menjadi biang keonaran “kamu, kamu, kamu. Kalian gak bakal bisa
pulang”. Anak-anak yang ditunjuk malah pada ketawa semua gak malah terancam.
Dalam benak mereka itu hanyalah gertakan semata. Ooiya apakah aku termasuk yang
diancam sama si naruto? Tentu tidak. Aku kan anak baik-baik dan lugu hahaha.
Jam pulang
sekolah berbunyi, setelah berdoa kami bergegas meninggalkan kelas. Tapi tak
diduga-duga kepala sekolah sudah menutup pintu keluar dari kelas kami. Ternyata
ancaman sinaruto benar adanya, bukan hanya sekedar gertakan sambal. “siapa tadi
yang jadi biang keonanaran? Ngaku!!!” teriak kepala sekolah. Kami tetap diam
pura-pura gak punya dosa. Tiba-tiba naruto yang menunjuk anak-anak yang tadi ia
tunjuk sebelumnya. Merekapun dipanggil kepala sekolah. Mereka yang dipanggil
keesokan harinya harus datang kesekolah dengan membawa orang tua mereka
masing-masing. Oh kasiannya temen-temanku yang malang. Aku? Lolos dari segala
tuduhan meski aku sebagai provokatornya hahaha (tak tau diri).
Berpindah kepada
prestasi. Dikelas 3 ini aku terpilih menjadi siswa terbaik nomer 1 di jurusan
IPS. Bayangkan, orang semalas aku ini bisa jadi murid terbaik. Padahal dikelas
juga aku tidur mulu tapi kok bisa menang. Heran kan? Apalagi aku. Jadi
ceritanya gini, pada minggu-minggu pertama kenaikan kelas, selalu diadakan
upacara bendera. Kalian pasti malas kan kalau ada upacara bendera, sama aku
juga haha. Pagi-pagi datang kesekolah terus dijemur kayak ikan asin. Oh
panasnya membabi buta sekali pemirsa. Tapi sebagai warga negara yang baik, aku
harus tetap melaksanakannya. Menghormati bendera merah putih dan menyanyikan
lagu indonesia raya dengan jiwa patriotisme.
Tapi hal paling
membosankan dari upacara adalah mendengarkan kepala sekolah berpidato. Haduh
itu rasanya serasa ingin berteriak “sudah cukup pak cukup kami tidak kuat
berdiri”. Sudah lama, pidatonya tidak kami mengerti lagi, sumpah bad banget.
Pidato selesai menandakan bahwa upacara pun akan segera selesai, tapi tiba-tiba
ada ekstra time. Semua murid sudah capek untuk berdiri sampai ada yang
pura-pura pingsan biar bisa mengakhiri upacara lebih cepat. Ekstra time disini
adalah pengumuman siswa terbaik. Tahun-tahun sebelumnya gak ada acara kayak
gini. Memang gak ada atau aku yang gak tau ya? Hahaha.
Beasiswa
dibagikan bagi siswa kelas 1 yang naik kelas 2 dan kelas 2 yang naik kelas 3.
Hadiahnya? Potongan spp bro. Beasiswa 1, 6 bulan spp gratis, beasiswa 2, 4
bulan spp gratis dan beasiswa 3, 2 bulan spp gratis. Kan lumayan spp gratis.
Minta ortu spp untuk tetap bayar padahal gratis hahaha (durhaka, koruptor
kecil). Tapi dalam benakku saat itu, gak
mungkin aku menang. Paling-paling yang menang itu melly, anak kelas
sebelah yang memang pintar dan dibangga-banggakan oleh guru-guru.
Pengumuman pun
dimulai. Satu demi satu pemenang maju kedepan para siswa yang sedang baris.
Dengan senyum pepsodent, terlihat wajah bahagia mereka. Wajah bahagia karena
akan mengkorupsi uang spp hahaha. Yang terakhir adalah pengumuman kategori anak
IPS kelas 3. Mulai dari yang nomer 3. “untuk beasiswa ke 3 anak IPS jatuh
kepada.....” suara senar drum bergemuruh “treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkk,
cessss” “baidowi dari kelas XII ips 2”. Semua anak kelas tiga bertepuk tangan.
Jujur aja dia emang anak yang kurang mampu dan dia selalu tekun dalam belajar,
jadi wajar kalau dia beasiswa. Kemudian “untuk beasiswa 2 adalah........” suara
senar drum kembali bergemuruh
“treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkk, cesss” “mely dari XII IPS 1” dalam benakku
“wah mely kok beasiswa 2 ya. Trus beasiswa satunya siapa ya?”. Anak-anak kelas
3 yang tadinya tidak semangat dalam pembacaan beasiswa ini menjadi ribut
sendiri. Bagaimana tidak, hasil prediksi mereka salah semua. Mely yang paling
pintar seangkatan malah jadi beasiswa 2, trus siapa yang beasiswa 1?. Kami pun
bersorak untuk satu nama. “indra bayu alias jisunk” hahaha. Kami kompak mengumandangkan
namanya setelah tahu mely beasiswa 2. “indra bayu, indra bayu, indra bayu”
teriak semua anak kelas 3 secara kompak. Sampai-sampai anak kelas 1 dan 2
tertawa dan ikut meneriakkan namanya. Si jisunk ini sampai salah tingkah karena
namanya dielu-elukan oleh teman-temannya. Moderatorpun mengumumkan beasiswa
1nya “dan beasiswa satu jatuh pada.........” semua anak kompak berteriak “indra
bayu” tapi moderator tidak menyebutkan nama indra bayu melainkan nama “prabu”.
Anak-anak tetap sibuk meneriaki nama indra bayu, aku juga. Menghiraukan kalau
namaku yang dipanggil. “sekali lagi kepada saudara prabu diharapkan maju
kedepan” aku yang terlalu sibuk meneriaki nama indra bayu sampai tidak sadar
kalau aku yang menang beasiswa 1 hahaha
Aku menanyakan
ke teman sebelah “kenapa harus aku maju?” “kamu yang menang beasiswa 1” jawab
mereka. “ hah aku?” dengan tidak percaya akupun maju kedepan sambil menggaruk
kepalaku karena heran, “kenapa aku bisa menang?” wah jangan-jangan ini adalah
candit camera. Sebenarnya aku tidak menang dan hanya acara usil saja. Tapi
ternyata tidak, aku yang menang. Beneran menang. Sumpah aku tidak percaya.
Hahaha. Selama 12 tahun aku bergelut didunia pendidikan, ini adalah pertama
kalinya aku mendapatkan penghargaan. Amazing....
Acara upacara
selesai, anak-anak sibuk meminta traktiran kepadaku. “cieeee prabu menang beasiswa
1, mustahil sebenernya kamu kan tukang tidur dikelas”
“kamu aja heran
apalagi aku?” jawabku sambil tertawa
Sebagai anak
yang berbakti pada orang tua, orang yang harus mendengarkan kabar mengejutkan
ini adalah “mamaku”. Ia dia harus tau kalau anak yang selama ini ia prediksi
sebagai anak yang malas dan bodoh ternyata bisa mendapatkan beasiswa 1
beasiswa. Hahaha. Antara percaya atau tidak mamaku memang lebih berat kepada tidak
percayanya bahwa aku dapet beasiswa. Tapi ini sungguhan bukan pembohongan
publik semata haha.
Dapet beasiswa
itu membanggakan, apalagi telah mengalahkan anak paling pinter seangkatan.
Didunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin. Selain bangga, reputasipun
bertambah. Tapi ada gak enaknya juga, gara-gara aku jadi siswa berprestasi, aku
sudah tidak bisa tidur dikelas lagi. ntar kalo aku keseringan tidur dikelas
yang ada guru-guru bilang “ ini anak dapet beasiswa kesatu tapi dikelas
kerjaannya tidur, kayaknya kita salah pilih”. Bisa-bisa gelarku dicopot, trus
sppku gak jadi gratis, trus aku gak jadi korupsi uang spp buat jajan. Kan
berabe ceritanya. Tapi marilah nikmati hasil kerja keras kita. Menjadi lebih
baik itu kadang selalu ada hikmahnya *betul tidak?* *betul, betul betul*.
Prestasiku tidak
berakhir sampai situ saja. Ada lagi? tentu ada. *sombong*. Kali ini ketika aku
mengikuti lomba mata pelajaran antar yayasan yang menaungi sekolahku. Kebetulan
ada 3 sekolah yang ikut berkompetisi tapi yang mengikuti lomba mata pelajaran
satu dengan yang lain tidak boleh sama. Dan satu tim terdiri dari kelas 1 kelas
2 dan kelas 3 jadi intinya semua generasi berada didalam satu tim agar kekuatan
pikirannya bertambah kuat. Katanya.
Yang aku ingat
mata kuliah yang dilombakan saat itu adalah dikategori IPA ada fisika, kimia
dan biologi, kemudian di kategori IPS ada geografi, sejarah, dan sosiologi.
Sedangkan bahasa indonesia, bahasa inggris dan matematika menjadi kategori
campuran.
Guru-guru sudah
mulai merekrut siswa-siswi berprestasi dari semua generasi yang tersedia. Jadi
intinya siapa cepat dia dapat. Nah yang paling apes adalah guru matematikaku.
Karena dia santai tidak mencari siswa-siswi yang harus mewakili mata
pelajarannya, dia hanya mendapatkan siswa-siswi sisa. Sisa yang dimaksud adalah
jika ada rangking satu-sepuluh maka dia hanya kebagian siswa yang rangking
sepuluh. Dalam lomba ini, bukan hanya citra sekolah yang dipertaruhkan tapi
citra seorang guru dipertaruhkan. Apakah mereka memang guru-guru terbaik
dibidangnya.
Nah kembali
keguru matematika. Karena dia telat merekrut siswa-siswi terbaik yang ada, dia
kebingungan untuk menentukan anggota tim untuk mata pelajarannya. Saat itu
kebetulan mata pelajaranku adalah matematika. Dan dia mengabsen semua murid
pintar dikelasku apakah meraka sudah mewakili mata pelajaran lain atau belum.
“lusi?”
teriaknya
“iya pak?” jawab
lusi
“kamu mewakili
matematika ya, ikut tim saya”
“tapi saya sudah
disuruh mewakili bahasa indonesia, coba baidowi pak atau meli”
“mereka sudah
dipilih sama guru lain juga, jadi siapa ini yang saya pilih”
Pandangan guru
ini tiba-tiba beralih kepadaku. Aku sih pura-pura gak liat. Kenapa? Karena
males, males harus belajar intensif demi lomba.
“prabu?”
“iya pak?”
“kamu aja yang
mewakili matematika”
“tapi pak, saya
gak jago itung-itungan” cobaku mengelak
“sudah nanti
bapak yang ajari intensif”
Matilah sudah,
mendengar kata intensif aku jadi makin males. Tapi mau gimana lagi sudah
dipilih dan harus dijalani dari pada nanti aku beasiswaku dicopot. Sekali lagi
aku tekankan, aku menang beasiswa bukan karena pintar tapi karena HOKI.
Setiap hari aku
harus belajar matematika diperpus sendirian. Soalnya anggota timku yang lain
belum ditentukan. Rasa malas menghantuiku. Tapi rasa malasku sedikit hilang
ketika tau siapa anggota timku. Dia adalah Lidia, pacarku sendiri. Aku sempat
terkejut kenapa dia jadi anggota timku. Jangan-jangan ini guru salah pilih.
Yang ada kalau aku menduetkan otak kami, bukan kemenangan yang didapat tapi malah
kehancuran. Karena bisa aja maslah rumah tangga kami bawa keperlombaan. *cie
rumah tangga*
Hal yang aku
pikirkan pertama kali saat itu adalah “sial banget pacarku jadi anggota timku,
yang ada ntar gak fokus ke perlombaan malah bertengkar” maklum aku dan dia
memang terkenal sering bertengkar tapi ujung-ujungnya selalu akur. Aku juga
heran kok bisa kayak gitu. Tapi ya sudahlah terima apa adanya. Aku kasih tau
ya, si lidia ini memang pinter, iya pinter nyontek dan nyalin jawaban. Tiap
malam kalau ada ujian UTS, UAS atau harian, aku selalu menemani dia. bkan
menemani di belajar tapi menemani dia menyiapkan jawaban yang ditulis
kecil-kecil alias “kerpekan” kalau kata orang jawa. Sumpah ini guru salah pilih
anggota tim. Aku tukang tidur, si lidia tukang ngerpek. Trus gimana anggota
timku yang satu lagi? guruku memilihnya secara random. Jadi ada anak kelas X
yang lewat trus dia rekrut.
Dia bilang
kepadaku dan lidia “ kalian berdua saja sudah cukup buat perlombaan ini, yang
kelas satu Cuma pelangkap aja”
Dalam pikiranku
“ ini guru belum tau sifat asliku dan si lidia”
Tiap hari kami
harus pura-pura belajar matematika secara intensif diperpus. Sampai serasa otak
mau terbakar. 10 soal harus kami kerjakan dalam waktu 10-15 menit. Kalian bisa
rasakan bagaimana rasanya ketika mengerjakan soal seperti ini. Apalagi soal dan
jawabnnya kayak bahasa sangsekerta gitu, sulit dipahami. Selama satu minggu kami
harus bergelut dengan soal-soal yang merusak mata. dan tibalah hari perlombaan.
Perjuangan kami
dalam memahami soal-soal latihan, hari ini diuji. Selama 2 jam kami harus
mengerjakan soal yang ada. awalnya kami tenang-tenang aja karena merasa yakin
bisa mengerjakan tapi OMG setelah soal dibagiakan, semua tulisan dan angka
serasa huruf sangsekerta. Aku melihat lidia sambil tertawa dan berkata “soalnya
gampang sekali ya”
“gampang
gundulmu” jawabnya.
Bagiku, soal ini
lebih susah dari pada soal unas yang aku pelajari. Sungguh terlalu ini soal.
Tapi untungnya jawabnya adalah ABCDE jadi ya kalau gak bisa tinggal hitung aja
kancing yang ada dibaju. Selesai. Dari 30 soal. Aku hanya bisa mngerjakan 3,
lidia 2 dan anak kelas satu 2. Jadi masih ada 24 soal yang masih belum
terjawab. Masa iya ke24 jawab ini harus aku dapatkan dari menghitung kancing
baju?. Saking pintarnya aku, aku melirik kelompok sebelah yang kebetulan adalah
tim matematika dari sekolah tetangga. Dengan cara curi-curi pandang seperti
kita sedang melihat orang yang diam-diam kita sukai. Mereka mengakat lembar
jawabannya keudara seakan mereka memang sengaja memperlihatkannya pada kami. Ya
karena aku sudah frustasi, aku contek aja jawaban mereka. Tentang hasil
akhirnya bagaimana nanti saja pokoknya ini lembar jawaban terisi penuh. Dengan
stategi curi-curi pandang akhirnya jawaban kelompokku lengkap sudah. Antara
yakin dan tidak yakin kami kumpulkan lembar jawaban itu.
Proses penilaian
dilakukan setelah 30 menit perlombaan selesai. Teman-temanku yang mewakili mata
pelajaran lain, deg-degan menanti hasil pengumuman siapa yang menang. Sedangkan
kelompokku? kami santai seperti tidak punya dosa. Soalnya kami memang sudah
pasrah jadi tidak mengaharapkan jadi juara. Itu lembar jawaban terisi aja sudah
bersyukur.
Penggumuman
juara pun segera dibacakan. Dengan suara dari speker yang keras, ketua yayasan
membacakan hasilnya. “terima kasih kalian telah berpartisipasi dalam perlombaan
ini, dan saya disini akan menggumumankan siapa saja pemenangnya”.
Semua peserta menundukkan
kepala dan berdoa berharap menang. Aku? Menundukkan kepala dan berdoa “cepat
bacakan hasilnya supaya bisa cepat pulang”.
Yang pertama
dibacakan adalah juara untuk mata pelajaran sosiologi. “untuk mata pelajaran
sosiologi jatuh kepada sekolah A”. Ternyata sekolahku lah yang menang. Mereka
bersorak kegirangan serasa mendapatkan jackpot dari mesin pacinko. “selanjutnya
untuk kategori matematika, jatuh pada sekolah A”. Eh ternyata gak disangka,
timku menang. Bukan senang seperti tim lainnya ketika menang, kelompokku hanya
tertawa terbahak-bahak. Ya sapa yang mengira dari stategi curi-curi pandang
kami bisa menang juara satu hahaha. Inti dari pengumuman perlombaan ini, hampir
90% yang juara adalah dari sekolah kami. Hebatkan?
Keesokan harinya
saat upacara *upacara lagi upacara lagi*. pemenang dari lomba yang ada
mendapatkan hadiah dan penghargaan dari kepala sekolah. Yang jadi sorotan saat
itu adalah aku dan lidia. Bagaimana tidak, aku dan dia sepasang kekasih yang
menerima penghargaan karena menang lomba berkelompok. Dalam pikiran guru-guru
mungkin berkata seperti ini “ contohlah prabu dan lidia, pacaran positif,
belajr bersama terus ujung-ujungnya menang lomba”. Bapak ibu sekalian, sekali
lagi saya tekankan, kami tidak pintar rapi kami cerdas. Yang satu cerdas dalam
hal ngerpek yang satu cerdas dalam hal curi-curi pandang. Tiap hari kamu tidak
belajar tepi nonton TV dan bertengkar. Gak ada acara belajar bersamanya sama
sekali.
Ya begitulah cerita
kecerdasanku yang didasarkan dari kehokianku. Jujur aja aku gak pinter, tapi
kebetulan aku cerdas dan penuh keberuntungan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar