Jumat, 17 Juli 2015

Rindu Kampung Halaman

Surabaya… ya inilah kota yang sekarang aku tinggali bersama keluargaku semenjak tahun 2000-an kami meninggalkan bandung si kota kembang. Surabaya termasuk kota yang bersih, damai, tentram, penuh taman, ibu walikota yang dibanggakan masyarakatnya, sampai anak-anak gaul yang gaul abiezz banyak terdapat di kota ini. Jika dihadapankan pada pertanyaan pilih Surabaya atau bandung? maka aku akan pilih Surabaya, bukan karena bandung gak enak untuk di tinggali tapi semua kenangan berada di kota pahlawan ini, rumah baru, teman baru, sahabat baru, pekerjaan baru, pacar baru (hahaha) dan semuanya yang baru pokoknya. Memang sih dibandingkan bandung Surabaya kurang dengan alam terbuka dan itu kadang yang aku rindukan dari bandung, udara segar, gunung yang menjulang tinggi, hantaran taman yang enak untuk dijadikan tempat piknik, makanan khasnya, sampai awe-awe kota bandung yang aduhai. Hahaha. 

Sekarang sudah memasuki tahun 2015, dan sudah 2-3 tahun terakhir aku tidak pulang ke bandung seperti bang toyib yang dicari istrinya karena gak pulang-pulang. Bukannya sok sibuk tapi emang beneran sok sibuk hahaha. Orang tuaku sering pulang ke Bandung tapi setiap mereka pulang aku selalu ditinggalkan. Sedihnya. Hari ini adalah hari raya idul fitri 1436 Hijriah (minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin bagi semua umat islam didunia ini semoga kita semua kembali fitrah. Amien). Sambil menulis cerita ini aku merindukan suasana berkumpul dengan keluarga besarku dikota Bandung. Ketupat, opor ayam, sambel goreng kentang, THR dari keluarga dan saudara (meski pendapatan semakin berkurang), berkumpul dengan sepupu-sepupuku yang rempong, ponakan-ponakanku yang riweh, sampai om-om tanteku yang gaul-gaul abis. Hanya saja yang tak ada semenjak 3 tahun terakhir ini adalah nenek dan kakekku, ya mereka sudah tenang berada disurga sana. Tapi meski mereka sudah tidak ada keluarga besar tetap berkumpul di kediaman keluarga besarku untuk bersilaturahmi. Yang dekat mendekat yang jauh merapat yang disurabaya hanya bisa meratap. Tak bisa pulang :( . 

Biasanya pada hari H idul fitri seperti ini kami berkumpul sambil melakukan orkes tunggal. Bisa dibilang keluarga besarku adalah keluarga yang kental dengan musik jadi semua peralatan untuk melakukan konser bertajuk kembali fitrah sudah tersedia. Biasanya acara ini di dominasi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak golongan senior. 

Oiya ikeluarga besarku ada 4 golongan yaitu : 
a. Golongan Senior (Golongan Satu) Golongan yang beranggotakan ibu-ibu dan bapak-bapak yang memasuki usia 35 tahun keatas, sudah memiliki anak, cucu, tidak memiliki cicit, mempunyai hak penuh untuk memberi THR untuk golongan dibawahnya, dan yang terakhir mereka gaul abis.

b. Golongan ibu-ibu dan bapak-bapak muda (Golongan Dua) Golongan yang beranggotakan ibu-ibu dan bapak-bapak yang memasuki umur 25-34 tahun, sudah memiliki anak, rempong, suka bergosip tentang popok bayi, memiliki tulisan-tulisan alay jika mengetik pesan pada blackberry messeger (BBM), memiliki setengah hak untuk memberikan THR kepada golongan anak-anak balita dan batita dan tak lupa mereka gaul abis banget. 

c. Golongan Gengster Bala-Bala (Golongan Tiga) Inilah golongan dimana sekarang aku berada, golongan yang beranggotakan para pemuda pemudi berusia 15-24 tahun. Masih duduk dibangku SMP, SMA, Kuliah dan bekerja tapi belum menikah, kekinian, yang dibahas masalah percintaan dan pergi traveling, suka memasang status galau dimedia sosial, dan masih belum memiliki hak untuk memberikan THR (cukup seiklas dan semampunya). 

d. Golongan Balita dan Batita (Golongan Empat) Golongan anak kecil yang masih menyusui sampai pada tingkat sekolah dasar, masih sering suka menangis, tingkahnya seperti minion yang dengan buas akan menjadikan golongan gangster bala-bala sebagai sasaran kejahilan dan kepolosan mereka, mengigit, mencakar, menjambak dan mengompoli adalah keahlian mereka, memiliki hak penuh untuk menerima THR karena bisa dikatakan dengan diberi THR mereka akan duduk manis kemudian tidur dipangkuan orang tuanya masing-masing dengan wajah bahagia.

Kembali ke acara hari H yang di dominasi golongan satu, golongan dua bisa sesekali menyumbang lagu namun golongan Tiga hanya bisa berjoget sambil bertepuk tangan dan golongan empat hanya bisa teriak-teriak sambil berjoget tak karuan. Biasanya untuk menghapus kekecewaan karena tidak bisa bernyanyi, kelompok golongan tiga akan pergi ke Nav Karauke (karaoke keluarga) untuk menyalurkan hobi dan kekecewaan kami. Bermodalkan keberanian dan kenekatan, suara tak bagus tetap goyang dan teriak, bernyanyi bersama menjadi lebih menyenagkan karena penuh dengan canda tawa. Lagu yang dipilih adalah lagu yang sedang menggambarkan suasana isi hati. Galau dan riang gembira menjadi satu dengan kekuatan suara yang kadang merusak telingga.

Kemudian H+1 lebaran keluarga besarku akan pergi untuk makan-makan di tempat yang menarik contohnya seperti di ciwidey. Menikmati indahnya kebun strawberry yang bisa dipetik sendiri dan langsung dimakan tanpa bayar kalau gak ketahuan (kalau ketahuan ya harus bayar), udara sejuk dipagi hari, udara dingin yang dapat menusuk tulang dimalam hari, bandrek yang dapat menghangatkan tubuh, bergadang sambil bercerita keluh kesah, makan ikan bakar dengan daun pisang sebagai wadahnya dan lain sebagainya. Aku ingat ketika pergi ke ciwidey 4-5 tahun yang lalu dimana aku harus tidur di teras kamar hotel karena kehabisan kamar untuk bermalam, bayangkan saja kami hanya kebagian 2 kamar tidur dengan isi 2 kasur besar dan ekstra bed tetapi 2 kamar itu harus diisi oleh 30 orang dari keluarga kami mulai dari yang muda sampai yang tua. Ya sebagai pemuda yang memiliki kesehatan dan keberanian yang mempuni harus rela berkorban tidur dibaluti selimut dan ditemani satu buah bantal untuk tidur di teras kamar. Udara dingin, bintang bersinar yang ssangat indah, suara kendaraan bermotor yang lalu lalang, nyamuk yang hinggap menumpang pada selimutku karena sama-sama kedinginan, sampai kepada pandangan orang sekitar yang melihatku dengan tatapan dan pertanyaan “gelandangan dari mana ini kok bisa tidur disana?”. Ya bagaimana pun kulakukan ini semua demi berkumpul bersama keluarga. 

Terus yang kurindukan lagi ketika pulang ke kampung halaman adalah pergi bersama gangster bala-bala. Mengelilingi kota bandung yang penuh kemacetan, kuliner dengan nama-nama yang kadang tidak masuk akal, wahana rekreasi yang mempuni, sampai melakukan kegiatan yang tidak masuk akal seperti berteriak di sepanjang jalan sambil mencari tempat-tempat angker di daerah bandung. Berbekal koneksi internet dan mbah google, waktu itu kami Sembilan pemuda-pemudi yang tampan dan cantik jelita berkeliling kota bandung. Tak tau apa yang harus di cari maka kami menulis “tempat-tempat angker di kota Bandung”. Muncullah saran dari mbah google. Rumah kentang, SMA komplek Bandung, Boneka yang tergantung disalah satu pohon kota bandung, dan ambulan hantu . layaknya petualang seperti di film antara ada dan tiada, kami pura-pura sok jago untuk mendatangi tempat-tempat berhantu itu. 

Tempat yang pertama kali kami datangi adalah SMA komplek bandung, bukannya mendapati kemistisan yang diharapakan, malah bancilah yang datang menggoda. Di dekat perempatan SMA komplek bandung kami bertemu banci mangkal yang lagi nyanyi “aku tak mau jikalau aku dimadu”. Jakun yang menonjol, riasan muka menor yang menyala, dress seksi yang meningkatkan gairah siapapun yang memandang dan senjata andalannya bass betot dan sebuah kecrek. Kami hentikan mobil tepat di samping bencong yang menyanyi. Sambil menunggu lampu merah kami pun menggodanya. Membuka jendela sambil ketakutan melanda. Ya gak takut gimana, digrape grape mampus dah kita nanti. Salah satu sepepuku yang bernama lutfi berani menggodanya “ eh cakep nyayi dong buat kita2 “ Tanpa basa basi si banci bernyanyi dengan suka ria demi menghibur dan mendapatkan imbalan uang receh. Dengan perasaan takut di grepe-grepe ku beranikan mengeluarkan tanganku untuk memberikan uang receh, namun sebelum uang itu sampai ditangannya, mobilku sudah dipacu oleh lutfi dengan kencangnya. Banci yang merasa terhina dengan perlakuan kami itupun langsung berteriak “ Anji*g” dengan suara laki-lakinya. 

 Antara lucu dan kasihan kamipun melanjutkan perjalanan kami ke rumah kentang. Rumah yang konan akan tecium bau kentang meski tidak ada tanaman kentang di sekitar rumah tersebut. Jaman dahulu kala menurut cerita orang sekitar, rumah itu sedang melakukan acara syukuran besar-besar dan si tuan rumah sedang memasak sop kentang di panic yang sangat besar. Tanpa terduga salah satu anaknya yg masih balita masuk kuali kuah kentang tersebut dan akhirnya jadilah lagenda rumah kentang. Ya percaya gak percaya begitulah ceritanya. Memang sih aku mencium aroma kentang di dekat rumah tersebut tapi kalau dipikir-pikir ya gak ada seram-seramnya Cuma bau kentang aja. Tapi namanya juga menghilangkan rasa penasaran jadi ya dibawa enjoy aja. Sebenarnya kami jalan-jalan mengelilingi kota bandung dimalam hari dikarenakan salah satu saudaraku febby yang menyandang predikat kepala suku, karena paling tua (beda satu tahun sama aku), paling dermawan (hobi mentraktir kami yang masih muda) sedang galau. Katanya sih putus sama pacarnya yang uda hampir 4 tahun bersama membina bahtara perpacaran. Putus karena perbedaan prinsip hidup membuat febby sangat ingin menghibur dirinya kala itu. 

Hal yang ia lakukan adalah berteriak di sekitar jalan yang kami lalui. Antara malu dan takut kami turuti perintahnya. Malu karena dikira menculik seorang gadis dan malu karena dikira anak-anak sakau karena menghirup gas kentut atau takut di lempar orang pinggir jalan dan takut galaunya semakin menjadi-jadi. “aaaainnggggg galau aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriaknya. Arti dari aing galau adalah aku galau. Dengan berulang kali dia berteriak seperti itu sepanjang jalan kami tertawa bersama berusaha menghibur sampai semua merasa baikan. Beginilah saudara yang menjadi sahabat saling menghibur satu sama lain. Kadang saat saudaraku ke Surabaya maka aku akan menjadi supir mereka mengantarkan berkeliling menikmati indahnya kota Surabaya dan begitu sebaliknya jika kau ke Bandung. 

Masih banyak lagi sih yang aku rindukan di kota bandung tetapi tetap aku merasa jika terlalu meninggalkan kota Surabaya maka aku akan lebih rindu ingin pulang. Berulang kali orang tuaku berencana untuk pindah kembali ke Bandung tapi entah mengapa aku tidak ingin pindah kesana. Aku lebih suka menjadikan kota Bandung sebagai kota wisataku bersama keluarga. Bertemu keluaga besar, menikmati indahnya alam yang ada disana, berkumpul dan melakukan keseruan yang hanya bisa dilakukan disana dan lain sebagainya. 

Bagaimanapun aku tidak pernah kecewa untuk pindah ke kota Surabaya. Kota pahlawan yang penuh kenangan. Dan dimana aku sekarang ingin menghabiskan sisa hidupku untuk berkarir sampai membahagiakan orang tuaku. Amien.

1 komentar:

  1. Casinos Near Harrah's Resort and Casino, Harrah's Resort - Mapyro
    › harrahs-resort-and-casino › harrahs-resort-and-casino Find 10 Casino Near Harrah's 문경 출장샵 Resort and Casino, 군산 출장안마 LA 밀양 출장샵 from Mapyro. 천안 출장안마 Browse through 1000 slot machines, table games and live 성남 출장샵 entertainment!

    BalasHapus