Minggu, 11 Mei 2014

Pura-Pura Pintar



Banyak orang bilang kalau aku pinter *katanya sih*. Tapi padahal aslinya aku gak pinter.... tapi pandai :D . Tau kan bedanya pintar dan pandai? Apa ya? Aku juga gak tau sih coba cari digoogle mungkin ada jawabannya. Hehehe. Kepandaianku memasuki puncak kejayaannya ketika aku sedang berada di kelas 3 SMA. Tapi semua itu bisa diartikan sebagai sebuah keberuntungan semata. Aku gak pernah belajar dirumah. Buatku belajar ya sekali waktu disekolah doang. Belajar di sekolah aja uda bikin kepala keluar asap kayak kebakaran apalagi kalau harus ditambah belajar dirumah, mungkin aku akan melambaikan tangan pada kamera. Sungguh tidak kuat. 

Ketika kelas 3SMA aku menjadi anak kesayangan guru-guru karena nilai tugasku selalu bagus dan aku anaknya pendiam tidak banyak ulah sehingga bagi guru-guru, aku bisa jadi panutan bagi siswa-siswa yang lain. Tapi mereka kan gak tau kelakuan asliku yang sebenarnya. Tiap pagi tidur dikelas, provokator keonaran, belajar gak pernah dan apalagi aku lupa. Aku lebih suka kalau berbuat keonaran sebagai orang dibalik layar. Jadi aku menyusun semua rencananya sedangkan yang lain bagian eksekusi. resiko terkena hukumannya lebih sedikit apalagi dengan predikatku sebagai anak teladan dimata guru-guru, aku selalu lolos amukan para guru. 

Contohnya dikelas ada seorang temanku yang pendiam dan tingkahnya seperti tokoh anime naruto, tau kan siapa naruto? Temanku ini kalau berlari tangannya diangkat kebelakang serasa dia sedang lari dengan kecepatan 100 km/jam dan kalau bermain selalu dipinggir selokan yang berada dekat dengan pohon beringin tua, entah apa detail yang dilakukan dia disanan. Tidak ada yang tahu, semuanya menjadi sebuah misteri. Saking ini anak terlihat memiliki banyak misteri, sehingga menimbulkan orang-orang disekitar sangat ingin usil terhadapanya. 

Waktu itu kebetulan sedang jam kosong pelajaran. Katanya sih gurunya sakit. Entah benar-benar sakit atau beliau malas bekerja, tidak ada yang tau. Nah jam kosong ini selalu menjadi moment paling menyenangkan bagi para murid-murid. Setuju??? “Setujuuuuuu”. Yang selalu dilakukan saat jam kosong adalah: 1) Ngegosip 2) Tidur 3) Maen Hp 4) Pacaran (bagi yang pacarnya satu kelas) dan 5) Berbuat onar.
Mungkin karena bosan dengan hal nomer 1 sampai nomer 4, maka saat itu yang terlintas dipikiranku adalah membuat onar. Tapi bukan keonaran yang sangat beresiko bagi keselamatanku tapi keonaran yang membuat semua anak dikelas ikut serta sehingga nanti kalo dihukum sama-sama hahaha.

Terlintas dipikiranku untuk mengganggu ketentraman si naruto ini. Tapi apa??? Setelah berfikir keras sampai mandi kembang tujuh rupa, akhirnya aku menemukan ide untuk memborbardir dia dengan gumpalan-gumpalan kertas yang dilempar kepadanya dengan intensitas dan kuantitas yang banyak. *gila bahasanya, mahasiswa banget* hahaha. Sedikit demi sedikit demi sedikit aku mulai menyebarkan rencanaku ini ke teman sebangku, teman sebangku ke teman sebangku, teman sebangku sebangku keteman sebangku teman sebangku sebangku sebangku keteman sebangku dan begitu seterusnya sehingga rencana ini diketahui anak-anak satu kelas kecuali dia.

Si naruto ini kebetulan posisinya adalah sedang tidur dengan posisi setengah badan di bangku. Jadi dia tidak tau apa yang kita rencanakan kepada dia. anak-anak sudah mempersiapakan semua gumpalan-gumpalan kertas yang akan dilempar kepadanya. Instruksi saat itu adalah gumpalan kertas tapi entah gara-gara kreatif atau yang lainnya, ada anak yang menyipkan sisa nasi bungkus, aqua bekas, roti basi dan lain sebagainya untuk dilempar kepada dia. “ sungguh diluar dugaanku”.

Semua persiapan sudah selesai tinggal eksekusi dan....... 1 2 3 sesuai aba-abaku semua barang berterbangan ke arah si naruto ini sampai dia bangun dan kaget. Semua murid langsung pura-pura seperti tidak punya dosa. Mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang pura-pura tidur, pacaran, gosip dan lain sebagainya. Si  naruto ini kemudian marah, bangun dari kursinya sambil melihat kesekeliling sambil dia mencari dan menebak-nebak siapa pelaku kejahatan yang telah mengganggu ketenangan tidurnya tadi.

Dengan muka sambil mengeluarkan aura-aura rubah ekor sembilannya, si naruto ini menggebrak meja sambil berkata “siapa yang melempar semua ini padaku?” anak-anak yang tadi melempar serasa gak punya dosa semua, mereka kembali kekegiatannya masing-masing. Kemudian si naruto ini menunjuk semua anak yang memang didalam kelas selalu menjadi biang keonaran “kamu, kamu, kamu. Kalian gak bakal bisa pulang”. Anak-anak yang ditunjuk malah pada ketawa semua gak malah terancam. Dalam benak mereka itu hanyalah gertakan semata. Ooiya apakah aku termasuk yang diancam sama si naruto? Tentu tidak. Aku kan anak baik-baik dan lugu hahaha.

Jam pulang sekolah berbunyi, setelah berdoa kami bergegas meninggalkan kelas. Tapi tak diduga-duga kepala sekolah sudah menutup pintu keluar dari kelas kami. Ternyata ancaman sinaruto benar adanya, bukan hanya sekedar gertakan sambal. “siapa tadi yang jadi biang keonanaran? Ngaku!!!” teriak kepala sekolah. Kami tetap diam pura-pura gak punya dosa. Tiba-tiba naruto yang menunjuk anak-anak yang tadi ia tunjuk sebelumnya. Merekapun dipanggil kepala sekolah. Mereka yang dipanggil keesokan harinya harus datang kesekolah dengan membawa orang tua mereka masing-masing. Oh kasiannya temen-temanku yang malang. Aku? Lolos dari segala tuduhan meski aku sebagai provokatornya hahaha (tak tau diri).

Berpindah kepada prestasi. Dikelas 3 ini aku terpilih menjadi siswa terbaik nomer 1 di jurusan IPS. Bayangkan, orang semalas aku ini bisa jadi murid terbaik. Padahal dikelas juga aku tidur mulu tapi kok bisa menang. Heran kan? Apalagi aku. Jadi ceritanya gini, pada minggu-minggu pertama kenaikan kelas, selalu diadakan upacara bendera. Kalian pasti malas kan kalau ada upacara bendera, sama aku juga haha. Pagi-pagi datang kesekolah terus dijemur kayak ikan asin. Oh panasnya membabi buta sekali pemirsa. Tapi sebagai warga negara yang baik, aku harus tetap melaksanakannya. Menghormati bendera merah putih dan menyanyikan lagu indonesia raya dengan jiwa patriotisme.

Tapi hal paling membosankan dari upacara adalah mendengarkan kepala sekolah berpidato. Haduh itu rasanya serasa ingin berteriak “sudah cukup pak cukup kami tidak kuat berdiri”. Sudah lama, pidatonya tidak kami mengerti lagi, sumpah bad banget. Pidato selesai menandakan bahwa upacara pun akan segera selesai, tapi tiba-tiba ada ekstra time. Semua murid sudah capek untuk berdiri sampai ada yang pura-pura pingsan biar bisa mengakhiri upacara lebih cepat. Ekstra time disini adalah pengumuman siswa terbaik. Tahun-tahun sebelumnya gak ada acara kayak gini. Memang gak ada atau aku yang gak tau ya? Hahaha.
Beasiswa dibagikan bagi siswa kelas 1 yang naik kelas 2 dan kelas 2 yang naik kelas 3. Hadiahnya? Potongan spp bro. Beasiswa 1, 6 bulan spp gratis, beasiswa 2, 4 bulan spp gratis dan beasiswa 3, 2 bulan spp gratis. Kan lumayan spp gratis. Minta ortu spp untuk tetap bayar padahal gratis hahaha (durhaka, koruptor kecil). Tapi dalam benakku saat itu, gak  mungkin aku menang. Paling-paling yang menang itu melly, anak kelas sebelah yang memang pintar dan dibangga-banggakan oleh guru-guru.

Pengumuman pun dimulai. Satu demi satu pemenang maju kedepan para siswa yang sedang baris. Dengan senyum pepsodent, terlihat wajah bahagia mereka. Wajah bahagia karena akan mengkorupsi uang spp hahaha. Yang terakhir adalah pengumuman kategori anak IPS kelas 3. Mulai dari yang nomer 3. “untuk beasiswa ke 3 anak IPS jatuh kepada.....” suara senar drum bergemuruh “treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkk, cessss” “baidowi dari kelas XII ips 2”. Semua anak kelas tiga bertepuk tangan. Jujur aja dia emang anak yang kurang mampu dan dia selalu tekun dalam belajar, jadi wajar kalau dia beasiswa. Kemudian “untuk beasiswa 2 adalah........” suara senar drum kembali bergemuruh  “treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkk, cesss” “mely dari XII IPS 1” dalam benakku “wah mely kok beasiswa 2 ya. Trus beasiswa satunya siapa ya?”. Anak-anak kelas 3 yang tadinya tidak semangat dalam pembacaan beasiswa ini menjadi ribut sendiri. Bagaimana tidak, hasil prediksi mereka salah semua. Mely yang paling pintar seangkatan malah jadi beasiswa 2, trus siapa yang beasiswa 1?. Kami pun bersorak untuk satu nama. “indra bayu alias jisunk” hahaha. Kami kompak mengumandangkan namanya setelah tahu mely beasiswa 2. “indra bayu, indra bayu, indra bayu” teriak semua anak kelas 3 secara kompak. Sampai-sampai anak kelas 1 dan 2 tertawa dan ikut meneriakkan namanya. Si jisunk ini sampai salah tingkah karena namanya dielu-elukan oleh teman-temannya. Moderatorpun mengumumkan beasiswa 1nya “dan beasiswa satu jatuh pada.........” semua anak kompak berteriak “indra bayu” tapi moderator tidak menyebutkan nama indra bayu melainkan nama “prabu”. Anak-anak tetap sibuk meneriaki nama indra bayu, aku juga. Menghiraukan kalau namaku yang dipanggil. “sekali lagi kepada saudara prabu diharapkan maju kedepan” aku yang terlalu sibuk meneriaki nama indra bayu sampai tidak sadar kalau aku yang menang beasiswa 1 hahaha

Aku menanyakan ke teman sebelah “kenapa harus aku maju?” “kamu yang menang beasiswa 1” jawab mereka. “ hah aku?” dengan tidak percaya akupun maju kedepan sambil menggaruk kepalaku karena heran, “kenapa aku bisa menang?” wah jangan-jangan ini adalah candit camera. Sebenarnya aku tidak menang dan hanya acara usil saja. Tapi ternyata tidak, aku yang menang. Beneran menang. Sumpah aku tidak percaya. Hahaha. Selama 12 tahun aku bergelut didunia pendidikan, ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan penghargaan. Amazing....

Acara upacara selesai, anak-anak sibuk meminta traktiran kepadaku. “cieeee prabu menang beasiswa 1, mustahil sebenernya kamu kan tukang tidur dikelas”
“kamu aja heran apalagi aku?” jawabku sambil tertawa
Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, orang yang harus mendengarkan kabar mengejutkan ini adalah “mamaku”. Ia dia harus tau kalau anak yang selama ini ia prediksi sebagai anak yang malas dan bodoh ternyata bisa mendapatkan beasiswa 1 beasiswa. Hahaha. Antara percaya atau tidak mamaku memang lebih berat kepada tidak percayanya bahwa aku dapet beasiswa. Tapi ini sungguhan bukan pembohongan publik semata haha.

Dapet beasiswa itu membanggakan, apalagi telah mengalahkan anak paling pinter seangkatan. Didunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin. Selain bangga, reputasipun bertambah. Tapi ada gak enaknya juga, gara-gara aku jadi siswa berprestasi, aku sudah tidak bisa tidur dikelas lagi. ntar kalo aku keseringan tidur dikelas yang ada guru-guru bilang “ ini anak dapet beasiswa kesatu tapi dikelas kerjaannya tidur, kayaknya kita salah pilih”. Bisa-bisa gelarku dicopot, trus sppku gak jadi gratis, trus aku gak jadi korupsi uang spp buat jajan. Kan berabe ceritanya. Tapi marilah nikmati hasil kerja keras kita. Menjadi lebih baik itu kadang selalu ada hikmahnya *betul tidak?* *betul, betul betul*.

Prestasiku tidak berakhir sampai situ saja. Ada lagi? tentu ada. *sombong*. Kali ini ketika aku mengikuti lomba mata pelajaran antar yayasan yang menaungi sekolahku. Kebetulan ada 3 sekolah yang ikut berkompetisi tapi yang mengikuti lomba mata pelajaran satu dengan yang lain tidak boleh sama. Dan satu tim terdiri dari kelas 1 kelas 2 dan kelas 3 jadi intinya semua generasi berada didalam satu tim agar kekuatan pikirannya bertambah kuat. Katanya.

Yang aku ingat mata kuliah yang dilombakan saat itu adalah dikategori IPA ada fisika, kimia dan biologi, kemudian di kategori IPS ada geografi, sejarah, dan sosiologi. Sedangkan bahasa indonesia, bahasa inggris dan matematika menjadi kategori campuran.
Guru-guru sudah mulai merekrut siswa-siswi berprestasi dari semua generasi yang tersedia. Jadi intinya siapa cepat dia dapat. Nah yang paling apes adalah guru matematikaku. Karena dia santai tidak mencari siswa-siswi yang harus mewakili mata pelajarannya, dia hanya mendapatkan siswa-siswi sisa. Sisa yang dimaksud adalah jika ada rangking satu-sepuluh maka dia hanya kebagian siswa yang rangking sepuluh. Dalam lomba ini, bukan hanya citra sekolah yang dipertaruhkan tapi citra seorang guru dipertaruhkan. Apakah mereka memang guru-guru terbaik dibidangnya.

Nah kembali keguru matematika. Karena dia telat merekrut siswa-siswi terbaik yang ada, dia kebingungan untuk menentukan anggota tim untuk mata pelajarannya. Saat itu kebetulan mata pelajaranku adalah matematika. Dan dia mengabsen semua murid pintar dikelasku apakah meraka sudah mewakili mata pelajaran lain atau belum.

“lusi?” teriaknya

“iya pak?” jawab lusi

“kamu mewakili matematika ya, ikut tim saya”

“tapi saya sudah disuruh mewakili bahasa indonesia, coba baidowi pak atau meli”

“mereka sudah dipilih sama guru lain juga, jadi siapa ini yang saya pilih”

Pandangan guru ini tiba-tiba beralih kepadaku. Aku sih pura-pura gak liat. Kenapa? Karena males, males harus belajar intensif demi lomba.

“prabu?”

“iya pak?”

“kamu aja yang mewakili matematika”

“tapi pak, saya gak jago itung-itungan” cobaku mengelak

“sudah nanti bapak yang ajari intensif”

Matilah sudah, mendengar kata intensif aku jadi makin males. Tapi mau gimana lagi sudah dipilih dan harus dijalani dari pada nanti aku beasiswaku dicopot. Sekali lagi aku tekankan, aku menang beasiswa bukan karena pintar tapi karena HOKI.

Setiap hari aku harus belajar matematika diperpus sendirian. Soalnya anggota timku yang lain belum ditentukan. Rasa malas menghantuiku. Tapi rasa malasku sedikit hilang ketika tau siapa anggota timku. Dia adalah Lidia, pacarku sendiri. Aku sempat terkejut kenapa dia jadi anggota timku. Jangan-jangan ini guru salah pilih. Yang ada kalau aku menduetkan otak kami, bukan kemenangan yang didapat tapi malah kehancuran. Karena bisa aja maslah rumah tangga kami bawa keperlombaan. *cie rumah tangga*

Hal yang aku pikirkan pertama kali saat itu adalah “sial banget pacarku jadi anggota timku, yang ada ntar gak fokus ke perlombaan malah bertengkar” maklum aku dan dia memang terkenal sering bertengkar tapi ujung-ujungnya selalu akur. Aku juga heran kok bisa kayak gitu. Tapi ya sudahlah terima apa adanya. Aku kasih tau ya, si lidia ini memang pinter, iya pinter nyontek dan nyalin jawaban. Tiap malam kalau ada ujian UTS, UAS atau harian, aku selalu menemani dia. bkan menemani di belajar tapi menemani dia menyiapkan jawaban yang ditulis kecil-kecil alias “kerpekan” kalau kata orang jawa. Sumpah ini guru salah pilih anggota tim. Aku tukang tidur, si lidia tukang ngerpek. Trus gimana anggota timku yang satu lagi? guruku memilihnya secara random. Jadi ada anak kelas X yang lewat trus dia rekrut.

Dia bilang kepadaku dan lidia “ kalian berdua saja sudah cukup buat perlombaan ini, yang kelas satu Cuma pelangkap aja”
Dalam pikiranku “ ini guru belum tau sifat asliku dan si lidia”
Tiap hari kami harus pura-pura belajar matematika secara intensif diperpus. Sampai serasa otak mau terbakar. 10 soal harus kami kerjakan dalam waktu 10-15 menit. Kalian bisa rasakan bagaimana rasanya ketika mengerjakan soal seperti ini. Apalagi soal dan jawabnnya kayak bahasa sangsekerta gitu, sulit dipahami. Selama satu minggu kami harus bergelut dengan soal-soal yang merusak mata. dan tibalah hari perlombaan.

Perjuangan kami dalam memahami soal-soal latihan, hari ini diuji. Selama 2 jam kami harus mengerjakan soal yang ada. awalnya kami tenang-tenang aja karena merasa yakin bisa mengerjakan tapi OMG setelah soal dibagiakan, semua tulisan dan angka serasa huruf sangsekerta. Aku melihat lidia sambil tertawa dan berkata “soalnya gampang sekali ya”
“gampang gundulmu” jawabnya.
Bagiku, soal ini lebih susah dari pada soal unas yang aku pelajari. Sungguh terlalu ini soal. Tapi untungnya jawabnya adalah ABCDE jadi ya kalau gak bisa tinggal hitung aja kancing yang ada dibaju. Selesai. Dari 30 soal. Aku hanya bisa mngerjakan 3, lidia 2 dan anak kelas satu 2. Jadi masih ada 24 soal yang masih belum terjawab. Masa iya ke24 jawab ini harus aku dapatkan dari menghitung kancing baju?. Saking pintarnya aku, aku melirik kelompok sebelah yang kebetulan adalah tim matematika dari sekolah tetangga. Dengan cara curi-curi pandang seperti kita sedang melihat orang yang diam-diam kita sukai. Mereka mengakat lembar jawabannya keudara seakan mereka memang sengaja memperlihatkannya pada kami. Ya karena aku sudah frustasi, aku contek aja jawaban mereka. Tentang hasil akhirnya bagaimana nanti saja pokoknya ini lembar jawaban terisi penuh. Dengan stategi curi-curi pandang akhirnya jawaban kelompokku lengkap sudah. Antara yakin dan tidak yakin kami kumpulkan lembar jawaban itu.

Proses penilaian dilakukan setelah 30 menit perlombaan selesai. Teman-temanku yang mewakili mata pelajaran lain, deg-degan menanti hasil pengumuman siapa yang menang. Sedangkan kelompokku? kami santai seperti tidak punya dosa. Soalnya kami memang sudah pasrah jadi tidak mengaharapkan jadi juara. Itu lembar jawaban terisi aja sudah bersyukur.
Penggumuman juara pun segera dibacakan. Dengan suara dari speker yang keras, ketua yayasan membacakan hasilnya. “terima kasih kalian telah berpartisipasi dalam perlombaan ini, dan saya disini akan menggumumankan siapa saja pemenangnya”.

Semua peserta menundukkan kepala dan berdoa berharap menang. Aku? Menundukkan kepala dan berdoa “cepat bacakan hasilnya supaya bisa cepat pulang”.
Yang pertama dibacakan adalah juara untuk mata pelajaran sosiologi. “untuk mata pelajaran sosiologi jatuh kepada sekolah A”. Ternyata sekolahku lah yang menang. Mereka bersorak kegirangan serasa mendapatkan jackpot dari mesin pacinko. “selanjutnya untuk kategori matematika, jatuh pada sekolah A”. Eh ternyata gak disangka, timku menang. Bukan senang seperti tim lainnya ketika menang, kelompokku hanya tertawa terbahak-bahak. Ya sapa yang mengira dari stategi curi-curi pandang kami bisa menang juara satu hahaha. Inti dari pengumuman perlombaan ini, hampir 90% yang juara adalah dari sekolah kami. Hebatkan?

Keesokan harinya saat upacara *upacara lagi upacara lagi*. pemenang dari lomba yang ada mendapatkan hadiah dan penghargaan dari kepala sekolah. Yang jadi sorotan saat itu adalah aku dan lidia. Bagaimana tidak, aku dan dia sepasang kekasih yang menerima penghargaan karena menang lomba berkelompok. Dalam pikiran guru-guru mungkin berkata seperti ini “ contohlah prabu dan lidia, pacaran positif, belajr bersama terus ujung-ujungnya menang lomba”. Bapak ibu sekalian, sekali lagi saya tekankan, kami tidak pintar rapi kami cerdas. Yang satu cerdas dalam hal ngerpek yang satu cerdas dalam hal curi-curi pandang. Tiap hari kamu tidak belajar tepi nonton TV dan bertengkar. Gak ada acara belajar bersamanya sama sekali.
Ya begitulah cerita kecerdasanku yang didasarkan dari kehokianku. Jujur aja aku gak pinter, tapi kebetulan aku cerdas dan penuh keberuntungan. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar